Telusuri
24 C
id
  • Internasional
  • Daerah
  • Bisnis
  • Agama
  • Keluarga
  • Kontak
  • Iklan
Amas Persada News
pasang
  • Home
  • Politik
    • All
    • Politik
    • Pemerintahan
    • Pilkada
    • Tokoh Politik
  • Pemerintahan
    • Pemerintahan
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Organisasi
Amas Persada News
Telusuri
Beranda Rentetan Sejarah Perpecahan Politik Ummat Sejak Era Sarekat Islam, MASYUMI, PBB Hingga Kini Rentetan Sejarah Perpecahan Politik Ummat Sejak Era Sarekat Islam, MASYUMI, PBB Hingga Kini

Rentetan Sejarah Perpecahan Politik Ummat Sejak Era Sarekat Islam, MASYUMI, PBB Hingga Kini

Redaksi APN
Redaksi APN
19 Feb, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp


 Rentetan Sejarah Perpecahan Politik Ummat Sejak Era Sarekat Islam, MASYUMI, PBB Hingga Kini


Disusun Oleh Pusat Kajian Politik Sarekat Islam, Muhammadiyah dan MASYUMI (PUSKAMIM)


Versi lebih simple ; 


Potret buram juga melanda PBB(Partai Bulan Bintang)  yang semula digawangi jaringan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Kursi DPR yang diperoleh PBB pada Pemilu 1999 dan 2004 rupanya tidak mampu bertahan di pemilu selanjutnya. Sejumlah kader yang resistan terhadap keputusan PBB mendukung Jokowi di Pilpres 2019 lantas mencetuskan Partai Masyumi. Sebagian faksi “Masyumi reborn” mendeklarasikan PDRI (Partai Dakwah Rakyat Indonesia) dan gerbong Mantan Ketum PBB M.S Kaban memilih Partai Ummat pimpinan Amien Rais yang mendudukkan M.S Kaban sebagai Wakil Ketua Majelis Syuro. Sebelumnya di 2015 an telah berdiri Ormas Akurat Indonesia (Amanat Kejujuran Untuk Rakyat Indonesia) yang didirikan oleh eks PBB dan sempat bersama Rhoma Irama mendirikan Partai IDAMAN (Islam Damai Aman) meski Partai IDAMAN tak jadi ikut pemilu serta memilih gabung dengan PAN dimana Rhoma Irama melangkah tanpa restu Ormas AKURAT Indonesia





Sebagian lagi dibawah Mantan Wakil Bendahara Umum Pemuda Bulan Bintang Abdullah Amas mencetuskan Partai MASYUMI RI.




Sebetulnya bukan kali ini saja PBB pecah. Sejak dulu era awal sudah ada Partai Islam Indonesia pimpinan Anwar Hardjono dan PAS Indonesia (Partai Al-Islam Sejahtera Indonesia). PAS Indonesia dan PBB lahir dari faksi pemberontak Yusril di PBB yaitu kelompok 16. Sebagian lagi memilih pindah ke Gerindra dan PPP. Ahmad Sumargono sempat memilih PPP dan mendirikan Ormas GPMI (Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia)




Jauh sebelumnya PBB berdiri. Sejumlah Partai mengklaim sebagai Pewaris MASYUMI diantaranya PPIM, Partai MASYUMI Baru dan Partai Ummat Islam (PUI).




PBB sejatinya adalah penerus MASYUMI yang sebelumnya di era Orba menjadi PARMUSI lalu PARMUSI melebur ke PPP. MASYUMI Dan PARMUSI sendiri didominasi utama kekuatan basis Muhammadiyah.




Nasib PBB yang tragis karena basis utama MASYUMI memilih Partai Amanat Nasional (PAN) dan Golkar




Kini jaringan alumni PII (Pelajar Islam Indonesia) yang sejatinya merupakan salah satu kekuatan unggulan basis MASYUMI memilih menjadi bagian utama perjuangan sejarah Partai Gerindra. Misal Fadli Zon dan Ahmad Muzani. Selain tentunya elite HMI yang memilih Golkar




Nasib PBB kian terseok-seok kala barisan Mantan Sekjen PBB Afriansyah Noer memilih gabung ke Partai Demokrat




Aslinya berbicara PBB dan Politik MASYUMI tak lepas dari arah politik akar rumput Muhammadiyah yang menjadi basis utama PBB dan MASYUMI. 


Bahkan Partai Amanat Nasional (PAN) sendiri yang merupakan salah satu Partai yang Mayoritas jadi Pilihan Warga Muhammadiyah 


Bulan Bintang yang Terbelah: Riwayat Panjang Perpecahan Pewaris Masyumi

Oleh: Redaksi


Wajah politik Islam Indonesia tak ubahnya sebuah mosaik yang retak. Di pusat retakan itu, Partai Bulan Bintang (PBB) berdiri sebagai saksi bisu bagaimana syahwat politik dan perbedaan haluan strategi mampu membuyarkan mimpi besar penyatuan umat. PBB, yang semula digadang-gadang sebagai "titisan" sah Masyumi, kini justru tampak seperti kapal induk yang perlahan karam, ditinggalkan para perwiranya yang memilih sekoci masing-masing.


Gugurnya Sang Pewaris

Sejarah mencatat, PBB lahir dari rahim Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Pada Pemilu 1999 dan 2004, partai ini masih taji dengan raihan kursi di Senayan. Namun, kejayaan itu luruh. Titik nadir terjadi saat arah angin politik berubah haluan: dukungan PBB kepada Joko Widodo pada Pilpres 2019 menjadi pemicu eksodus besar-besaran.


Keputusan Yusril Ihza Mahendra saat itu memicu resistansi akut. Tak butuh waktu lama, faksi-faksi yang kecewa segera memisahkan diri:


Faksi "Masyumi Reborn": Melahirkan Partai Masyumi dan Partai Dakwah Rakyat Indonesia (PDRI).


Gerbong M.S. Kaban: Mantan Ketua Umum PBB ini memilih berlabuh ke Partai Ummat besutan Amien Rais, menduduki posisi strategis sebagai Wakil Ketua Majelis Syuro.


Sayap Muda: Abdullah Amas, mantan Wakil Bendahara Umum Pemuda Bulan Bintang, mengibarkan bendera Partai Masyumi RI.


Penyakit Lama di Tubuh Hijau-Hitam

Sebetulnya, hobi "pecah kongsi" ini bukan barang baru bagi PBB. Sejak era awal, bibit perpecahan sudah menyemai. Anwar Hardjono pernah memimpin Partai Islam Indonesia, sementara faksi yang menentang kepemimpinan Yusril—dikenal sebagai Kelompok 16—sempat membidani lahirnya PAS Indonesia (Partai Al-Islam Sejahtera Indonesia).


Tak hanya mendirikan partai baru, sebagian kader memilih "menyeberang" ke rumah yang sudah mapan. Ahmad Sumargono, tokoh ikonik PBB, sempat memilih PPP. Sementara yang lain memilih merapat ke Gerindra.


"PBB sejatinya adalah penerus Masyumi yang melewati metamorfosis panjang; dari Masyumi menjadi Parmusi di era Orba, lalu melebur ke PPP, sebelum akhirnya lahir kembali pasca-Reformasi."


Ironi Basis Muhammadiyah

Tragedi terbesar PBB mungkin terletak pada kegagalannya menjaga basis massa. Secara historis, Masyumi dan Parmusi didominasi oleh kekuatan Muhammadiyah. Namun dalam realitas elektoral, warga Muhammadiyah justru lebih merasa "at home" di Partai Amanat Nasional (PAN) atau bahkan Golkar.


Fragmentasi di tubuh internal "keluarga besar" ini kian nyata:


Migrasi Intelektual: Jaringan alumni Pelajar Islam Indonesia (PII) yang menjadi tulang punggung Masyumi kini justru menjadi elit di Partai Gerindra, sebut saja Fadli Zon dan Ahmad Muzani.


Eksodus Birokrat Partai: Teranyar, bergabungnya mantan Sekjen PBB, Afriansyah Noer, ke Partai Demokrat semakin mempertegas kesan bahwa PBB tengah mengalami pengosongan talenta.


HMI dan Golkar: Elit Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang secara historis dekat dengan napas Masyumi justru lebih banyak mewarnai pohon beringin Golkar.


Benang Merah dari Sarekat Islam

Membicarakan PBB adalah membicarakan silsilah panjang dakwah politik. Ada benang merah yang menyambung dari Sarekat Islam (SI) pimpinan HOS Tjokroaminoto ke K.H. Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah. Dari sana, Masyumi lahir, disusul DDII, hingga kemudian mekar (dan layu) menjadi PBB, PAN, PUI, PMB, hingga Partai Pelita-nya Din Syamsuddin.


Kini, dengan munculnya Partai Ummat, Partai Pelita, hingga Partai Amanat Bangsa (AMAS), politik Islam Indonesia tampak seperti sebuah pohon yang dahannya terus bercabang, namun batangnya kian keropos. PBB, sang pewaris utama, kini harus berjuang di tengah sesaknya ruang politik yang ia bangun sendiri, di antara sejarah yang gemilang dan realitas yang kian buram.




Versi Berita Lebih Dalam Hasil Kajian Pusat Kajian Politik SI-MASYUMI- Muhammadiyah (PKPSM2)  ; 

Anatomi Perpecahan Waris Masyumi: Dari Pusaka Natsir hingga Diaspora Bulan Bintang

 Politik


Di lantai markas besar Partai Bulan Bintang (PBB), bayang-bayang Mohammad Natsir seolah masih bersemayam. Namun, ruh persatuan yang dulu diikat kuat oleh Masyumi kini tampak tercerai-berai menjadi kepingan faksi yang saling menjauh. PBB, yang dideklarasikan pada 17 Juli 1998 sebagai pelanjut tongkat estafet Masyumi, kini menghadapi ujian eksistensial paling berat dalam sejarahnya: menjadi "rumah besar" yang ditinggalkan penghuninya.


Genetika Politik: Dari Sarekat Islam ke Parmusi

Memahami PBB adalah memahami silsilah panjang politik Islam modernis di Indonesia. Akarnya menghujam jauh ke era Sarekat Islam (SI) pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Dari rahim SI, lahir tokoh-tokoh besar seperti K.H. Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah. Hubungan historis ini bukan sekadar klaim; kehadiran Tjokroaminoto dalam agenda-agenda awal Muhammadiyah adalah bukti adanya benang merah ideologis antara gerakan politik dan dakwah.


Pasca-kemerdekaan, Masyumi berdiri sebagai kekuatan raksasa sebelum akhirnya dibubarkan oleh Soekarno pada 1960. Di era Orde Baru, aspirasi eks-Masyumi sempat ditampung dalam Parmusi (Partai Muslimin Indonesia). Namun, lewat kebijakan fusi partai tahun 1973, Parmusi dipaksa melebur ke dalam PPP. Di sinilah letak luka sejarahnya: basis utama Masyumi, terutama warga Muhammadiyah, merasa aspirasinya "terpenjara" dalam struktur PPP yang saat itu sangat dikontrol pemerintah.


Goncangan Kelompok 16 dan Awal Mula Eksodus

Krisis internal PBB sejatinya bukan fenomena baru. Pada awal medio 2000-an, internal partai sudah diguncang oleh Kelompok 16, sebuah faksi pemberontak yang menentang kepemimpinan Yusril Ihza Mahendra. Perselisihan ini melahirkan faksi-faksi kecil seperti PAS Indonesia (Partai Al-Islam Sejahtera Indonesia) dan Partai Islam Indonesia yang dipimpin tokoh kawakan Anwar Hardjono.


Sebagian elit lain memilih jalan pragmatis. Tokoh sekaliber Ahmad Sumargono sempat menyeberang ke PPP, sementara gerbong intelektual muda seperti Fadli Zon dan Ahmad Muzani—yang besar di lingkungan Pelajar Islam Indonesia (PII)—justru menemukan pelabuhan politiknya di Gerindra. Fenomena ini menandai pergeseran besar: PBB kehilangan "otak" strategisnya ke partai-partai nasionalis-religius.


Peran Abdullah Amas dan Lahirnya Masyumi RI

Di tengah kemelut pasca-Pilpres 2019, muncul satu nama yang mewakili keresahan akar rumput hijau-hitam: Abdullah Amas. Sebagai mantan Wakil Bendahara Umum Pemuda Bulan Bintang, Amas merupakan representasi dari faksi muda yang merasa PBB telah kehilangan kompas ideologisnya akibat terlalu merapat ke koalisi pemerintahan Joko Widodo.


Amas tidak sekadar protes di media sosial. Ia mengambil langkah konkret dengan mencetuskan Partai Masyumi RI. Peran Amas sangat krusial dalam:


Konsolidasi Mantan Kader: Mengumpulkan sisa-sisa loyalis PBB yang merasa dikhianati oleh keputusan elit pusat.


Narasi Kembali ke Khittah: Amas secara konsisten menyuarakan bahwa PBB telah mengalami disorientasi politik, dan satu-satunya jalan adalah menghidupkan kembali marwah Masyumi yang murni (pure).


Fragmentasi Kekuatan Muda: Langkah Amas ini memperlebar jarak antara struktur resmi PBB dengan organ sayap pemudanya, yang selama ini menjadi mesin penggerak partai di daerah-daerah.


Eksodus ini kemudian diperparah oleh bergabungnya mantan Sekjen PBB, Afriansyah Noer, ke Partai Demokrat. Pindahnya sang motor organisasi ini menjadi sinyal kuat bahwa "kapal" PBB sedang mengalami kebocoran di level manajerial paling vital.


Peta Fragmentasi: Satu Akar, Banyak Dahan

Kini, warisan Masyumi terpecah ke dalam spektrum yang sangat luas. Muhammadiyah sebagai basis massa terbesar tetap menjadi rebutan:


PAN: Menjadi wadah utama warga Muhammadiyah, meski kemudian pecah lagi dengan lahirnya Partai Ummat (Amien Rais) dan Partai Pelita (Din Syamsuddin).


Partai Ummat: Diperkuat oleh eks-Ketua Umum PBB M.S. Kaban sebagai Wakil Ketua Majelis Syuro.


Partai Masyumi & PDRI: Menampung faksi-faksi yang lebih kental nuansa dakwahnya.


Partai Masyumi RI: Gerbong yang diinisiasi Abdullah Amas sebagai bentuk perlawanan terhadap garis politik Yusril.


Nasib Tragis Sang Pewaris

Tragisnya, PBB yang secara legal-formal merupakan ahli waris terdekat Masyumi, justru kini semakin terseok-seok melampaui ambang batas parlemen. Basis massanya yang "hijrah" ke PAN, Golkar, Gerindra, hingga Demokrat menunjukkan bahwa identitas sebagai "penerus Masyumi" tidak lagi cukup untuk memenangkan hati pemilih tanpa dibarengi dengan soliditas internal dan ketajaman strategi.


Sejarah PBB adalah sejarah tentang bagaimana sebuah cita-cita besar bisa hancur karena faksionalisme. Dari SI hingga PBB, perjalanan ini membuktikan bahwa di Indonesia, menyatukan politik Islam adalah pekerjaan rumah yang tak kunjung usai

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

- Advertisment -
Responsive Advertisement
- Advertisment -
Responsive Advertisement

Berita Pilihan

Ormas AKURAT Memilih Jalan Masyumi RI Dan Prabowo Dua Periode

Redaksi APN- Februari 19, 2026 0
Ormas AKURAT Memilih Jalan Masyumi RI Dan Prabowo Dua Periode
Ormas AKURAT Nusantara resmi melabuhkan dukungan kepada Partai Masyumi RI. Di saat yang sama, mereka tetap teguh mengawal narasi "Prabowo Dua Periode&qu…

Berita Populer

Bayang-Bayang Emas Hitam di 'Kandang Gajah': Paradoks Ahmad Ali dan Wajah Baru PSI

Bayang-Bayang Emas Hitam di 'Kandang Gajah': Paradoks Ahmad Ali dan Wajah Baru PSI

Februari 14, 2026
Pesan Prof. Dasco Agar Purbaya Jaga Bola Dan Leadership Cool Sang Komandan Kelas A Percepat Solusi Di Rapat DPR-Lintas Kementerian

Pesan Prof. Dasco Agar Purbaya Jaga Bola Dan Leadership Cool Sang Komandan Kelas A Percepat Solusi Di Rapat DPR-Lintas Kementerian

Februari 19, 2026
Rentetan Sejarah Perpecahan Politik Ummat Sejak Era Sarekat Islam, MASYUMI, PBB Hingga Kini

Rentetan Sejarah Perpecahan Politik Ummat Sejak Era Sarekat Islam, MASYUMI, PBB Hingga Kini

Februari 19, 2026

Recent Comments

Berita Pilihan

Geger! "Sindiran Maut" Nandang Burhanudin: Tamparan Keras untuk Retorika Langit Ketum Partai Gelora Anis Matta?

Geger! "Sindiran Maut" Nandang Burhanudin: Tamparan Keras untuk Retorika Langit Ketum Partai Gelora Anis Matta?

Desember 20, 2025
Kisah Nyatanya : Pertolongan Allah Bertubi-Tubi Setelah Menghapus Pemajangan Gambar Bernyawa

Kisah Nyatanya : Pertolongan Allah Bertubi-Tubi Setelah Menghapus Pemajangan Gambar Bernyawa

Desember 20, 2025
GUNCANG DHAKA! Nama Muhammad Qasim Meledak di Twitter (X) Bangladesh Saat Perayaan Hari Kemenangan 16 Desember

GUNCANG DHAKA! Nama Muhammad Qasim Meledak di Twitter (X) Bangladesh Saat Perayaan Hari Kemenangan 16 Desember

Desember 17, 2025

Trending News

Bayang-Bayang Emas Hitam di 'Kandang Gajah': Paradoks Ahmad Ali dan Wajah Baru PSI

Bayang-Bayang Emas Hitam di 'Kandang Gajah': Paradoks Ahmad Ali dan Wajah Baru PSI

Februari 14, 2026
Pesan Prof. Dasco Agar Purbaya Jaga Bola Dan Leadership Cool Sang Komandan Kelas A Percepat Solusi Di Rapat DPR-Lintas Kementerian

Pesan Prof. Dasco Agar Purbaya Jaga Bola Dan Leadership Cool Sang Komandan Kelas A Percepat Solusi Di Rapat DPR-Lintas Kementerian

Februari 19, 2026
Rentetan Sejarah Perpecahan Politik Ummat Sejak Era Sarekat Islam, MASYUMI, PBB Hingga Kini

Rentetan Sejarah Perpecahan Politik Ummat Sejak Era Sarekat Islam, MASYUMI, PBB Hingga Kini

Februari 19, 2026
Amas Persada News

About Us

Amas Persada News Menyajikan Berita Akurat dan Terpercaya, Enak dibaca dan Mendobrak Fakta

Contact us: amaspersadanews@gmail.com

Follow Us

© Copyright Amas Persada News 2024 apn
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Sanggah/Jawab
  • Iklan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kontak