Gerindra "Pamungkas Demokrasi": Membedah Ambisi Hidup 1000 Tahun Dari Taklimat "Sang Kancil" Don Dasco
Pernyataan Ketua Harian DPP Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, tentang keinginan agar Partai Gerindra terus eksis hingga 1000 tahun ke depan, memicu gelombang diskusi di ruang publik. Bukan sekadar retorika politik, ambisi ini dinilai oleh sejumlah pengamat sebagai cerminan kepercayaan diri sebuah partai yang tengah berada di puncak kekuasaan.
Mantan Wasekjen PB HMI, Abdullah Amas, memberikan perspektif yang provokatif sekaligus optimis terhadap visi tersebut. Ia menjuluki Gerindra sebagai "Pamungkas Demokrasi".
1. Metafora Chairil Anwar dalam Napas Politik
Amas menggarisbawahi bahwa tekad Gerindra untuk hidup "1000 tahun lagi" memiliki resonansi puitis yang mirip dengan semangat Chairil Anwar. Dalam puisinya yang legendaris, Chairil mengungkapkan keinginan untuk terus relevan melampaui usia biologisnya.
Dalam konteks partai, Amas melihat ini bukan sebagai keabadian fisik organisasi semata, melainkan keabadian gagasan. Gerindra diproyeksikan menjadi partai yang akan terus berkuasa atau setidaknya menjadi pilar utama selama sisa waktu Indonesia berdiri.
2. Elit Membumi: Kunci Keberlanjutan
Mengapa ambisi 1000 tahun ini dinilai masuk akal? Amas menunjuk pada faktor kepemimpinan dan struktur elite. Menurutnya, Gerindra memiliki keunggulan yang jarang dimiliki partai besar lainnya:
Komandan yang Tegas: Kepemimpinan Prabowo Subianto memberikan jangkar ideologis yang kuat.
Elite yang Membumi: Amas menilai para elite Gerindra mampu menjembatani jarak antara kekuasaan di pusat dengan aspirasi masyarakat di akar rumput.
"Cuma Gerindra yang punya komandan dan elite membumi, maka cita-cita itu wajar bakal terwujud," ujar Amas.
3. Menjadi "Pamungkas Demokrasi"
Istilah "Pamungkas Demokrasi" yang disematkan Amas menyiratkan bahwa Gerindra telah mencapai titik di mana mereka menjadi solusi akhir atau representasi paling utuh dari dinamika demokrasi di Indonesia saat ini. Sebagai partai yang lahir dari rahim gerakan nasionalis, Gerindra dianggap mampu mensintesiskan stabilitas politik dengan partisipasi publik.
Analisis: Tantangan Menuju Milenium Kedua
Tentu, visi 1000 tahun adalah tantangan yang maha berat. Sejarah mencatat bahwa partai-partai besar dunia seringkali mengalami pasang surut akibat pergantian generasi dan pergeseran isu global. Agar kutipan Amas tentang "Pamungkas Demokrasi" menjadi kenyataan, Gerindra perlu melakukan beberapa hal:
Institusionalisasi: Memastikan nilai-nilai partai tetap hidup dan berada di tampuk kepemimpinan nasional.
Adaptasi Digital: Menjangkau pemilih muda yang akan menjadi penentu dalam dekade-dekade mendatang.
Konsistensi Program: Mewujudkan janji kampanye menjadi kebijakan nyata yang dirasakan rakyat, sesuai dengan label "membumi" yang disematkan.
Kesimpulan Visi Dasco dan pembacaan Amas memberikan gambaran bahwa Gerindra tidak sedang bermain dalam jangka pendek. Mereka tengah membangun sebuah institusi yang ingin menjadi bagian integral dari sejarah Indonesia selamanya. Apakah Gerindra akan benar-benar menjadi "si kancil" yang hidup 1000 tahun lagi? Waktu yang akan menjawab, namun fondasi itu tengah dibangun hari ini.


Posting Komentar