Telusuri
24 C
id
  • Internasional
  • Daerah
  • Bisnis
  • Agama
  • Keluarga
  • Kontak
  • Iklan
Amas Persada News
pasang
  • Home
  • Politik
    • All
    • Politik
    • Pemerintahan
    • Pilkada
    • Tokoh Politik
  • Pemerintahan
    • Pemerintahan
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Organisasi
Amas Persada News
Telusuri
Beranda Pedas! Bung Amas Ketum Partai Masyumi RI Mengamuk! Nilai PSI dan PGR Anies Tak Punya Masa Depan, Sarankan Tidur Sampai Pemilu 2029 Selesai Pedas! Bung Amas Ketum Partai Masyumi RI Mengamuk! Nilai PSI dan PGR Anies Tak Punya Masa Depan, Sarankan Tidur Sampai Pemilu 2029 Selesai

Pedas! Bung Amas Ketum Partai Masyumi RI Mengamuk! Nilai PSI dan PGR Anies Tak Punya Masa Depan, Sarankan Tidur Sampai Pemilu 2029 Selesai

Redaksi APN
Redaksi APN
17 Feb, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


 JAKARTA – Peta politik tanah air mendadak memanas setelah Partai Masyumi melontarkan kritik super pedas yang menyasar dua kekuatan sekaligus: Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Partai Gerakan Perubahan (PGR) bentukan Anies Baswedan. Masyumi menilai manuver kedua pihak tersebut hanya membuang energi dan tidak memiliki landasan politik yang kuat untuk masa depan Indonesia.


Serangan Terbuka untuk PSI dan PGR

Dalam pernyataan resminya, petinggi Partai Masyumi menyebut bahwa baik PSI maupun PGR saat ini hanya sedang memainkan "teater politik" yang tidak menyentuh substansi kebutuhan rakyat. PSI disindir karena dianggap kehilangan jati diri, sementara PGR dengan simbol "Kentongan" milik Anies Baswedan dinilai sebagai gerakan yang sudah kadaluwarsa.


"Kami melihat PSI dan PGR ini seperti dua sisi koin yang sama-sama bingung. Yang satu sibuk dengan pencitraan anak muda tapi tanpa akar, yang satu lagi sibuk mukul 'Kentongan' tapi rakyat tidak ada yang bangun. Jujur saja, gerakan kalian berdua ini pasti tak punya masa depan," tegas Ketua Umum Partai Masyumi RI Abdullah Amas.


Saran Menohok: "Tidur Saja"

Kritik Masyumi mencapai puncaknya ketika mereka menyarankan agar kedua entitas politik tersebut menarik diri dari hiruk-pikuk panggung politik saat ini. Alih-alih terus bermanuver, Masyumi secara sarkastis meminta mereka untuk beristirahat total.


"Daripada terus-terusan bikin gaduh dengan narasi yang tidak relevan, saran kami untuk PSI dan PGR: Tidur saja yang nyenyak sampai Pemilu 2029 nanti usai. Jangan bangunkan rakyat dengan janji-janji atau suara kentongan yang tidak relevan. Simpan energi kalian untuk mimpi saja," tambah Amas dengan nada bicara tinggi.


Respon Publik: Sinyal Perang Politik Baru?

Serangan "dua arah" dari Partai  Masyumi RI ini diprediksi akan mengubah peta konfrontasi di media sosial. Publik kini menanti apakah PSI yang dikenal reaktif dan PGR yang mengusung semangat perubahan akan membalas serangan "bombardir" dari partai yang mengklaim sebagai pewaris ideologi Masyumi lama ini.


Hingga berita ini dimuat, belum ada pernyataan balasan dari kubu Kaesang Pangarep (PSI) maupun Anies Baswedan (PGR) terkait "instruksi tidur" yang diberikan oleh Partai Masyumi RI



Tulisan Masa Depan PSI oleh Dahlan Iskan juga menarik. Ini dia


Gibran Capres

Oleh: Dahlan Iskan


Jumat 30-01-2026


(Ilustrasi Prabowo dan Gibran)


Gibran vapres Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di pilpres mendatang?


Sebenarnya Ahmad Ali, Ketua Harian PSI, tidak secara langsung berkata begitu. Ia hanya bilang: kalau Wapres Gibran Rakabuming Raka dilepas oleh Prabowo justru bahaya. Gibran bisa jadi pesaing berat Prabowo.


Ahmad Ali dulunya tokoh utama Partai Nasdem. Pernah jadi ketua fraksi Partai Nasdem di DPR. Ia politikus kaya asal Morowali. Saya pernah ke rumah bapaknya yang persis di seberang rumahnya sendiri. Sang ayah, Haji Ahmad, seorang Tionghoa muslim terkaya di sana.


Dengan ucapannya itu Ahmad Ali punya dua maksud: salah satunya, jangan sampai Gibran tidak jadi pasangan Prabowo di pilpres mendatang. Maksud kedua: bukan salah Gibran kalau kelak ia maju sendiri sebagai capres dari PSI.


Sebenarnya sesederhana itu. Tapi berkembang menjadi serius: seolah PSI sudah pasti mencalonkan Gibran sebagai capres. Berarti pula Prabowo akan berhadapan dengan Gibran di pilpres mendatang.


Namanya saja politik. Rasanya Ahmad Ali hanya ingin mendapat penegasan sejak dini: agar Gibran tetap digandeng Prabowo. Itu saja dianggap Gibran sudah jauh mengalah: harusnya giliran Gibran yang menjadi capres dan Prabowo cukup satu periode.


Sebelum pilpres ada pemilihan anggota DPR. Di pileg itu nanti posisi PSI memang sulit. Kalau tokoh utamanya hanya sebagai cawapres apa yang bisa "dijual". Beda kalau sejak awal PSI sudah memutuskan: PSI akan mencapreskan Gibran. Rasanya bisa lebih semangat. Kalau PSI hanya bilang akan "mencawapreskan" Gibran di mana menariknya?


Saya pernah dihubungi tokoh politik nasional. Sampai beberapa kali. Itu sudah lama. Sebelum pilpres yang lalu. Bukan sekarang. Tokoh tersebut bermaksud mendirikan partai baru. Syaratnya: saya mau jadi capres partai baru itu.


Ia bilang, pencalonan itu akan diumumkan sejak partai itu didirikan. Kalau saya tidak mau, partai itu tidak jadi didirikan.


Saya menjawab tidak mau. Dirayu lagi. Tidak mau. Diajak ngobrol lagi. Tetap tidak mau. Partai baru itu pun tidak pernah berdiri.


Sang tokoh punya pandangan simple: partai itu bisa dapat suara atau tidak akan dilihat siapa calon presiden yang diajukan.


Mungkin sama dengan prinsip partai baru yang pekan lalu dideklarasikan di Jakarta: Partai Gerakan Rakyat.


Partai itu sudah langsung menyebut bahwa capresnya nanti adalah Anies Baswedan. Mungkin belum bisa segera membuat Anies sebagai presiden, tapi sudah bisa mengeruk suara dari simpatisan Anies. Lalu pada pilpres berikutnya sudah punya modal suara yang lebih jelas.


Berarti strategi Partai Gerakan Rakyat jelas: meraih kursi di parlemen dengan memanfaatkan nama Anies Baswedan.


Memang sulit bagi PSI untuk langsung mencalonkan Gibran. Harus ada kejelasan dulu dari sikap Prabowo: Gibran digandeng lagi atau tidak.


Kalau Gibran digandeng lagi berarti PSI harus berebut suara di lingkungan "pendukung Prabowo". PSI harus bertarung di dalam selimut yang sama: selimut Gerindra. Padahal ada banyak partai di bawah selimut yang sama.


Maka kalau Gibran tetap digandeng Prabowo, PSI harus menggunakan "cara Nasdem" untuk meraih banyak kursi di parlemen: "membajak" para pemilik kursi dari partai lain.


Suatu saat dulu Nasdem sangat dikenal sebagai "pembajak" kursi partai lain. Terutama ketika jabatan jaksa agung dipegang orang Nasdem.


Apakah PSI akan pakai cara Nasdem dulu itu? Tentu tidak perlu tahun ini. Masih ada waktu. Bisa dua tahun lagi. Agar mereka tidak perlu menghadapi risiko diberhentikan partainya dari keanggotaan DPR.


Kalau transfer itu dilakukan dua tahun lagi toh masa jabatan sudah hampir selesai. Diberhentikan pun tidak masalah. Toh nilai transfernya sebanding dengan hilangnya fasilitas di DPR selama satu tahun.


Meski transfer baru dilakukan dua tahun lagi, "perjanjian di bawah meja"-nya sudah harus dibuat tahun ini. Maka kita akan segera melihat proses naturalisasi kursi antar partai. Tentu masih bersifat bisik-bisik tapi sudah bisa didengar tetangga.


Kursi siapa saja yang diincar PSI? Rasanya sulit untuk melakukan "naturalisasi" pemilik kursi Gerindra. Bisa digebuki beneran. Mungkin sulit juga mentrasfer kursi dari PDI-Perjuangan. Ups... Di Jateng mungkin tidak sulit. Ini hanya soal berapa nilai transfer itu: wani piro!


Dari Nasdem? Ahmad Ali punya jaringan yang kuat di Nasdem. Tidak perlu lagi mencari info dari para calo --ia sendiri tahu sampai pun ke jantung partai.


Rasanya harapan PSI agar sesegera mungkin dapat kejelasan nasib Gibran juga tidak mudah. Prabowo masih banyak pekerjaan untuk bisa memikirkan itu. Rasanya itu baru akan diputuskan di saat injury time. Menggantung lebih baik daripada menggorok.(Dahlan Iskan)


https://disway.id/catatan-harian-dahlan/926397/gibran-capres


Informasi Mojokerto dan sekitarnya 

Klik..

https://mojokerto.disway.id/news/read/7729/kebakaran-hanguskan-home-industri-sepatu-di-mojokerto-kerugian-capai-rp-300-juta

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Responsive Advertisement
- Advertisment -
Responsive Advertisement

Berita Pilihan

Sembilan Alasan Nasaruddin Umar Dinilai Ideal Nakhodai PBNU Mendatang

Redaksi APN- Februari 18, 2026 0
Sembilan Alasan Nasaruddin Umar Dinilai Ideal Nakhodai PBNU Mendatang
https://kabarcirebon.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-2939800308/sembilan-alasan-nasaruddin-umar-dinilai-ideal-nakhodai-pbnu-mendatang *Sembilan Alasan Nasarudd…

Berita Populer

Bayang-Bayang Emas Hitam di 'Kandang Gajah': Paradoks Ahmad Ali dan Wajah Baru PSI

Bayang-Bayang Emas Hitam di 'Kandang Gajah': Paradoks Ahmad Ali dan Wajah Baru PSI

Februari 14, 2026
Mantan Ketua DPW PKB Jateng Disiapkan PKB Maju Ketum PB NU? Gus Yusuf Sang Figur Merakyat Dan Teruji Kesetiaan Pada Cak Imin

Mantan Ketua DPW PKB Jateng Disiapkan PKB Maju Ketum PB NU? Gus Yusuf Sang Figur Merakyat Dan Teruji Kesetiaan Pada Cak Imin

Februari 11, 2026
  Di Acara Buruh Bareng Para Tokoh Sipil, Wakil Ketua DPR-RI Prof. Dasco Sebut Pengusaha di 2 Negara ASEAN Kerap Diculik, Justru Bisnis Di Indonesia Aman

Di Acara Buruh Bareng Para Tokoh Sipil, Wakil Ketua DPR-RI Prof. Dasco Sebut Pengusaha di 2 Negara ASEAN Kerap Diculik, Justru Bisnis Di Indonesia Aman

Februari 13, 2026

Recent Comments

Berita Pilihan

Geger! "Sindiran Maut" Nandang Burhanudin: Tamparan Keras untuk Retorika Langit Ketum Partai Gelora Anis Matta?

Geger! "Sindiran Maut" Nandang Burhanudin: Tamparan Keras untuk Retorika Langit Ketum Partai Gelora Anis Matta?

Desember 20, 2025
Kisah Nyatanya : Pertolongan Allah Bertubi-Tubi Setelah Menghapus Pemajangan Gambar Bernyawa

Kisah Nyatanya : Pertolongan Allah Bertubi-Tubi Setelah Menghapus Pemajangan Gambar Bernyawa

Desember 20, 2025
GUNCANG DHAKA! Nama Muhammad Qasim Meledak di Twitter (X) Bangladesh Saat Perayaan Hari Kemenangan 16 Desember

GUNCANG DHAKA! Nama Muhammad Qasim Meledak di Twitter (X) Bangladesh Saat Perayaan Hari Kemenangan 16 Desember

Desember 17, 2025

Trending News

Bayang-Bayang Emas Hitam di 'Kandang Gajah': Paradoks Ahmad Ali dan Wajah Baru PSI

Bayang-Bayang Emas Hitam di 'Kandang Gajah': Paradoks Ahmad Ali dan Wajah Baru PSI

Februari 14, 2026
Mantan Ketua DPW PKB Jateng Disiapkan PKB Maju Ketum PB NU? Gus Yusuf Sang Figur Merakyat Dan Teruji Kesetiaan Pada Cak Imin

Mantan Ketua DPW PKB Jateng Disiapkan PKB Maju Ketum PB NU? Gus Yusuf Sang Figur Merakyat Dan Teruji Kesetiaan Pada Cak Imin

Februari 11, 2026
  Di Acara Buruh Bareng Para Tokoh Sipil, Wakil Ketua DPR-RI Prof. Dasco Sebut Pengusaha di 2 Negara ASEAN Kerap Diculik, Justru Bisnis Di Indonesia Aman

Di Acara Buruh Bareng Para Tokoh Sipil, Wakil Ketua DPR-RI Prof. Dasco Sebut Pengusaha di 2 Negara ASEAN Kerap Diculik, Justru Bisnis Di Indonesia Aman

Februari 13, 2026
Amas Persada News

About Us

Amas Persada News Menyajikan Berita Akurat dan Terpercaya, Enak dibaca dan Mendobrak Fakta

Contact us: amaspersadanews@gmail.com

Follow Us

© Copyright Amas Persada News 2024 apn
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Sanggah/Jawab
  • Iklan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kontak