Tantangan Partai Gerakan Rakyat dan Partai Gema Bangsa : Sia-Sia Berupaya Rebut Basis Islam Maupun Basis Perindo-NasDem
Lanskap politik Indonesia pasca-Reformasi mencatat sejarah yang keras bagi partai-partai baru. Menurut Mardiyanto, pengamat politik dari Lembaga Abdullah Amas Strategic (Lembaga AAS), sejauh ini hanya Prabowo Subianto (Gerindra) dan Surya Paloh (NasDem) yang berhasil membawa partai bentukan mereka menjadi kekuatan melegenda di kancah nasional.
Kini, muncul dua penantang baru: Partai Gerakan Rakyat yang diinisiasi lingkaran Anies Baswedan dan Partai Gema Bangsa. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah mereka punya napas panjang atau hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah pemilu?
Gema Bangsa: Mencuri Ceruk NasDem dan Perindo?
Partai Gema Bangsa hadir dengan kepemimpinan M. Rofiq, sosok berpengalaman yang pernah menjabat Sekjen di Partai Matahari Bangsa, Perindo, hingga NasDem. Dengan komposisi pengurus yang didominasi eks-kader Perindo dan NasDem, strategi Gema Bangsa terlihat jelas: mencoba "mempeloroti" basis suara nasionalis dari partai induk sebelumnya.
Partai Gema Bangsa pun meski berupaya menarik suara dari basis NasDem dan Perindo agak sulit karena Nasdem dan Perindo dengan sumber daya yang lebih besar juga Ikon Partainya dengan rendah hati perlu disampaikan bukan lawan tanding kekuatan logistik barisan Ketum Gema Bangsa.
Mardiyanto mengingatkan bahwa pasar nasionalis sudah sangat sesak.
Dominasi Partai Mapan: PDIP, Golkar, dan Demokrat masih sangat kokoh mengolah basis nasionalis.
Belajar dari PSI: Meskipun agresif merebut tokoh NasDem dan PDIP serta didukung pendanaan yang masif, PSI terbukti tetap kesulitan menembus ambang batas parlemen. Gema Bangsa harus berhitung cermat agar tidak sekadar menjadi "PSI jilid dua" yang gagal di akhir.
Anies dan Dilema Basis Kanan
Di sisi lain, Partai Gerakan Rakyat yang diinisiasi lingkaran Anies Baswedan mencoba menggarap basis pemilih kanan. Namun, langkah ini justru berisiko menciptakan musuh baru di kalangan sekutu lama.
Kehadiran partai ini diprediksi akan menyedot suara dari partai-partai yang selama ini mendukung Anies, seperti PKS dan Partai Ummat. Mardiyanto menilai hal ini bisa memicu kemarahan elite partai-partai tersebut. Belum lagi persaingan ketat dengan partai berbasis kanan atau massa organisasi lainnya seperti:
Partai Gelora
Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) besutan Anas Urbaningrum (HMI)
Partai Bulan Bintang (PBB)
Partai Masyumi RI
Realitas Politik: Panggung dan Pendanaan
Tantangan terberat bagi Anies Baswedan saat ini adalah hilangnya panggung jabatan publik. Tanpa posisi gubernur atau jabatan menteri, menjaga elektabilitas partai dalam jangka panjang adalah pekerjaan berat.
Selain itu, faktor pendanaan menjadi titik lemah. Pasca keluar dari lingkaran pengaruh Surya Paloh, dukungan finansial Gerakan Rakyat dianggap tidak sekuat dulu. Mardiyanto bahkan membandingkan situasi ini dengan tokoh senior seperti Jusuf Kalla (JK) atau Tamsil Linrung.
"Secara historis, JK jauh lebih berpengalaman dalam mengonsolidasi massa. Saat Surya Paloh kalah di Munas Golkar dan mendirikan Ormas NasDem, JK mampu menempatkan orang-orang Golkar pro-dia di sana. Sementara Anies, saat ini hanya bergantung pada sisa-sisa suara pro-Anies yang sebagian besar akan menggerus basis PKS dan Partai Ummat saja," ujar Mardiyanto.
Kesimpulan
Sejarah mencatat bahwa Wiranto pernah sukses dengan Hanura, namun langsung tenggelam ketika kepemimpinan beralih ke Oesman Sapta Odang. Pelajaran ini menunjukkan bahwa partai baru membutuhkan lebih dari sekadar "figur pusat"—mereka butuh struktur yang mapan, pendanaan yang stabil, dan ceruk suara yang tidak bertabrakan dengan sekutu sendiri.
Tanpa itu, Partai Gerakan Rakyat dan Gema Bangsa hanya akan menjadi pemain pelengkap di tengah dominasi poros Prabowo dan Surya Paloh yang sudah teruji waktu.
Apakah Anda ingin saya mempertajam bagian analisis mengenai dampak persaingan ini terhadap perolehan kursi PKS di pemilu mendatang?


Posting Komentar