Komandan Gerindra Don Dasco, Chairil Anwar Dan Cita 'Hidup 1000 Tahun Lagi'
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, menyampaikan harapannya agar Partai Gerindra dapat terus eksis dan berjuang untuk kepentingan Indonesia dalam jangka panjang, bahkan hingga “hidup seribu tahun lagi”.
Harapan tersebut disampaikan Dasco saat memberikan pidato pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Partai Gerindra yang digelar di Jakarta, Kamis (6/2).
Menurutnya, usia hampir dua dekade merupakan momentum penting bagi Gerindra untuk melakukan konsolidasi dan penguatan organisasi.
Dasco menegaskan, perjalanan 18 tahun Gerindra bukan sekadar soal usia, tetapi menjadi tonggak untuk memperkuat fondasi kelembagaan, soliditas kader, serta konsistensi perjuangan dalam membela kepentingan rakyat.
“Kekuatan sebuah partai politik tidak hanya diukur dari kemenangan elektoral, tetapi juga dari kemampuannya untuk bertahan, beradaptasi dengan perubahan zaman, dan terus memberi kontribusi nyata bagi bangsa dan negara,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya proses regenerasi dan pelembagaan partai agar Gerindra tidak bergantung pada satu figur tertentu.
Menurut Dasco, partai harus menjadi rumah politik yang inklusif dan berkelanjutan bagi lintas generasi.
Pernyataan tersebut mencerminkan visi Partai Gerindra untuk terus bertransformasi menjadi partai yang kuat secara kelembagaan, solid secara internal, serta tetap relevan dalam menghadapi dinamika dan tantangan politik nasional ke depan.
Sementara itu Mantan Wasekjen PB HMI Abdullah Amas menyebut Partai Gerindra sebagai Pamungkas Demokrasi atau Partai yang akan berkuasa selama sisa waktu Indonesia Berdiri.
"Cuma Gerindra yang punya komandan dan elite membumi maka cita-cita itu wajar bakal terwujud"ujar Amas
Amas menyebut tekad Gerindra hidup 1000 Tahun lagi mirip pesan Chairil Anwar tentang ingin hidup 1000 Tahun lagi.
Gerindra "Pamungkas Demokrasi": Membedah Ambisi Hidup 1000 Tahun dan Realitas Politik Indonesia
Pernyataan Ketua Harian DPP Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, tentang keinginan agar Partai Gerindra terus eksis hingga 1000 tahun ke depan, memicu gelombang diskusi di ruang publik. Bukan sekadar retorika politik, ambisi ini dinilai oleh sejumlah pengamat sebagai cerminan kepercayaan diri sebuah partai yang tengah berada di puncak kekuasaan.
Mantan Wasekjen PB HMI, Abdullah Amas, memberikan perspektif yang provokatif sekaligus optimis terhadap visi tersebut. Ia menjuluki Gerindra sebagai "Pamungkas Demokrasi".
1. Metafora Chairil Anwar dalam Napas Politik
Amas menggarisbawahi bahwa tekad Gerindra untuk hidup "1000 tahun lagi" memiliki resonansi puitis yang mirip dengan semangat Chairil Anwar. Dalam puisinya yang legendaris, Chairil mengungkapkan keinginan untuk terus relevan melampaui usia biologisnya.
Dalam konteks partai, Amas melihat ini bukan sebagai keabadian fisik organisasi semata, melainkan keabadian gagasan. Gerindra diproyeksikan menjadi partai yang akan terus berkuasa atau setidaknya menjadi pilar utama selama sisa waktu Indonesia berdiri.
2. Elit Membumi: Kunci Keberlanjutan
Mengapa ambisi 1000 tahun ini dinilai masuk akal? Amas menunjuk pada faktor kepemimpinan dan struktur elite. Menurutnya, Gerindra memiliki keunggulan yang jarang dimiliki partai besar lainnya:
Komandan yang Tegas: Kepemimpinan Prabowo Subianto memberikan jangkar ideologis yang kuat.
Elite yang Membumi: Amas menilai para elite Gerindra mampu menjembatani jarak antara kekuasaan di pusat dengan aspirasi masyarakat di akar rumput.
"Cuma Gerindra yang punya komandan dan elite membumi, maka cita-cita itu wajar bakal terwujud," ujar Amas.
3. Menjadi "Pamungkas Demokrasi"
Istilah "Pamungkas Demokrasi" yang disematkan Amas menyiratkan bahwa Gerindra telah mencapai titik di mana mereka menjadi solusi akhir atau representasi paling utuh dari dinamika demokrasi di Indonesia saat ini. Sebagai partai yang lahir dari rahim gerakan nasionalis, Gerindra dianggap mampu mensintesiskan stabilitas politik dengan partisipasi publik.
Analisis: Tantangan Menuju Milenium Kedua
Tentu, visi 1000 tahun adalah tantangan yang maha berat. Sejarah mencatat bahwa partai-partai besar dunia seringkali mengalami pasang surut akibat pergantian generasi dan pergeseran isu global. Agar kutipan Amas tentang "Pamungkas Demokrasi" menjadi kenyataan, Gerindra perlu melakukan beberapa hal:
Institusionalisasi: Memastikan nilai-nilai partai tetap hidup dan berada di tampuk kepemimpinan nasional.
Adaptasi Digital: Menjangkau pemilih muda yang akan menjadi penentu dalam dekade-dekade mendatang.
Konsistensi Program: Mewujudkan janji kampanye menjadi kebijakan nyata yang dirasakan rakyat, sesuai dengan label "membumi" yang disematkan.
Kesimpulan Visi Dasco dan pembacaan Amas memberikan gambaran bahwa Gerindra tidak sedang bermain dalam jangka pendek. Mereka tengah membangun sebuah institusi yang ingin menjadi bagian integral dari sejarah Indonesia selamanya. Apakah Gerindra akan benar-benar menjadi "si kancil" yang hidup 1000 tahun lagi? Waktu yang akan menjawab, namun fondasi itu tengah dibangun hari ini.


Posting Komentar