Partai MASYUMI RI Sebut Logo Partai Gerakan Rakyat Kurang Greget, Semoga Bukan Karena Konsultan Politiknya Ugal-Ugalan!
JAKARTA – Ketegangan bercampur harap menyelimuti Ballroom Hotel Arya Duta Jakarta pada Minggu, 18 Januari 2026. Sejak pagi, ribuan pengurus Gerakan Rakyat dari seluruh penjuru Indonesia memadati lokasi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Tahun 2026. Wajah-wajah serius dan bisik-bisik penuh spekulasi menggambarkan bahwa forum ini bukan sekadar agenda rutin organisasi biasa.
Puncak ketegangan terjadi ketika satu per satu Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) menyuarakan tuntutan yang sama: Gerakan Rakyat harus bertransformasi dari organisasi kemasyarakatan (Ormas) menjadi Partai Politik. Aspirasi akar rumput ini akhirnya resmi diketok, menandai lahirnya penantang baru di kancah demokrasi elektoral Indonesia.
Kritik Pedas MASYUMI RI: "Logo Kurang Greget"
Namun, euforia lahirnya Partai Gerakan Rakyat langsung disambut kritik pedas dari sesama pemain politik. Ketua Majelis Syuro DPP Partai MASYUMI RI, Abdullah Amas, secara terang-terangan menyayangkan identitas visual partai baru tersebut. Menurutnya, logo yang diperkenalkan tidak mencerminkan kekuatan besar yang selama ini diklaim oleh para pendukungnya.
"Ya, kami sayangkan logo Partai Gerakan Rakyat ini kurang greget, terasa hambar. Semoga ini bukan karena konsultan politiknya yang amatiran atau bekerja secara ugal-ugalan," ujar Amas dengan nada menyindir.
Amas menilai, sebagai partai yang lahir dari rahim gerakan besar, estetika dan filosofi visual seharusnya mampu membakar semangat massa, bukan justru terlihat ala kadarnya.
Tantangan untuk Anies Baswedan: "Jangan Takut Urus Parpol"
Tak berhenti pada urusan logo, Abdullah Amas juga menyoroti sosok Anies Baswedan yang selama ini identik dengan Gerakan Rakyat. Ia memberikan tantangan terbuka agar Anies tampil secara "jantan" di garda terdepan struktur partai.
"Anies harus hapus stigma kalau dia tak berani urus parpol. Kalau mau jantan, dia yang harus langsung jadi Ketua Partai," tegas Amas.
Lebih lanjut, Amas menekankan bahwa membangun partai politik membutuhkan komitmen total, baik secara manajerial maupun finansial. Ia mengingatkan agar Anies tidak hanya menjadi "figur pajangan" semata.
Tantangan Nyata: Menghapus citra sebagai tokoh yang hanya menumpang kendaraan politik orang lain.
Logistik: Menunjukkan kesiapan untuk "jor-joran" dana dalam membangun infrastruktur partai dari nol.
Kepemimpinan: Menguji kemampuan manajerial Anies dalam mengelola dinamika internal partai yang jauh lebih kompleks dibanding ormas.
Kritik tajam dari Partai MASYUMI RI ini seolah menjadi "ucapan selamat datang" yang panas bagi Partai Gerakan Rakyat di belantara politik nasional. Apakah Anies Baswedan akan menjawab tantangan ini dengan menduduki kursi Ketua Umum? Ataukah Partai Gerakan Rakyat akan melakukan evaluasi total terhadap "wajah" politik mereka? Kita tunggu langkah selanjutnya.


Posting Komentar