Belum Ada Sejarahnya Mantan Presiden Berefek Ke Suara Partainya
Belum Ada Sejarahnya Mantan Presiden Berefek Ke Suara Partainya
Hal ini disampaikan oleh Presiden DPP Partai MASYUMI RI Abdullah Amas terkait totalitasnya Jokowi buat PSI.
"Ente lihat aja SBY buat Demokrat, Megawati buat PDIP dan Gus Dur buat PKB ketika jadi Mantan Presiden gimana ceritanya"ujar Amas
Pengamat: Ambisi PSI Rebut Basis PDIP di Jateng-Bali Berisiko Gagal, Jokowi Tak Lagi Jadi Penentu
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berambisi merebut basis suara PDIP di Jawa Tengah dan Bali. Namun, pengamat menilai langkah Kaesang Pangarep ini berisiko besar dan berpeluang gagal menghadapi dominasi PDIP menjelang Pemilu 2029.
Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie, menilai posisi PSI justru kian rapuh meski terus mengaitkan diri dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Menurutnya, dukungan Jokowi tidak lagi menjadi faktor penentu kemenangan politik, apalagi saat ini Jokowi tengah dirundung sejumlah polemik.
“PSI ini baru 2026 sudah bicara Pemilu 2029. Target realistis mereka sebenarnya hanya berjuang lolos ambang batas parlemen 4 persen. Bahkan menembus 3 persen saja masih sangat sulit. Prediksi saya PSI tetap terkapar di Jateng dan Bali,” ujar Jerry, kepada wartawan, Selasa (3/2/2026).
Senada, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai kehadiran Jokowi di sekitar PSI tidak lagi memberikan keuntungan elektoral signifikan.
Menurutnya, puncak potensi elektoral PSI sejatinya sudah terjadi pada Pemilu 2024, saat Jokowi masih menjabat Presiden.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti, menilai PSI keliru dalam mengidentifikasi lawan politik utamanya.
Menurut Ray, pesaing terbesar PSI bukanlah PDIP, melainkan Partai Gerindra.
“Basis pemilih Jokowi sebelumnya banyak berkumpul di Gerindra. Jadi persaingan PSI itu sebenarnya dengan partai-partai dalam lingkaran koalisi Prabowo, khususnya Gerindra. Ini persaingan di dalam, bukan keluar,” ujar Ray.
Ia menegaskan pengaruh mantan presiden terhadap elektabilitas partai terbukti tidak lagi signifikan.
"Mantan presiden terbukti tidak punya efek elektoral besar untuk mendongkrak suara partai,” katanya.
Ray menambahkan, pernyataan Kaesang soal Jawa Tengah sebagai “kendang gajah” lebih tepat dibaca sebagai upaya memompa semangat kader.
Namun secara realistis, peluang PSI untuk lolos ke parlemen pada Pemilu 2029 dinilai sangat berat.
Sebelumnya, Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep menyebut Jawa Tengah merupakan “kandang gajah” dan menargetkan 17 kursi DPRD Provinsi pada Pemilu 2029.
Redupnya PSI
Hal ini disampaikan oleh Presiden DPP Partai MASYUMI RI Abdullah Amas terkait totalitasnya Jokowi buat PSI.
"Ente lihat aja SBY buat Demokrat, Megawati buat PDIP dan Gus Dur buat PKB ketika jadi Mantan Presiden gimana ceritanya"ujar Amas
Ambruknya ‘Jokowi Effect’ di PSI
*Amas Ingatkan Sejarah Kelam Para Mantan Presiden!
Sejarah Tak Pernah Berbohong
Menurut Amas, euforia dukungan tokoh besar seringkali tidak sejalan dengan realita di kotak suara. Ia menantang publik untuk melihat kembali rekam jejak para raksasa politik Indonesia setelah mereka menanggalkan jabatan RI-1.
"Ente lihat aja SBY buat Demokrat, Megawati buat PDIP, dan Gus Dur buat PKB ketika jadi mantan presiden. Gimana ceritanya?" cetus Amas dengan gaya bicaranya yang khas.
Amas menyoroti beberapa poin krusial dalam sejarah politik kita:
SBY & Demokrat: Meski Susilo Bambang Yudhoyono adalah ikon Demokrat, perolehan suara partai tersebut cenderung mengalami fluktuasi dan penurunan setelah masa jabatannya berakhir, meski ia masih sangat aktif turun gunung.
Megawati & PDIP: PDIP sempat mengalami masa-masa sulit di luar pemerintahan (oposisi) sebelum akhirnya kembali bangkit, membuktikan bahwa nama besar saja tidak menjamin stabilitas suara tanpa momentum politik yang tepat.
Gus Dur & PKB: Sejarah konflik internal dan pasang surut suara PKB pasca-era Gus Dur menjadi bukti nyata bahwa "magis" seorang tokoh besar tidak serta merta membuat partai otomatis kebal dari penurunan suara.
Ujian Berat Bagi PSI
Pernyataan Amas ini menjadi "warning" keras bagi PSI yang selama ini seolah menggantungkan nasib pada endorsment Jokowi. Baginya, variabel kemenangan dalam pemilu jauh lebih kompleks daripada sekadar foto di baliho atau kehadiran tokoh ikonik di kampanye.
"Belum ada sejarahnya di negeri ini, seorang mantan presiden punya efek yang benar-benar signifikan untuk mendongkrak suara partainya secara drastis setelah mereka turun takhta," tambah Amas.
Kesimpulan: Kerja Akar Rumput vs Figuritas
Bagi Partai Masyumi RI, pesan yang ingin disampaikan Amas jelas: PSI jangan terlalu terbuai dengan bayang-bayang Jokowi. Rakyat pemilih seringkali memiliki nalar yang berbeda ketika sang tokoh sudah tidak lagi memegang tongkat kendali kekuasaan.


Posting Komentar