Ketum Partai MASYUMI RI Amas : Jokowi Punya "Hoki" Dimenangkan, Tapi Lemah dalam Memenangkan
Ketum Partai MASYUMI RI Amas : Jokowi Punya "Hoki" Dimenangkan, Tapi Lemah dalam Memenangkan
Fenomena politik Joko Widodo (Jokowi) selama satu dekade terakhir selalu menjadi magnet diskusi nasional. Namun, sebuah perspektif kritis muncul dari Ketua Umum Partai MASYUMI RI, Abdullah Amas. Ia menyoroti sisi lain dari keberuntungan politik sang Presiden yang selama ini dianggap sebagai "King Maker" ulung.
Menurut Amas, ada perbedaan mendasar antara "diangkat/dimenangkan" dengan kemampuan "memenangkan". Dalam kacamata Amas, Jokowi adalah sosok yang memiliki garis tangan kuat untuk didukung, namun sering kali gagal ketika harus mengarsiteki kemenangan pihak lain.
Keberuntungan dalam "Dimenangkan"
Amas menilai perjalanan karier Jokowi dari Solo hingga ke Jakarta adalah rentetan peristiwa di mana Jokowi "diangkat" oleh kekuatan besar di belakangnya.
Magnet Elektoral: Jokowi dianggap sebagai figur yang sangat pas untuk dijual kepada publik pada masanya, sehingga berbagai instrumen politik bekerja keras untuk memenangkannya.
Posisi Pasif yang Beruntung: Dalam narasi ini, Jokowi adalah penerima manfaat (beneficiary) dari kerja mesin politik dan momentum sejarah yang memang sedang memihak kepadanya.
Kegagalan dalam "Memenangkan"
Kritik tajam Amas tertuju pada kapasitas Jokowi saat berperan sebagai penggerak atau backbone kemenangan pihak lain. Bukti paling nyata yang disorot adalah hasil Pemilu 2024.
"Jokowi tidak ada bakat memenangkan. Kalau dimenangkan, iya. Lihat saja 2024, saat semua kekuatan dan instrumen ada di tangan dia, dia tetap gagal membawa PSI lolos ke Parlemen," ujar Abdullah Amas.
Meskipun diasosiasikan kuat dengan Kaesang Pangarep dan mendapat sorotan media yang masif sebagai "partainya Jokowi", PSI nyatanya kembali gagal menembus ambang batas parlemen (parliamentary threshold). Bagi Amas, ini adalah bukti valid bahwa pengaruh pribadi Jokowi tidak serta-merta bisa dikonversi menjadi kemenangan bagi entitas politik yang ia sokong.
Kesimpulan: Hoki vs Bakat Politik
Pernyataan Ketum Masyumi ini membedah mitos "tangan dingin" Jokowi. Amas menyimpulkan bahwa:
Jokowi adalah Produk Kemenangan: Ia sangat mahir menempati posisi sebagai sosok yang didorong untuk menang.
Keterbatasan Pengaruh: Kekuatan infrastruktur kekuasaan yang ia miliki terbukti memiliki batas (limitasi) ketika harus memindahkan suara rakyat ke partai tertentu (seperti PSI).
Analisis ini memberikan catatan penting bagi peta politik pasca-2024, bahwa figuritas seorang pemimpin besar tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuannya menjadi penentu kemenangan bagi barisan yang ia restui.


Posting Komentar