Bayang-Bayang Emas Hitam di 'Kandang Gajah': Paradoks Ahmad Ali dan Wajah Baru PSI
Bayang-Bayang Emas Hitam di 'Kandang Gajah': Paradoks Ahmad Ali dan Wajah Baru PSI
JAKARTA – Di markas Partai Solidaritas Indonesia (PSI), atmosfer perubahan besar-besaran sedang terjadi. Identitas partai telah berganti, meninggalkan simbol bunga mawar nan romantis menuju kegagahan sang Gajah. Namun, di balik logo baru yang menyimbolkan kekuatan dan daya ingat yang panjang itu, kini berdiri satu sosok yang membawa serta jejak masa lalu yang sulit dilupakan: Ahmad Ali.
Penunjukan Ahmad Ali sebagai Ketua Harian PSI pada akhir 2025 bukan sekadar rotasi elite politik biasa. Ini adalah sebuah ujian bagi "Kandang Gajah" yang baru. Bagaimana mungkin partai yang kini mengusung filosofi kekuatan dan integritas raksasa, justru dipimpin oleh figur yang rumahnya baru saja diobrak-abrik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kurang dari setahun lalu?
Jejak Februari yang Tak Bisa Dihapus
Gajah dikenal sebagai hewan yang tak pernah lupa (an elephant never forgets). Ironisnya, publik diharapkan melupakan apa yang terjadi pada Februari 2025—bulan kelabu bagi karier politik Ahmad Ali saat masih di NasDem.
Selasa, 4 Februari 2025, bukan pawang atau pelatih yang datang ke kediaman mewahnya di Jakarta Barat, melainkan tim penyidik antirasuah. Penggeledahan itu mengguncang. Dari balik pintu rumah itu, penyidik keluar membawa bukti yang memberatkan: uang tunai senilai total Rp 3,49 miliar, tumpukan jam tangan branded, hingga koleksi tas mewah.
Aset-aset tersebut diduga bukan hasil keringat biasa. KPK mengendus benang merah yang menghubungkan kemewahan itu dengan Rita Widyasari, mantan Bupati Kutai Kartanegara yang terjerat kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Aroma "emas hitam"—batu bara—tercium pekat di antara tumpukan barang bukti itu.
Gajah di Pelupuk Mata
Manuver Ahmad Ali masuk ke "Kandang Gajah" PSI di penghujung 2025 memunculkan tanda tanya besar. Apakah ini strategi memperbesar otot partai, atau sekadar mencari perlindungan di balik badan besar sang Gajah dari badai hukum yang belum mereda?
Bagi PSI, langkah ini berisiko membuat sang Gajah tersandung kakinya sendiri. Di satu sisi, Ahmad Ali adalah politisi kelas berat dengan logistik kuat di Sulawesi. Namun, di sisi lain, kehadirannya seolah menjadi beban bagi citra baru partai.
"Filosofi gajah itu kuat dan solid, tapi kalau kakinya terikat kasus hukum, dia tidak akan bisa berlari," ujar salah satu analis politik. "Bagaimana kader bisa meneriakkan slogan anti-korupsi yang lantang seperti terompet gajah, jika pimpinan harian mereka tersandera kasus aliran dana gratifikasi tambang?"
Menanti Langkah Raksasa
Hingga awal 2026, status hukum Ahmad Ali memang masih berputar di ranah saksi. Namun, penyitaan aset bernilai miliaran rupiah adalah indikasi bahwa beban yang dibawa sang Ketua Harian ini sangat berat.
Di panggung depan, Ahmad Ali mungkin kini tampil gagah dengan atribut bergambar Gajah, berbicara tentang kekuatan baru Indonesia. Namun, di panggung belakang, bayang-bayang kasus Rita Widyasari tetap mengintai seperti pemburu.
Pertanyaannya kini: Apakah PSI mampu melindungi "anak barunya" ini dengan kulit tebal sang Gajah, atau justru beban kasus ini yang akan meruntuhkan "Kandang Gajah" sebelum ia sempat berdiri tegak?
Lhynaa Marlinaa


Posting Komentar