Ketum MASYUMI RI Amas Bicara Sekoci Rapuh di Pusaran Paloh: Teka-teki Anies dan Nasib Dugaan PGR Bakal Dilempar Ke NasDem?
Ketum MASYUMI RI Amas Bicara Sekoci Rapuh di Pusaran Paloh: Teka-teki Anies dan Nasib Dugaan PGR Bakal Dilempar Ke NasDem?
Ketua Umum Masyumi RI, Abdullah Amas, melempar "bola panas" ke jantung pendukung Anies Baswedan. Ia mencium aroma skenario "gagal alami" Partai Gerakan Rakyat demi menyelamatkan elektabilitas NasDem. Benarkah Anies tengah menyiapkan pendaratan darurat di pelukan Surya Paloh?
DI SEBUAH ruangan diskusi terbatas di Jakarta Pusat pekan lalu, udara terasa lebih berat dari biasanya. Abdullah Amas, pria yang kini menakhodai Partai Masyumi RI, tidak sedang ingin berbasa-basi. Dengan nada bicara yang terjaga namun tajam, ia menyodorkan sebuah tesis politik yang sanggup membuat telinga para relawan "Anies-isme" memerah.
"Anies itu dekat sekali dengan Surya Paloh," ujar Amas sembari memperbaiki posisi duduknya. "Kalau Paloh berbisik, 'Nies, daripada suara NasDem terbagi ke PGR, lebih baik PGR jadi bagian NasDem saja,' apa Anies bisa menolak?"
Pertanyaan retoris Amas itu bukan sekadar bumbu obrolan warung kopi. Ia sedang memotret sebuah fenomena yang ia sebut sebagai "strategi pengalihan dukungan". Intinya sederhana namun mematikan: Partai Gerakan Rakyat (PGR)—wadah politik yang digadang-gadang menjadi kendaraan mandiri Anies Baswedan—diduga bakal "ditenggelamkan" secara sengaja sebelum sempat mencicipi surat suara di Pemilu 2029.
Aroma Kanibalisme Suara
Analisis Amas berpijak pada kecemasan di Menara NasDem. Pasca-Pemilu 2024, partai pimpinan Surya Paloh itu memang tengah menghadapi turbulensi internal. Migrasi kader ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan partai-partai baru lainnya mulai menggerus struktur di akar rumput. Dalam kalkulasi politik yang dingin, kemunculan PGR milik Anies bukan sekadar kompetitor, melainkan ancaman kanibalisme suara.
Basis pemilih Anies dan NasDem ibarat dua lingkaran yang beririsan tebal. Jika PGR melaju ke panggung 2029, NasDem berisiko kehilangan jutaan suara loyalis Anies yang selama ini mereka tampung. "NasDem butuh Anies untuk menjaga ambang batas parlemen, tapi mereka tidak butuh partai baru Anies," bisik seorang sumber di lingkaran koalisi lama.
Amas meyakini, jalan tengah yang paling pragmatis adalah membubarkan PGR dengan cara halus. Ia menyebutnya sebagai skenario "Gagal Alami". Alibi yang akan digunakan cukup klise: keterbatasan logistik dan kegagalan memenuhi syarat administratif di Komisi Pemilihan Umum (KPU).
"Tinggal bilang ke kader bahwa karena kekuatan kita kurang di beberapa sisi, maka PGR secara alami tidak lolos verifikasi. Itu cara halus untuk merapat kembali ke NasDem," ungkap Amas.
Realitas Tanpa Logistik
Dugaan Masyumi RI ini seolah menelanjangi posisi Anies yang berada di persimpangan sulit. Membangun partai dari nol di Indonesia bukan sekadar urusan gagasan dan retorika; ia adalah industri padat modal yang membutuhkan logistik melimpah dan mesin birokrasi yang mapan.
Tanpa dukungan finansial dari "naga-naga" politik atau restu penguasa, PGR hanyalah sebuah rumah kartu yang rentan runtuh ditiup angin verifikasi. Amas bahkan melangkah lebih jauh dengan memprediksi bahwa Anies tidak hanya akan kembali ke pelukan Paloh, tapi juga harus tunduk pada realitas kekuasaan yang kini digenggam Prabowo Subianto.
"Mohon maaf, atas izin Allah, tanpa kekuatan Paloh dan Prabowo, apalagi Jokowi, ya siapa sih Anies?" cetus Amas pedas. Ia meyakini bahwa pada akhirnya, insting bertahan hidup akan memaksa Anies untuk bersikap realistis. "Percaya saya, pelan tapi pasti Anies ikut Prabowo. Tidak ada pilihan lain bagi tokoh yang tak punya penopang partai mapan saat ini."


Posting Komentar