Mosaik Retak Politik Umat: Dari Kejayaan Masyumi hingga Diaspora PBB
Mosaik Retak Politik Umat: Dari Kejayaan Masyumi hingga Diaspora PBB
Wajah politik Islam Indonesia saat ini tampak seperti mosaik yang retak. Partai Bulan Bintang (PBB), yang semula digadang-gadang sebagai pewaris sah Masyumi, kini berada di titik nadir. Sejarah mencatat bahwa syahwat politik dan perbedaan strategi telah membuyarkan mimpi besar penyatuan umat.1.
PBB: Kapal Induk yang DitinggalkanLahir dari rahim Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), PBB sempat berjaya pada Pemilu 1999 dan 2004. Namun, dukungan PBB kepada Jokowi pada Pilpres 2019 memicu eksodus besar-besaran karena resistansi kader di akar rumput.Fragmentasi ini melahirkan faksi-faksi baru:Faksi "Masyumi Reborn": Mendeklarasikan Partai Masyumi dan Partai Dakwah Rakyat Indonesia (PDRI).
Gerbong M.S. Kaban: Mantan Ketum PBB ini memilih bergabung ke Partai Ummat pimpinan Amien Rais dan menjabat Wakil Ketua Majelis Syuro.
Ormas AKURAT Indonesia: Didirikan eks PBB yang sempat bersama Rhoma Irama mendirikan Partai IDAMAN,
sebelum akhirnya Rhoma bergabung ke PAN.Faksi Muda: Di bawah komando Abdullah Amas (eks Wasekjen Pemuda PBB), mereka mencetuskan Partai MASYUMI RI.2. Penyakit Lama "Pecah Kongsi"Perpecahan di tubuh PBB bukan barang baru. Jauh sebelumnya, telah lahir Partai Islam Indonesia pimpinan Anwar Hardjono dan PAS Indonesia. Keduanya lahir dari "Kelompok 16" yang memberontak terhadap kepemimpinan Yusril Ihza Mahendra.Kader-kader potensial lainnya pun berdiaspora:Ahmad Sumargono sempat memilih PPP dan mendirikan ormas GPMI.Afriansyah Noer (Mantan Sekjen PBB) memilih berlabuh ke Partai Demokrat.3. Ironi Basis Muhammadiyah dan Alumni PIISecara historis, Masyumi dan PARMUSI didominasi kekuatan basis Muhammadiyah. Namun, warga Muhammadiyah kini lebih banyak menyalurkan aspirasi ke PAN atau Golkar.Tragedi ini kian nyata melihat kekuatan utama Masyumi lainnya, yakni jaringan alumni Pelajar Islam Indonesia (PII), justru menjadi pilar di Partai Gerindra, seperti sosok Fadli Zon dan Ahmad Muzani. Sementara itu, elite HMI banyak yang memilih Golkar.Abdullah Amas: Lokomotif Muda di Persimpangan SejarahDi tengah kemelut ini, muncul sosok Abdullah Amas. Ia dianggap sebagai jembatan pemikiran antara tradisi Syarikat Islam (SI), Muhammadiyah, dan HMI.Sebagai tokoh yang pernah aktif di PAN, PBB, hingga KOSGORO (Golkar), Amas memiliki akses unik ke lingkar elite eksekutif dan legislatif. Ia mencoba menghidupkan kembali semangat "Neo-Masyumi"—yakni membawa integritas tokoh seperti Mohammad Natsir dan Kasman Singodimedjo ke dalam dinamika politik modern tanpa harus terjebak pada dikotomi lama.Perbandingan Karakteristik PergerakanUnsurKontribusi / Peran Abdullah AmasSyarikat IslamMenghidupkan akar ekonomi rakyat dan nasionalisme religius.MuhammadiyahMenerapkan politik Tajdid (pembaruan) dan kecerdasan berpolitik.HMIMenjaga nalar kritis dan independensi di dalam kekuasaan.PBB / Neo-MasyumiMenjaga moralitas politik dan integritas di level elite partai.
KesimpulanSejarah politik umat dari era H.O.S Tjokroaminoto hingga Yusril Ihza Mahendra membuktikan bahwa menyatukan politik Islam adalah tantangan yang belum usai. Kini, dengan munculnya Partai Ummat, Partai Pelita (Din Syamsuddin), hingga gerakan Abdullah Amas, masa depan politik umat bergantung pada kemampuan mereka untuk berkolaborasi, bukan sekadar berkompetisi di antara dahan yang kian banyak namun batangnya kian keropos.


Posting Komentar