Skakmat Partai Anies! Ketua Masyumi RI Sebut Anies Cuma 'Karyawan Politik', Bukan Pejuang!
Keterangan Gambar : Ketua Majelis Syuro RI Abdullah Amas saat diatas mimbar Mobil Komando , Amas "Skakmat Partai Anies! Ketua Masyumi RI Sebut Anies Cuma 'Karyawan Politik', Bukan Pejuang!"
Dunia politik Tanah Air kembali memanas! Kabar mengenai rencana Anies Baswedan mendirikan partai politik baru justru mendapat sambutan "dingin" dan sindiran pedas dari tokoh senior. Tak tanggung-tanggung, Ketua Majelis Syuro DPP Partai MASYUMI RI, Abdullah Amas, melontarkan kritik yang menusuk jantung.
"Siapa bilang Anies mendirikan partai?" tanya Amas retoris.
Menurutnya, publik jangan terlalu cepat percaya. Amas menilai Anies bukanlah tipikal seorang "Pejuang Politik" yang mau berdarah-darah membangun fondasi dari nol. Sebaliknya, ia menjuluki mantan Gubernur DKI tersebut sebagai sosok yang hanya "mau diperjuangkan."
1. Tipikal "Karyawan Politik"?
Amas memberikan tantangan terbuka. Baginya, Anies baru bisa disebut pejuang jika ia berani masuk ke kepengurusan partai yang sudah ada dan bekerja keras membesarkannya. Selama ini, Anies dianggap hanya menunggu momentum saat karpet merah sudah digelar oleh pihak lain.
2. Efek "Racun" bagi Partai Besar?
Mengapa partai-partai besar kini terlihat menjaga jarak? Amas membongkar sebuah realita pahit. Ada ketakutan nyata di kalangan elit parpol bahwa mendekati Anies justru menjadi blunder elektoral.
"Mereka enggak mau gara-gara Anies, suara partai turun drastis ke level 1,1%," pungkas Amas dengan nada menyindir. Kenapa Partai lain ogah usung Anies ya karena mentalitas khianat Anies ke Jokowi, Prabowo dan lain - lain
3. Nasib Partai Baru: Nyata atau Wacana?
Jika benar Anies ingin membuat partai, pertanyaannya adalah: Siapa yang akan bekerja di balik layar? Apakah Anies akan turun langsung berkeringat mengurus ranting dan cabang, atau kembali menunggu "keajaiban" dari para relawan?
Kritik Amas ini seolah menjadi pengingat bagi para pendukung Anies bahwa panggung politik tidak selamanya tentang retorika di podium, melainkan tentang militansi di lapangan.


Posting Komentar