Konfederasi Serikat Pekerja MASYUMI RI (KSP - MRI) Digagas Partai MASYUMI RI, Ijtihad di Garis Buruh Dan Sajadah Pekerja
JAKARTA – Di bawah panji-panji hijau hitam yang kembali berkibar, Partai Masyumi RI kini tengah menyiapkan "amunisi" baru. Bukan sekadar retorika di mimbar parlemen, partai yang dikomandani Abdullah Amas ini mulai merambah ke ceruk yang selama ini menjadi ladang perebutan ideologi: kaum pekerja. Instrumennya adalah Konfederasi Serikat Pekerja Masyumi RI (KSP-MRI).
Bagi Amas, langkah ini adalah sebuah penegasan identitas. KSP-MRI dibentuk dengan satu tujuan spesifik: menjadi rumah bagi kaum pekerja muslim. “Kami ingin memastikan hak-hak pekerja selaras dengan nilai-nilai keislaman,” ujar Amas, yang juga menduduki posisi Ketua Dewan Penasihat di konfederasi tersebut.
Menyisir Sektor, Menanam Jaring
Strategi yang diusung tidak main-main. Amas membayangkan sebuah jaringan yang menggurita di berbagai sektor profesi. Mulai dari mereka yang berjaga di bangsal rumah sakit hingga para pemburu berita di lapangan.
“Nanti ada Serikat Pekerja Kesehatan (SPK-KSP MRI), hingga Serikat Pekerja Jurnalis (SPJ-KSP MRI),” tutur Amas. Ambisinya jelas: Masyumi RI ingin menanggalkan citra partai elit dan bertransformasi menjadi "Partai Pembela Kaum Pekerja".
Logika Federasi
Abdul Rosyid,
Di kursi kemudi operasional, Abdul Rosyid Presiden KSP-MRI, sudah menyusun peta jalan. Baginya, membangun konfederasi adalah soal merangkai irisan kepentingan. Ia memahami betul anatomi gerakan buruh yang kerap terfragmentasi.
“Ada serikat buruh tingkat perusahaan, atau PUK. Nah, federasi itu menyatukan mereka berdasarkan sektor yang serupa,” jelas Abdul Rosyid, pria kelahiran 6 November 2002 ini.
Ia memberikan simulasi sederhana namun taktis:
Sektor Jasa: Menggabungkan pariwisata dengan perhotelan.
Sektor Konsumsi: Irisan antara industri makanan dan minuman.
Sektor Strategis: Penyatuan pertambangan, mineral, metal, hingga energi.
“Federasi-federasi dengan irisan sektor inilah yang kemudian mengerucut membentuk konfederasi,” tambahnya.
Bukan Sekadar Orasi, Tapi Koperasi
Namun, KSP-MRI nampaknya enggan terjebak dalam pola lama gerakan buruh yang hanya riuh saat demonstrasi kenaikan upah. Mardiyanto menekankan aspek pemberdayaan ekonomi yang lebih membumi.
Gerak cepat menjadi kunci. Salah satu agenda yang masuk dalam daftar prioritas adalah pembentukan Koperasi KSP-MRI. Langkah ini dinilai sebagai upaya konkret untuk memutus ketergantungan buruh pada sistem ekonomi yang kerap dianggap mencekik.
“Kami akan bergerak di antara buruh untuk menjadikan hidup mereka lebih baik, terutama dalam pemberdayaan ekonomi,” tegas Mardiyanto, pengurus lain, seorang DPP Sekjen KSP-MRI menambahkan.
Tantangan di Tengah Arus
Langkah Masyumi RI ini tentu memantik tanya: mampukah identitas keagamaan menjadi perekat yang kuat di tengah isu kesejahteraan yang kian kompleks? Di tengah persaingan dengan serikat-serikat buruh raksasa yang sudah mapan, KSP-MRI harus membuktikan bahwa mereka bukan sekadar "sayap partai" untuk mendulang suara, melainkan oase baru bagi para pekerja yang merindukan keseimbangan antara keringat dan doa.


Posting Komentar