Sembilan Alasan Nasaruddin Umar Dinilai Ideal Nakhodai PBNU Mendatang
https://kabarcirebon.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-2939800308/sembilan-alasan-nasaruddin-umar-dinilai-ideal-nakhodai-pbnu-mendatang
*Sembilan Alasan Nasaruddin Umar Dinilai Ideal Nakhodai PBNU Mendatang*
Kabar Cirebon - 18 Nov 2025,
*KABARCIREBON*- Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, yang juga Pengurus PBNU periode 2010-2015, KH. Imam Jazuli menyampaikan, hajatan pergantian kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, sudah mampak di depan mata.
Menjelang Muktamar ke 35 awal 2026 mendatang, kata dia, muncul satu nama yang kuat menjadi Ketua Umum PBNU, yaitu KH. Nasaruddin Umar, yang saat ini menjabat sebagai Menteri Agama RI, muncul sebagai salah satu kandidat potensial yang paling layak.
Meskipun masa jabatannya sebagai Menag relatif baru (21 Oktober 2025), namun rekam jejaknya dalam memajukan kehidupan beragama di Indonesia sudah terlihat jelas. Bebarapa yang perlu disebut adalah adanya harmonisasi antar umat beragama. Sebab salah satu fokus utama kepemimpinan Nasaruddin Umar adalah menciptakan dan memelihara perdamaian serta kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Pendekatan teosofi Islam yang toleran dan berwawasan luas menjadi landasan bagi upayanya ini.
“Kemudian adanya apresiasi publik yang tinggi. Kita ingat, dalam 100 hari kerja pertamanya sebagai Menteri Agama, Nasaruddin Umar menerima apresiasi kinerja yang sangat baik dari berbagai lembaga, seperti Center of Indonesia Strategic Actions (CISA) dan Litbang Kompas. Ia bahkan meraih citra positif tertinggi di antara menteri-menteri Kabinet Merah Putih, dengan lebih dari 95% responden memberikan nilai baik atau sangat baik terhadap kinerjanya,” ujar Kiai Imam.
Indikasi lainnya lanjut dia, adalah, upayanya untuk memajukan pendidikan keagamaan. Ia dinilai berhasil dalam mengimplementasikan program-program prioritas, termasuk memperkenalkan "kurikulum cinta" dalam pendidikan keagamaan, yang menginspirasi pembangunan pemerintahan yang bersih dari praktik KKN.
Di luar jabatan menterinya, Nasaruddin Umar juga dikenal sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal sejak tahun 2016, di mana ia menjadikan masjid tersebut sebagai pusat peradaban inklusif dan tempat berkumpulnya para pemimpin lintas iman, serta program penguatan etika kerja dan pelayanan publik.
“Sejak awal menjabat, ia bertekad untuk memperkuat etika kerja dan meningkatkan pelayanan publik di lingkungan Kementerian Agama. Dengan rekam jejak yang solid, intelektualitas yang diakui, dan pengalaman kinerja tingkat tinggi, berikut sembilan alasan tajam yang mendasari kelayakannya,” ungkap Kiai Imam.
Oleh karena itu, lanjutnya, Nasaruddin Umar banyak yang menilai paling layak menjadi Ketua PBNU mendatang pada Muktamar 35 mendatang, setidaknya ada sembilan alasan kuat.
*Pertama,* adanya pengalaman kepemimpinan dan keagamaan. Sebagai Menteri Agama, Nasaruddin Umar memiliki pemahaman mendalam tentang lanskap keagamaan di Indonesia, termasuk tantangan pluralisme dan moderasi umat beragama. “Pengalamannya memimpin kementerian besar memberikan kapasitas manajerial yang dibutuhkan untuk organisasi sebesar NU,” ujarnya.
*Kedua,* menurut Kiai Imam, adanya jaringan Internasional dan diplomasi global. Nasaruddin Umar dikenal memiliki jaringan luas di kancah internasional. Ia telah meluncurkan berbagai forum akademik dan inisiatif diplomasi perdamaian, termasuk isu-isu global seperti konflik Gaza. Jaringan ini krusial untuk membawa NU ke panggung global, memperkuat peran "Islam Nusantara" sebagai model moderasi dunia.
*Ketiga,* adanya jejak intelektual dan akademis. Sebagai seorang Guru Besar dan mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, latar belakang akademisnya tidak diragukan lagi. “NU membutuhkan pemimpin dengan visi intelektual yang kuat untuk menjawab tantangan zaman,” ungkap sebuah pandangan umum di kalangan akademisi, dan Nasaruddin Umar merepresentasikan sosok tersebut.
*Keempat,* adanya pengarusutamaan moderasi beragama. Nasaruddin Umar adalah inisiator dan pendukung utama program moderasi beragama di Indonesia. Sikap ini selaras dengan prinsip tawassut (moderat) yang diusung NU. Visinya tentang Islam yang inklusif dan toleran sangat diperlukan untuk menangkal radikalisme.
*Kelima,* sebagai figur pemersatu (rroubleshooter). Dalam berbagai kesempatan, Nasaruddin Umar berkumpulnya persatuan dan ketenangan di tengah perbedaan. Apalagi secara geografi ia berasal dari suku non Jawa yang selama ini dikesankan NU Centris. “Jadi berpeluang secara pelan-pelan menghapus sekat-sekat ini. Selain itu, kemampuan meredam ketegangan politik dan keagamaan menjadikannya tokoh pemersatu yang dibutuhkan untuk menjaga soliditas internal NU yang majemuk,” katanya.
*Keenam,* lanjut dia, kedekatan dengan pesantren dan ulama. Meskipun berlatar belakang sejarawan dan birokrat, ia tetap memiliki akar kuat dalam tradisi pesantren. Kunjungan dan silaturahmi yang intensif dengan para kiai dan habib menunjukkannya terhadap struktur dan tradisi NU.
*Ketujuh*, punya visi Pembangunan Peradaban. NU didirikan dengan cita-cita membangun peradaban Islam yang humanis. Melalui peran kementerian dan inisiatifnya, Nasaruddin Umar secara konsisten mendorong agar lembaga-lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah dan UIN, tidak hanya mencetak ahli agama, tetapi juga ilmuwan yang berintegritas.
*Kedelapan,* punya kemampuan komunikasi yang efektif. Ia diikenal sebagai orator yang tenang dan berwibawa, ia mampu mengomunikasikan gagasan-gagasannya secara jelas, baik kepada jemaah awam maupun audiens internasional. Ini penting untuk memastikan pesan-pesan PBNU tersampaikan dengan baik.
*Kesembilan,* mempunyai integritas dan kepemimpinan berbasis etika. Dalam berbagai jabatannya, isu integritas menjadi sorotan utama. Nasaruddin Umar secara konsisten menekankan pentingnya integritas dalam memimpin. Hal ini memberikan jaminan kepemimpinan yang bersih dan berwibawa bagi PBNU mendatang.
“Jadi KH. Nasaruddin Umar, menawarkan paket lengkap kepemimpinan yang dibutuhkan NU di era disrupsi ini: intelektualitas modern tertanam tradisi pesantren, pengalaman manajerial tingkat tinggi, dan visi global yang moderat. Kombinasi ini menjadikannya figur yang paling siap dan layak untuk menakhodai bahtera besar PBNU menuju masa depan yang lebih cerah,” pungkas Kiai Imam.***


Posting Komentar