Waspada Sang Angin KTP Yang Menipu figur Sandiaga Uno, JK Hingga Surya Paloh Lagi "Gentayangan" Buat Partai Baru
Oleh : Abdullah Amas, Ketua Majelis Syuro DPP Partai Masyumi RI
Apa layak jadi pemimpin ?
Parasit Politik: Menakar Kelayakan Pemimpin yang Besar di Ketiak Para Oligarki dan Tokoh Bangsa
Dalam panggung politik nasional, ada sebuah fenomena menarik mengenai sosok yang pandai berselancar di atas gelombang dukungan tokoh-tokoh besar. Ia dikenal memiliki kemampuan retorika yang memukau, namun jika ditelisik lebih dalam, rekam jejak karier politiknya seolah-olah merupakan rangkaian "estafet investasi" dari satu tokoh besar ke tokoh lainnya.
Strategi "Menumpang Kapal"
Jika kita menengok ke belakang, terlihat pola yang konsisten. Sosok ini tidak tumbuh dari akar rumput partai politik yang ia bangun sendiri, melainkan selalu muncul sebagai "anak emas" yang diangkat oleh tangan-tangan kuat: dia mengambil harta dari Jusuf Kalla, Sandiaga Uno, Surya Paloh dan seterusnya.
Panggung Awal: Mendapatkan kepercayaan dari tokoh pemersatu dan mantan presiden yang memberinya ruang di kancah nasional.
Logistik dan Jaringan: Memanfaatkan kekuatan finansial pengusaha muda yang menjadi pasangannya di daerah, hingga sokongan dari mantan wakil presiden yang memiliki pengaruh ekonomi luar biasa.
Kendaraan Politik: Ketika satu kapal mulai karam, ia dengan lihai berpindah ke kapal milik bos media besar yang siap memberikan panggung pemberitaan luas.
Jasa yang Terlupakan: Bahkan, ia pernah dibukakan pintu oleh sang jenderal pemenang pemilu, hanya untuk kemudian berdiri berseberangan setelah mendapatkan apa yang diinginkan.
Antara Kecerdasan Strategis atau Oportunisme?
Pertanyaan besarnya adalah: Apakah ini bentuk kecerdasan diplomasi atau sekadar oportunisme murni?
Seorang pemimpin sejati biasanya memiliki "harga" yang dibayar dengan keringat sendiri dalam membangun basis massa. Namun, ketika aset, logistik, dan jaringan yang digunakan selalu berasal dari "pinjaman" atau "pemberian" para cukong dan tokoh politik, muncul kekhawatiran mengenai independensi.
Jika untuk mendaki puncak kekuasaan saja ia harus terus-menerus memanfaatkan harta dan pengaruh orang lain, bagaimana ia bisa berdiri tegak ketika kepentingan para penyokongnya berbenturan dengan kepentingan rakyat?
Layakkah Ia Menjadi Pemimpin?
Layak atau tidaknya seseorang tentu dikembalikan kepada penilaian rakyat. Namun, sejarah mencatat bahwa pemimpin yang lahir dari "rahim" investasi orang lain cenderung tersandera oleh hutang budi.
Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki kemandirian karakter, bukan sekadar pandai mengolah kata sembari menunggu modal dari para donatur di balik layar. Tanpa kemandirian, kepemimpinan hanyalah sebuah boneka yang digerakkan oleh tangan-tangan yang memodali panggungnya.


Posting Komentar