Masuk ke Kandang Singa : Membedah Alasan Indonesia dan 7 Negara Islam di Meja Perundingan AS
*Masuk ke Kandang Singa : Membedah Alasan Indonesia dan 7 Negara Islam di Meja Perundingan AS.*
𝘔𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘗𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘍𝘪𝘲𝘩 𝘛𝘢𝘮𝘬𝘪𝘯 & 𝘍𝘪𝘲𝘩 𝘚𝘪𝘺𝘢𝘴𝘢𝘩.
Oleh: Sandy Syafrudin Nina
Sahabat...
Aku tahu, dada rasanya sesak melihat berita itu. Melihat bendera kita, dan bendera saudara-saudara kita, bersanding satu meja dengan mereka yang tangannya berlumur darah. Melihat pemimpin kita berjabat tangan dalam sebuah forum yang diarsiteki oleh Amerika. Rasanya, ada duri yang tersangkut di tenggorokan. Ingin rasanya kita berteriak: "Kenapa berdamai dengan penjahat? Kenapa tidak lawan saja?"
Tapi Sahabat, mari kita tarik napas sejenak. Letakkan amarah itu di samping, sebentar saja. Izinkan aku mengajakmu melihat apa yang sebenarnya terjadi di meja perundingan itu.
Mereka—para pemimpin delapan negara itu—tidak sedang berpesta di Davos. Mereka tidak sedang piknik. Mereka sedang berdiri di bibir jurang, memainkan sebuah perjudian paling berbahaya dalam sejarah modern: Perjudian Nyawa.
Mari kita bedah isi kepala mereka. Kenapa mereka mau duduk di sana? Apakah karena takut? Apakah karena cinta dunia? Tidak sesederhana itu. Di meja _"Board of Peace"_ itu, setiap negara memegang kartu yang basah oleh keringat dan darah.
Lihatlah Turki. Sang Singa Anatolia ini sering mengaum keras, tapi kakinya terikat rantai geopolitik. Erdogan hadir di sana bukan untuk tunduk, tapi untuk menjadi satu-satunya "rem" di dalam mesin perang Barat. Turki adalah satu-satunya negara Muslim di NATO. Jika Turki absen, maka NATO akan 100% menjadi alat pukul Israel tanpa ada yang menahannya dari dalam
Lalu tengoklah Mesir dan Yordania. Bagi mereka, ini bukan soal politik, ini soal hidup dan mati. Mesir memegang kunci gerbang Rafah. Jika Kairo memboikot pertemuan ini, Israel punya alasan sempurna untuk mengunci gerbang itu selamanya, menjadikan Gaza kuburan massal yang tertutup rapat. Yordania? Mereka adalah penjaga kunci Al-Aqsa. Jika mereka mundur, kunci itu akan pindah ke tangan ekstremis Yahudi besok pagi. Mereka menelan ludah pahit, duduk bersama musuh, hanya untuk memastikan gerbang itu tidak dikunci dari luar.
Bagaimana dengan Saudi, Qatar, dan UEA? Mereka adalah "Oksigen Ekonomi". Gaza hancur lebur, butuh beton dan besi untuk bangkit. Amerika dan Eropa sedang krisis, mereka pelit. Negara-negara Teluk ini hadir dengan logika pragmatis: "Daripada uang kami diambil Barat lewat sanksi atau senjata, lebih baik kami alirkan untuk membangun atap rumah di Gaza." Mereka membeli pengaruh, agar pembangunan Gaza tidak dikuasai kontraktor asing.
Ada juga Pakistan, sang pemilik nuklir yang tertidur. Kehadirannya adalah pesan bisu: "Jangan main-main sampai melampaui batas, atau umat ini punya tombol bahaya."
Dan di sana, ada Indonesia. Kita. Kita tidak punya perbatasan fisik, uang kita tak sebanyak Qatar. Tapi Prabowo membawa Jiwa dan Nurani. Indonesia mewakili ratusan juta hati yang paling mencintai Palestina. Kehadiran kita adalah stempel moral. Tanpa Indonesia, perjanjian itu hanya akan terlihat seperti "Jual Beli Tanah Arab". Kita hadir untuk memastikan kata "Kemerdekaan" tetap tertulis dalam draf perjanjian, bukan sekadar "Pembangunan Ekonomi."
Sahabat, mungkin hati kecilmu masih bertanya: "Tapi apakah ini dibenarkan agama? Bukankah kita dilarang bersekutu dengan musuh?"
Mari kita buka kembali lembaran ilmu para ulama pergerakan (Haraki). Dalam literatur perjuangan Islam modern, kita diajarkan untuk melihat realitas dengan dua kacamata: Fase Tamkin (Kuat/Berkuasa) dan Fase Istidh'af (Lemah/Terjepit).
Jujurlah pada diri sendiri, hari ini umat sedang berada di fase Istidh'af. Kita lemah, terpecah, dan dikepung. Dalam kondisi ini, berlaku kaidah fiqh siyasah yang tajam:
"Dar'ul Mafasid Muqaddam 'ala Jalbil Mashalih" (Menolak kerusakan yang lebih besar, lebih utama daripada mencari keuntungan).
Masuknya kita ke kandang singa ini bukan untuk mencari untung. Tapi untuk mencegah kerusakan yang lebih mengerikan: Pengusiran total warga Gaza dan hilangnya Palestina dari peta.
Seperti yang diajarkan Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam "Fiqh al-Muwazanat", ketika kita dihadapkan pada dua pilihan buruk (berperang tapi hancur total, atau berunding tapi sakit hati), maka syariat mewajibkan kita mengambil yang akhaffu dhararain—yang paling ringan bahayanya. Kita memilih jalan yang terlihat "hina" di mata manusia (berunding), demi menyelamatkan nyawa jutaan saudara kita.
Ingatlah kisah Nabi Yusuf 'alaihissalam yang dibedah indah oleh Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam kitab "Fiqh at-Tamkin fil Qur'anil Karim". Nabi Yusuf bersedia menjadi pejabat di pemerintahan Raja yang tidak beriman. Apakah Yusuf menggadaikan akidah? Tidak. Beliau masuk ke dalam sistem yang zalim itu demi menyelamatkan rakyat dari kelaparan massal.
Itulah yang sedang dilakukan para pemimpin ini. Sebuah manuver Nabi Yusuf di abad modern.
Agar kita tidak mudah menghujat dan gagal paham strategi, saya merekomendasikan Sahabat untuk menyelami beberapa kitab rujukan utama pergerakan ini:
1. Fiqh at-Tamkin fil Qur'anil Karim karya Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi. Ini adalah peta jalan bagaimana mengubah kelemahan menjadi kekuatan secara bertahap.
2. As-Siyasah Asy-Syar'iyyah dan Fiqh al-Muwazanat karya Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Buku ini akan melatih nalar kita untuk tidak hitam-putih dalam melihat politik global.
3. Al-Muntalaq karya Muhammad Ahmad Ar-Rashid. Bekal wajib bagi mental pejuang agar tidak putus asa saat melihat kekalahan sementara.
Sahabatku...
Politik tingkat tinggi itu kotor, licin, dan penuh asap. Jangan ukur keputusan para pemimpin itu dengan mistar emosi kita yang pendek. Mereka sedang bermain catur di atas ranjau. Salah langkah sedikit, bukan hanya jabatan mereka yang hilang, tapi nyawa saudara kita di Palestina yang melayang.
Jika mereka mengambil langkah yang terlihat kompromis, pahamilah bahwa kadang cara terbaik menolong orang yang terkunci di dalam rumah yang terbakar adalah dengan ikut masuk ke dalam api, bukan berteriak-teriak dari seberang jalan.
Mari kita tetap kritis, tapi cerdas. Gaza butuh strategi panjang, bukan sekadar amarah sesaat.
Pemerintah Hari Ini Melakukan Manuver Di Tepi Jurang.
Melihat bendera kita bersanding di meja perundingan buatan Amerika, rasanya memang sesak. Ada tanya yang mengganjal: "Kenapa harus duduk bersama mereka?"
Tapi, Sahabat...
Politik global tidak pernah sesederhana hitam dan putih. Ia adalah belantara abu-abu yang penuh ranjau.
Saya haqqul yaqin, keputusan berat Presiden Prabowo Subianto ini tidak diambil sendirian di ruang hampa. Di balik langkah senyap ini, ada koordinasi matang dengan sosok yang nuraninya paling lantang meneriakkan nama Palestina: Wamenlu Ustadz Anis Matta .
Masih ingat bagaimana Ustadz Anis Matta menggetarkan panggung dunia saat pertemuan pemimpin Islam? Suaranya adalah suara kita. Hatinya adalah hati umat. Jika sosok yang paham betul peta perjuangan Islam ini turut merumuskan langkah tersebut, maka percayalah: Ini bukan pengkhianatan. Ini adalah strategi bertahan hidup.
Dalam kacamata Fiqh Siyasah dan Fiqh Tamkin, kadang seorang pemimpin harus mengambil pilihan pahit (Akhaffu Dhararain). Memilih masuk ke "kandang singa" dan dicibir dunia, demi memastikan satu hal: Agar Gaza tidak dihapus dari peta.
Mereka menelan ego, membuang gengsi, demi memastikan gerbang bantuan tidak dikunci dan tanah Gaza tidak dicuri saat kita lengah berteriak di luar pagar.
Memang, ini jalan yang sunyi dan menyakitkan. Tapi mungkin, inilah satu-satunya cara menyelamatkan nyawa saudara kita saat tangan umat belum memegang pedang kekuasaan yang utuh.
Kita doakan para pemimpin kita. Semoga manuver berisiko ini berbuah manis. Semoga kelak, Allah berikan Tamkin (kekuatan/kekuasaan) yang sejati bagi Dunia Islam, sehingga kita punya "taring" untuk membebaskan Palestina tanpa perlu lagi berkompromi dengan penjahat.


Posting Komentar