Telusuri
24 C
id
  • Internasional
  • Daerah
  • Bisnis
  • Agama
  • Keluarga
  • Kontak
  • Iklan
Amas Persada News
pasang
  • Home
  • Politik
    • All
    • Politik
    • Pemerintahan
    • Pilkada
    • Tokoh Politik
  • Pemerintahan
    • Pemerintahan
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Organisasi
Amas Persada News
Telusuri
Beranda Gus Yahya yang Banyak Disalahpahami: Kado Ultah ke-60 Gus Yahya yang Banyak Disalahpahami: Kado Ultah ke-60

Gus Yahya yang Banyak Disalahpahami: Kado Ultah ke-60

Redaksi APN
Redaksi APN
17 Feb, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


 Gus Yahya yang Banyak Disalahpahami: Kado Ultah ke-60


Oleh: ANKF (Staqufian)


Gus Yahya—panggilan akrab KH Yahya Cholil Staquf—yang lahir di Rembang Jawa Tengah pada 16 Februari 1966, baru saja genap berusia 60 tahun pada 16 Februari 2026, sebuah usia yang matang untuk perjalanan hidup seorang manusia.


Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Yahya, menurut saya, merupakan sosok yang sering disalahpahami, dan terkadang kontroversial. Ini tak lain karena sesuatu yang ada di dalam dirinya—baik ilmu, wacana, dan pengalaman—begitu kompleks dan menyatu padu.


Pertama, Gus Yahya jelas seorang santri. Ia lahir jebrol di pesantren yang didirikan kakeknya, KH Bisri Musthofa—ulama penggubah Tafsir Al-Ibriz yang terkenal dan masih banyak dikaji berbagai majelis ilmu di Jawa hingga kini. Ia juga sekitar 15 tahun menimba ilmu di Pesantren Krapyak, dan pesantren lainnya, hingga ke Makkah Arab Saudi. Juga istifadah kepada banyak ulama, termasuk—yang sering dikutipnya—KH Sahal Mahfudh dan KH Maimoen Zubair.


Tak hanya di pesantren, Gus Yahya juga menempuh pendidikan formal dengan kuliah di UGM, mengambil jurusan sosiologi, sebuah ilmu yang kemudian mempengaruhinya dalam menganalisis persoalan secara lebih komprehensif. Semasa kuliah, ia juga terlibat dalam aktivisme organisasi, yang sedikit banyak kemudian mengantarkannya terjun ke dunia politik, menjadi juru bicara—sekaligus banyak menyerap ilmu dari—Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).


Terlepas dari banyak kontroversi yang menyelimutinya, dalam pandangan saya, Gus Yahya menandaskan sikap-sikapnya pada tiga hal berikut.


Pertama, agama. Jelas, ia berbicara, bersikap, dan memutuskan berdasarkan pada dalil dan petunjuk agama. Kedua, contoh. Contoh yang dimaksud di sini adalah pengalaman, keteladanan, pemikiran dan petunjuk dari para ulama dan tokoh NU sebelumnya. Ketiga, pertimbangan rasional dan spiritual, hingga konteks sosial-politik. Ketiga faktor ini, saya kira, membuatnya matang dan berani mengambil keputusan—meski terkadang tak populer dan banyak dicibir—ketika diberi amanat memimpin organisasi sebesar NU.


Gus Yahya yang banyak disalahpahami


Ketika diberi amanah memimpin NU, hampir sejak awal ia diliputi kontroversi. Kontroversi ini lahir selain karena pergulatan dan dinamika organisasi juga dipengaruhi ketiga faktor yang sudah disinggung di atas.


1. NU bukan bagian dari partai politik.


Pertama, ketika Gus Yahya menyatakan bahwa NU bukan bagian dari partai politik tertentu. NU, yang selama ini mesra dengan PKB karena memang itu parpol yang dilahirkannya, dipaksa berpisah di era Gus Yahya. Tentu, banyak politisi dan berbagai pihak yang agak kecewa dengan sikap ini, sebuah sikap yang kemudian menjadikan Gus Yahya banyak diserang oleh berbagai kalangan. Namun, juga membawa gestur yang enak bagi pemimpin parpol lain untuk berdekatan dengan NU. NU jadi orang tua bagi semuanya.


Tak hanya itu. Pengurus NU dilarang menggunakan nama NU untuk kontestasi politik. Ia juga melarang kantor NU dijadikan arena suksesi atau pembahasan politik praktis. Mengapa? Banyak hal. Di antaranya, karena jumlah warga NU, menurut berbagai survei, telah berjumlah lebih dari separuh rakyat Indonesia—yang kini jumlahnya sekitar 280juta. Tak adil jika NU ikut berkontestasi politik praktis. Warga NU sudah tersebar di berbagai partai politik, tak hanya di PKB yang mendapat sekitar 16 juta suara pada Pemilu 2024.


Di sisi lain, upaya Gus Yahya ini mendewasakan PKB. Ibarat ibu menyapih anaknya, PKB jadi berpikir kreatif: bagaimana menggalang konstituen tanpa "jualan" nama besar NU, tapi dengan membuat program yang memberi manfaat kepada rakyat, sehingga mereka mau memilihnya. Hal itu menjadikan konstituen PKB meluas.


2. Menata sistem kaderisasi

Ketika baru menjabat sebagai ketua umum PBNU, Gus Yahya mendapati ada dualisme kaderisasi di tubuh NU: PKPNU dan MKNU. Gus Yahya meleburkan keduanya dan menatanya dalam aturan formal organisasi. Kaderisasi ini kemudian terus berjalan dan melahirkan banyak kader penggerak sampai hari ini. 


3. "Menghidupkan" Gus Dur

Gus Yahya melihat gagasan dan gerakan Gus Dur luar biasa menginspirasi. Namun, ia melihat sosok Gus Dur terlalu besar. Untuk itu, ia menggagas bahwa ide-ide Gus Dur harus direalisasikan secara bersama-sama, kolektif kolegial oleh pengurus NU, bahkan dalam tata aturan organisasi. Sehingga, jika era Gus Dur banyak bertumpu kepada sosok, kini bertumpu pada pembagian tugas, khususnya melalui aturan organisasi yang disepakati. Wajar jika dalam sekitar empat tahun ini, PBNU membuat lebih dari 20 aturan perkumpulan, yang menjadi acuan dalam mengarungi dinamika ke depan.


4. Menata Organisasi

Gus Yahya menggagas transformasi organisasi agar rapi, termasuk dengan sistem digital. PBNU kini memiliki Digdaya, sebuah sistem digital untuk menunjang aktivitas organisasi. NU yang sudah sebesar ini, menurut Gus Yahya, tak bisa lagi dikelola dengan cara manual. Kini, aset-aset NU berupa tanah wakaf, misalnya, dapat dilihat secara realtime secara nasional. Semua diatasnamakan Perkumpulan NU, sehingga membatasi pihak-pihak yang tak bertanggungjawab untuk mengalihfungsikannya—suatu hal yang dulu kerapkali terjadi. Ratusan PT-PT yang mengatasnamakan NU atau PBNU juga dibabat, yang membuat geram orang yang selama ini bermain-main.


Suara NU yang dulunya centang perenang, dibuat aturan agar memiliki koherensi. Jika dulu antara PWNU Jawa Timur dan PWNU Jogja membahas masalah nasional dan beda hasilnya, misalnya, ke depan sepertinya tak akan terjadi lagi, sehingga tak membingungkan umat. Suara NU untuk masalah yang penting, terlebih soal-soal nasional, akan satu suara yang mengatakan, meski bisa jadi ada beberapa opsi hasil keputusan. Soal hasil bahtsul masail lokal diserahkan kepada jajaran syuriyah masing-masing keputusannya. Di luar itu, misalnya atas nama lembaga tertentu, sudah di luar tanggungjawab NU. 


Termasuk dalam menata organisasi ini, Gus Yahya cukup total dan radikal, sampai pada gesture. Ia, misalnya, menyarankan pengurus tanfidziyah untuk memakai celana. Selain untuk membedakan dengan syuriyah, juga simbol siap bekerja dan berkhidmah untuk organisasi. Gus Yahya juga membatasi diri dalam forum. Ia jarang mau mengisi pengajian, kecuali dalam forum tertentu, misalnya ia mau karena diundang almamaternya. Di luar itu, pidato-pidato Gus Yahya adalah pidato di forum-forum dan atas nama ketua umum ormas Islam, bukan sebagai kiai yang mengisi pengajian. 


5. Hubungan dengan negara

Di era Gus Yahya, NU melihat negara Indonesia sebagai kubu perjuangan. Tugas NU, menurut Gus Yahya, salah satunya adalah memastikan dan mengawal program negara yang baik mampu dieksekusi sampai ke tingkat paling bawah—dirasakan oleh rakyat. Jika program itu terlaksana, tugas NU memakmurkan rakyat, yang di dalamnya juga termasuk warga NU, akan tercapai. Mengapa itu penting? Karena negara mendapat pajak dari rakyat, dan itu harus disalurkan atau dikembalikan manfaatnya kepada rakyat.


Di titik ini, Gus Yahya banyak mendapat kritik, termasuk dari para aktivis muda NU. Mereka banyak yang ingin NU menjadi pemimpin civil society seperti di era Gus Dur. Namun, Gus Yahya tak setuju dengan hal itu. Selain karena memang beda zaman, di mana dulu NU menghadapi rezim yang represif dan konteks politik sebelum Reformasi, juga perkembangan zaman yang tidak memungkinkan NU menjadi "oposisi" karena NU bukan partai politik.


Meski demikian, Gus Yahya "merestui"—untuk tidak menyebut melarang—kader dan bahkan pengurus atau aktivis NU yang kritis terhadap berbagai kebijakan yang dinilai tidak pro rakyat, atau menyuarakan suara kaum yang tertindas, seperti dalam Kasus Polisi Melindas Affan sampai Kasus Wadas. Berbagai kritik kepada pemerintah itu dapat dilacak di situs resmi NU atau bahkan media lain.


6. Diplomasi Internasional

Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di dunia, NU sudah seharusnya bersuara di tingkat internasional. Gus Yahya pun bertungkus lumus membangun apa yang sudah dimulai pendahulu-pendahulunya, dengan membangun kembali leverage NU di tingkat global.


Di tengah carut-marut ketidakmenentuan dunia dewasa ini, NU harus terlibat aktif dan bersuara. Gus Yahya pun menggalang tokoh-tokoh agama dari berbagai negara untuk saling evaluasi doktrin masing-masing di satu sisi, dan sekaligus memberi kontribusi kemanusiaan di sisi lain. Berbagai forum seperti Fiqih Peradaban, R-20, ISORA, hingga Humanitarian Islam pun digelar. Upaya-upaya ini antara lain adalah untuk ikut menekan kegilaan para politisi dunia yang larut dalam berbagai peperangan dan bahkan genosida, seperti yang terjadi di Palestina.


Memang, banyak yang mencibir Gus Yahya, mulai dari orang awam sampai sarjana yang berkutat pada referensi-referensi tanpa pengalaman aktivisme. Namun Gus Yahya jalan terus, tanpa kendor. Pengalaman bagaimana NU keluar dari Masyumi dan ikut dalam NASAKOM sudah memberinya pelajaran. Juga bagaimana dulu para pendiri bangsa tetap mau berdiplomasi dalam Perjanjian Linggarjati, Perjanjian Renville, hingga Perjanjian Roem Royen kepada para penjajah, memberi pelajaran bahwa jalur diplomasi tetaplah penting. Dua opsi sulit antara pilihan kita untuk berperang ataukah berdiplomasi sudah ia pilih—tak sekadar mengecam atau demo lalu tidur.


Sebagaimana NU dulu lahir salah satunya karena merespons dinamika politik global dengan runtuhnya Turki Utsmani dan pergantian kepemimpinan di Tanah Hijaz, NU di bawah kepemimpinan Gus Yahya juga akan terus aktif menyumbangkan pemikiran untuk kemanusiaan, salah satunya lewat jalur diplomasi. 


7. Khidmah inklusif

Jika sebelumnya banyak orang NU yang selalu menekankan sumbangsih NU kepada Nahdliyin, Gus Yahya memberi perspektif baru: khidmah inklusif. Khidmah NU bukan hanya untuk Nahdliyin atau pesantren semata, namun juga untuk rakyat atau masyarakat secara luas—tanpa membeda-bedakan.


8. Mantra Koherensi

Jika dulu antara PBNU, PWNU, PCNU dan lembaga dan banomnya banyak yang berbeda orientasi, kini Gus Yahya memunculkan mantra koherensi. Gerak langkah NU harus padu antara PBNU sampai anak ranting di tingkat dusun. PBNU melalui Lakpesdam pun menyusun semacam rencana strategis nasional, yang nantinya secara umum diturunkan menjadi program PBNU, PWNU, sampai ke ranting NU. Tentu, ada hal-hal yang bersifat lokalitas yang tetap harus diorientasikan, tergantung potensi daerah masing-masing. Namun, ada kerangka besar orientasi NU yang mesti dituju oleh semua struktur NU dalam rangka mencapai tujuan besar bersama.


9. Visi 25 tahun NU ke depan

PBNU periode ini juga diberi amanat oleh muktamar untuk menyusun roadmap atau peta jalan NU 25 tahun ke depan. Gus Yahya dan jajarannya telah menyusun peta jalan NU sampai 2050 itu, yang kini sedang tahap uji publik. Roadmap itu akan dibawa ke muktamar mendatang dan, jika sudah ditetapkan, akan dijadikan acuan program sampai 2050.


Gus Yahya, dalam menavigasi NU, tak sepi dari kritik dan bahkan dinamika yang dahsyat. Gelombang badai ujian ia lalui dan, hingga saat ini, tetap kokoh berdiri. Memang, di sana sini, masih banyak kekurangan. Pertama, harga yang harus dibayar atas sikap-sikap dan keputusan itu sedikit banyak tak menguntungkan bagi pihak-pihak yang ingin mengobok-obok NU. Mereka ingin seperi dulu, mengendalikan NU, menjual suara dan nama NU untuk kepentingan pragmatis. Gus Yahya jadi hambatan untuk itu semua. Kedua, transformasi radikal yang dilakukan Gus Yahya belum sepenuhnya dipahami pengurus, sehingga tak sedikit yang bingung bagaimana melangkah, atau takut salah melangkah. Ketiga, di media sosial Gus Yahya banyak diframing negatif oleh pihak-pihak yang tak bertanggungjawab. Korbannya banyak, terutama yang belum tahu pemikiran dan tindak-tanduknya.  Keempat, ada juga yang tak suka Gus Yahya "hanya" persoalan pribadi, soal like atau dislike saja.


Namun, terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada itu, Gus Yahya sudah menggelar pondasi yang kuat untuk kemandirian NU untuk melalui masa-masa sulit yang akan datang. Gagasan-gagasan, kapasitas, dan gerakan Gus Yahya belum ada yang, menurut saya, dapat menandingi hingga saat ini. Ia mampu berkomunikasi dengan kalangan pesantren karena memang seorang santri tulen. Ia luwes berbicara dengan aktivis, pemikir, dan bahkan pejabat tinggi negara karena memang mantan juru bicara Presiden Gus Dur. Ia juga fasih berbicara Islam dan kemanusiaan di panggung internasional, sesuatu yang memang menjadi aktivismenya dalam, setidaknya, dua dekade terakhir.


Gus Yahya juga baru lepas dari dinamika dahsyat internal organisasi yang, menurut saya, membuatnya akan lebih matang dan teguh dalam perjuangan. Ke depan, gagasan dan ide Gus Yahya yang besar harus ada yang lebih banyak menerjemahkan lewat program, memahami dalam ranah eksekusi, serta menyampaikan dalam bahasa awam kepada publik agar tak disalahpahami, sehingga menjadikan NU ke depan lebih digdaya di abad kedua.


Selamat ulang tahun, Gus Yahya. Ini adalah kado kecil dari orang yang belum lama tahu gagasan dan idemu. Semoga panjang umur, berkah, dan diberi kekuatan Allah SWT selalu dalam menavigasi organisasi sebesar NU.


Jakarta, 17 Februari 2026.


#gusyahya #pbnu #nahdlatululama

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Responsive Advertisement
- Advertisment -
Responsive Advertisement

Berita Pilihan

Sembilan Alasan Nasaruddin Umar Dinilai Ideal Nakhodai PBNU Mendatang

Redaksi APN- Februari 18, 2026 0
Sembilan Alasan Nasaruddin Umar Dinilai Ideal Nakhodai PBNU Mendatang
https://kabarcirebon.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-2939800308/sembilan-alasan-nasaruddin-umar-dinilai-ideal-nakhodai-pbnu-mendatang *Sembilan Alasan Nasarudd…

Berita Populer

Bayang-Bayang Emas Hitam di 'Kandang Gajah': Paradoks Ahmad Ali dan Wajah Baru PSI

Bayang-Bayang Emas Hitam di 'Kandang Gajah': Paradoks Ahmad Ali dan Wajah Baru PSI

Februari 14, 2026
  Di Acara Buruh Bareng Para Tokoh Sipil, Wakil Ketua DPR-RI Prof. Dasco Sebut Pengusaha di 2 Negara ASEAN Kerap Diculik, Justru Bisnis Di Indonesia Aman

Di Acara Buruh Bareng Para Tokoh Sipil, Wakil Ketua DPR-RI Prof. Dasco Sebut Pengusaha di 2 Negara ASEAN Kerap Diculik, Justru Bisnis Di Indonesia Aman

Februari 13, 2026
AMAS : BUMI JADI MERKURIUS 10 KALI PUN ANIES MUSTAHIL LAWAN PRABOWO! ABDULLAH AMAS: LEBIH BAIK PGR JADI SAYAP GERINDRA SAJA!

AMAS : BUMI JADI MERKURIUS 10 KALI PUN ANIES MUSTAHIL LAWAN PRABOWO! ABDULLAH AMAS: LEBIH BAIK PGR JADI SAYAP GERINDRA SAJA!

Februari 12, 2026

Recent Comments

Berita Pilihan

Geger! "Sindiran Maut" Nandang Burhanudin: Tamparan Keras untuk Retorika Langit Ketum Partai Gelora Anis Matta?

Geger! "Sindiran Maut" Nandang Burhanudin: Tamparan Keras untuk Retorika Langit Ketum Partai Gelora Anis Matta?

Desember 20, 2025
Kisah Nyatanya : Pertolongan Allah Bertubi-Tubi Setelah Menghapus Pemajangan Gambar Bernyawa

Kisah Nyatanya : Pertolongan Allah Bertubi-Tubi Setelah Menghapus Pemajangan Gambar Bernyawa

Desember 20, 2025
GUNCANG DHAKA! Nama Muhammad Qasim Meledak di Twitter (X) Bangladesh Saat Perayaan Hari Kemenangan 16 Desember

GUNCANG DHAKA! Nama Muhammad Qasim Meledak di Twitter (X) Bangladesh Saat Perayaan Hari Kemenangan 16 Desember

Desember 17, 2025

Trending News

Bayang-Bayang Emas Hitam di 'Kandang Gajah': Paradoks Ahmad Ali dan Wajah Baru PSI

Bayang-Bayang Emas Hitam di 'Kandang Gajah': Paradoks Ahmad Ali dan Wajah Baru PSI

Februari 14, 2026
  Di Acara Buruh Bareng Para Tokoh Sipil, Wakil Ketua DPR-RI Prof. Dasco Sebut Pengusaha di 2 Negara ASEAN Kerap Diculik, Justru Bisnis Di Indonesia Aman

Di Acara Buruh Bareng Para Tokoh Sipil, Wakil Ketua DPR-RI Prof. Dasco Sebut Pengusaha di 2 Negara ASEAN Kerap Diculik, Justru Bisnis Di Indonesia Aman

Februari 13, 2026
AMAS : BUMI JADI MERKURIUS 10 KALI PUN ANIES MUSTAHIL LAWAN PRABOWO! ABDULLAH AMAS: LEBIH BAIK PGR JADI SAYAP GERINDRA SAJA!

AMAS : BUMI JADI MERKURIUS 10 KALI PUN ANIES MUSTAHIL LAWAN PRABOWO! ABDULLAH AMAS: LEBIH BAIK PGR JADI SAYAP GERINDRA SAJA!

Februari 12, 2026
Amas Persada News

About Us

Amas Persada News Menyajikan Berita Akurat dan Terpercaya, Enak dibaca dan Mendobrak Fakta

Contact us: amaspersadanews@gmail.com

Follow Us

© Copyright Amas Persada News 2024 apn
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Sanggah/Jawab
  • Iklan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kontak