Langit Tinggi Dan Bendera Partai Fahri Yang Runtuh di Tanah Datar
Jakarta - Amas Persada News - Ketua Umum Partai Gelora M. Anis Matta Lc membangun narasi "Manusia Indonesia Baru" dengan retorika setinggi langit. Namun, di bilik suara, pemilih justru memijak bumi. Partai Gelora terhempas, bahkan sebelum menyentuh angka satu persen.
DI sebuah ruangan berpendingin udara di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu, Anis Matta masih tampak tenang. Mengenakan kemeja rapi dengan gestur yang terjaga, ia berbicara tentang "Arah Baru Indonesia" dan posisi geopolitik dunia yang sedang bergeser. Bicaranya runut, penuh metafora, dan dibumbui kutipan filsuf dunia—khas intelektual jebolan gerakan dakwah yang kini mencoba menjadi negarawan sekuler.
Namun, angka di layar hitung cepat (quick count) tak bisa diajak berpuisi. Hingga penghitungan suara mendekati titik akhir, Partai Gelora Indonesia, bayi politik yang ia bidani bersama Fahri Hamzah, tersungkur di angka nol koma sekian persen. Jangankan melampaui ambang batas parlemen 4 persen, menyentuh angka 1 persen saja pun terengah-engah.
Metafora yang Menjauh
Kegagalan Gelora adalah paradoks. Di panggung orasi, Anis Matta adalah sang maestro. Ia mampu menyihir kader dengan narasi "Langit Tinggi"—sebuah visi menjadikan Indonesia kekuatan kelima dunia. Namun, di lapangan, narasi itu terasa seperti awan yang lewat: terlihat indah, tapi tak memberi keteduhan bagi perut rakyat yang lapar.
"Problem Anis adalah ia terlalu asyik dengan abstraksi," ujar Abdullah Amas, seorang pengamat politik yang sempat mengikuti perjalanan politik Ketum Partai Gelora Anis Matta. "Dia bicara tentang konstelasi global di hadapan massa yang lebih peduli pada harga beras dan kepastian kerja."
Pecahan yang Tak Utuh
Lahir dari rahim konflik di PKS, Gelora membawa gerbong sakit hati yang haus akan pembuktian. Anis dan Fahri ingin menunjukkan bahwa mereka bisa membangun partai yang lebih terbuka, lebih modern, dan tidak "kaku" seperti rumah lama mereka.
Nahas, basis massa yang diharapkan ikut bedol desa ternyata tak sepenuhnya berpindah. PKS justru menunjukkan resiliensi yang tangguh, sementara Gelora gagal menggaet pemilih muda non-ideologis yang menjadi sasaran mereka. Narasi "Manusia Indonesia Baru" ternyata kalah saing dengan joget lincah di TikTok atau janji-janji bansos yang lebih konkret.
Senja di Ujung Orasi
Kini, setelah debu kampanye mengendap, Gelora harus menghadapi kenyataan pahit sebagai partai penggembira. Retorika tinggi Anis Matta memang berhasil membangun identitas intelektual partai, tapi gagal membangun basis massa yang loyal.
Di kantor pusatnya, mungkin diskusi tentang "Gelombang Ketiga" masih berlanjut. Namun, tanpa kursi di Senayan dan dukungan rakyat yang signifikan, narasi langit tinggi itu kini terancam menjadi sekadar monolog di ruang hampa.
Bagi Anis Matta, politik ternyata bukan sekadar seni merangkai kata, melainkan seni menaklukkan angka. Dan di Pemilu kali ini, angka-angka itu sedang berbicara dengan nada yang sangat dingin.


Posting Komentar