SKAKMAT! Rugi Ikut Ketum Partai Berlabel Islam 'Miskin & Pelaku Syirik Modern': Sudah Gak Dapat Pahala, Ikut Miskin Pula!
JAKARTA – Pengamat dari Lembaga Abdullah Amas Strategic, Mardiyanto, melontarkan kritik pedas yang menggoncang konstelasi politik nasional, khususnya bagi partai-partai yang mengusung label Islam. Dalam pernyataan terbarunya, ia menyoroti degradasi kualitas kepemimpinan para Ketua Umum partai berbasis massa Muslim yang dianggapnya telah kehilangan taji, baik secara spiritual maupun finansial.
Mardiyanto tidak ragu menyebut bahwa banyak pemimpin partai berlabel Islam saat ini terjebak dalam praktik yang ia istilahkan sebagai "Syirik Modern". Tak hanya itu, ia juga menyindir kondisi kantong para petinggi partai tersebut yang dianggap tidak mampu menyokong operasional perjuangan politik.
Kritik Pedas: "Sudah Gak Dapat Pahala, Ikut Miskin Pula"
Dengan nada satire yang kental, Mardiyanto menggambarkan kerugian ganda bagi masyarakat yang masih fanatik mengikuti pemimpin partai dengan kriteria tersebut.
"Partai berlabel Islam sekarang banyak yang sudah Ketua Umumnya ga punya duit, pelaku syirik modern lagi. Ikut mereka mah sudah pahala ga dapat, ikut miskin pula, hahahahaha," ujar Mardiyanto dengan nada pedas.
Menurutnya, label "Islam" yang digunakan seringkali hanya menjadi komoditas jualan politik, sementara perilakunya justru menduakan nilai-nilai ketuhanan demi ambisi sesaat—syirik modern seperti pemajangan gambar mahluk bernyawa didepan umum seperti yang dikecam oleh Hadits Nabi soal larangan pemajangan gambar mahluk bernyawa ditempat umum
Belajar dari Sultan Muhammad Al-Fatih
Lebih lanjut, Mardiyanto mengingatkan bahwa sejarah kejayaan Islam tidak pernah dibangun hanya dengan retorika kosong atau doa tanpa modal. Ia mengambil contoh heroik Khalifah Muhammad Al-Fatih saat menaklukkan Konstantinopel.
"Mereka lupa bahwa perjuangan Islam itu memerlukan biaya banyak. Al-Fatih itu keluar duit ratusan miliar untuk sebuah operasi penaklukan bersejarah. Ada modal, ada teknologi, ada logistik," tegasnya.
Ia menilai, tanpa kemandirian finansial yang kuat, partai-partai Islam hanya akan menjadi "peminta-minta" politik yang akhirnya disetir oleh pemilik modal besar (oligarki), sehingga agenda perjuangan umat pun menjadi terbengkalai.
Warning bagi Pemilih
Pernyataan Mardiyanto ini menjadi peringatan keras bagi konstituen agar lebih selektif dalam memberikan dukungan. Baginya, pemimpin yang tidak selesai dengan masalah finansialnya sendiri dan memiliki integritas tauhid yang rapuh hanya akan membawa pengikutnya ke dalam jurang kemiskinan, baik secara ekonomi maupun spiritual.
Kritik ini pun kini menjadi bola panas di tengah masyarakat, menuntut partai-partai berlabel Islam untuk segera berbenah jika tidak ingin ditinggalkan oleh umat yang semakin rasional


Posting Komentar