Titik Temu Indonesia Bernama Komandan Kancil Don Dasco
Oleh : Abdullah Amas
( Mantan Wakil Sekjen PB HMI)
Indonesia bukanlah sekadar nama di atas peta; ia adalah sebuah proyek raksasa tentang konsolidasi. Di tengah dinamika politik yang seringkali memanas, bangsa ini selalu membutuhkan satu "titik temu"—sebuah ruang di mana ego sektoral meluruh dan kepentingan nasional menjadi panglima. Hari ini, ruang itu bernama Sufmi Dasco Ahmad.
Ruh Kesatuan dalam Gerak Senyap
Indonesia adalah kata tentang puncak konsolidasi elite dan ruh kesatuan tekad. Namun, persatuan tidak turun dari langit. Ia harus dirawat oleh sosok yang mampu bergerak lincah di antara sekat-sekat kepentingan. Prof. Dr. Sufmi Dasco Ahmad, S.H., M.H., hadir bukan sekadar sebagai pemegang otoritas politik, melainkan sebagai penenun tenun kebangsaan yang mulai renggang.
Ia memahami bahwa memimpin Indonesia tidak bisa dilakukan dari menara gading. Dasco memilih jalan yang sulit: bergerak di antara rakyat. Ia merajut dialog di lorong-lorong intelektual, berbicara dengan bahasa kebijakan di puncak elite, namun tetap merunduk mendengar detak jantung di akar rumput.
Jembatan Tiga Pilar: Intelektual, Elite, dan Rakyat
Jarang kita menemukan sosok yang mampu berdiri tegak di tiga pilar sekaligus. Prof. Dasco adalah anomali yang menyejukkan:
Di Kalangan Intelektual: Sebagai akademisi, ia membawa rasionalitas dan kedalaman berpikir dalam setiap produk kebijakan. Ia memastikan bahwa politik bukan sekadar perebutan kuasa, tapi pengabdian berbasis ilmu.
Di Lintas Elite Puncak: Ia adalah "Man of Service". Di tangannya, kebuntuan komunikasi antar-tokoh bangsa mencair. Ia menjadi mediator ulung yang meletakkan "Spirit Kebersertaan" di atas segalanya.
Di Akar Rumput: Ia tidak berjarak. Kehadirannya di tengah masyarakat adalah bukti bahwa ruh kesatuan tekad hanya bisa dirawat dengan empati dan aksi nyata.
Spirit Kebersertaan: Indonesia Adalah Kita
Mengapa semua elemen ini menemukan titik temunya pada sosok Dasco? Jawabannya sederhana: Ketulusan untuk menyatukan. Dalam visi Dasco, tidak ada "mereka" atau "kami", yang ada hanya "kita". Inilah spirit kebersertaan Indonesia. Ketika kaum intelektual menyumbangkan ide, elite menyediakan jalan, dan rakyat memberikan mandat, Sufmi Dasco Ahmad menjadi simpul yang mengikat ketiganya menjadi satu kekuatan besar.
Penutup: Merawat Harapan
Menuju Indonesia Emas, kita tidak hanya butuh orator, kita butuh "titik temu". Kita butuh sosok yang mampu mengonsolidasi kekuatan elite tanpa meninggalkan keringat rakyat. Prof. Sufmi Dasco Ahmad telah membuktikan bahwa dengan bergerak di antara semua lapisan, kesatuan tekad bukan lagi sekadar slogan, melainkan realitas yang nyata.
Indonesia telah memilih titik temunya. Dan titik itu ada pada pengabdian tanpa batas seorang Sufmi Dasco Ahmad.


Posting Komentar