Masyumi RI Sebut 'Era Emas' Jokowi & Anies Tamat: Ditinggal Pemodal, Hadapi Badai Besar Dan Di Titik Terlemah!
Masyumi RI Sebut 'Era Emas' Jokowi & Anies Tamat: Ditinggal Pemodal, Hadapi Badai Besar Dan Di Titik Terlemah!
JAKARTA – Peta politik tanah air kembali memanas setelah Ketua Majelis Syuro DPP Partai Masyumi RI, Abdullah Amas, melontarkan kritik pedas terhadap dua tokoh besar, Jokowi dan Anies Baswedan. Amas menilai kekuatan politik keduanya kini sedang berada di titik nadir akibat terjangan "badai" yang tak kunjung usai.
Dalam pernyataannya, Amas menyoroti posisi Jokowi dan Anies yang dianggapnya kian terpojok. Ia bahkan memberi peringatan keras bahwa dukungan logistik dari para "bandar" atau pemodal politik mulai goyah.
"Mereka menghadapi badai. Jokowi dan Anies dalam posisi selemah-lemahnya. Khawatirnya, pemodal politik juga makin banyak yang sadar untuk tidak ikut ke gerbong ini lagi," tegas Abdullah Amas kepada media.
Sindiran Keras untuk Partai Gerakan Rakyat Tak hanya menyasar personal, Amas juga menyoroti performa Partai Gerakan Rakyat yang dinilai gagal memenuhi ekspektasi. Menurutnya, partai tersebut hanya terlihat meriah saat seremoni deklarasi, namun kehilangan taji di akar rumput.
Amas menilai ada kegagapan dalam barisan pendukung Jokowi saat menghadapi serangan politik belakangan ini. Hal yang sama terjadi pada lingkaran Anies Baswedan yang dianggap minim pengalaman dalam urusan party building atau membangun mesin partai yang solid.
"Membangun partai tidak cukup modal narasi dan semangat heroik saja. Perlu sumber daya dan strategi yang kuat," tambahnya.
Basis Massa Terpecah Lebih lanjut, Amas membedah penyebab melemahnya pengaruh Anies. Ia melihat adanya perpecahan di barisan pendukung "Perubahan". Munculnya partai-partai baru yang membawa embel-embel serupa membuat basis massa Anies tidak lagi solid dan gagal menyatu di bawah bendera Partai Gerakan Rakyat.
"Sebagian pendukung Anies sudah pecah, ada yang buat partai tertentu yang juga bawa nama perubahan. Di situ kan basis lumayannya Anies, tapi mereka tidak menyatu dengan Partai Gerakan Rakyat," pungkas Amas.
Kritik tajam ini seolah menjadi alarm bagi kedua kubu untuk segera melakukan konsolidasi sebelum benar-benar ditinggalkan oleh para pendukung dan penyokong dana di tengah badai politik yang kian kencang.


Posting Komentar