Langkah Pramono Diapresiasi, JAM-HMI Dan AMAS-JAK (Aliansi Masyarakat Asli Jakarta) Puji Kebijakan Pramono Menata Kawasan Kali Kebon Melati
Abdullah Amas, Koordinator Aliansi Masyarakat Asli Jakarta (AMAS-JAK), Koordinator Jaringan Alumni Muda HMI Yang juga dikenal Founder Media Online Amas Persada News dan Lembaga Abdullah Amas Strategic mengapresiasi langkah Pramono yang setelah 60 tahun masyarakat didaerah Kawasan Kebon Melati itu.
Ya, Senandung Keadilan di Pinggir Kali: Kala Kebon Melati Menghapus Luka Penggusuran
Ada napas lega yang berhembus pelan di tepian Kali Kebon Melati. Di bawah langit ibu kota yang kerap riuh oleh deru ekskavator dan isak tangis penggusuran, sebuah babak baru resmi dimulai. Selama enam dekade—kurun waktu yang cukup panjang untuk menanam akar ketakutan—warga di kawasan tersebut hidup dalam bayang-bayang kelabu penertiban paksa. Namun, rantai sejarah itu kini menemukan titik baliknya.
Langkah taktis yang ditempuh Pramono dalam menata kawasan Kali Kebon Melati sepanjang 2,3 kilometer tanpa menyentuh satu pun rumah warga atau melakukan penggusuran, menyita perhatian publik. Kebijakan ini bukan sekadar soal teknis tata kota, melainkan sebuah pernyataan politik ihwal keberpihakan: bahwa pembangunan tidak harus selalu merubuhkan martabat manusia.
Gelombang apresiasi pun mengalir deras. Salah satunya datang dari Aliansi Masyarakat Asli Jakarta (AMAS-JAK).
Seperti diberitakan salah satu Media Online, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai melakukan pengerukan Kali Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, sebagai bagian dari upaya mengatasi persoalan aliran air sekaligus mengurangi risiko banjir di kawasan tersebut.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau langsung proses pengerukan pada Senin (28/9/2026). Ia mengatakan penanganan Kali Kebon Melati tidak cukup dilakukan hanya dengan mengangkat endapan lumpur, tetapi harus dilanjutkan dengan penataan kawasan secara menyeluruh.
Pramono menyebut Kali Kebon Melati merupakan bagian dari Anak Kali Krukut dengan panjang sekitar 2,3 kilometer. Menurutnya, kawasan tersebut sudah hampir 60 tahun tidak mendapatkan pengerukan sehingga penanganannya membutuhkan langkah yang lebih komprehensif.
“Saya sudah datang tiga kali. Dan tadi akhirnya saya sudah memutuskan bahwa penanganan ini tidak bisa lagi hanya sekadar untuk menggali, karena saya melihat kalau ini hanya digali, pasti nanti akan kembali,” ujar Pramono dalam keterangannya yang dikutip, Selasa 29/9/26.
Pemprov DKI merencanakan penataan kawasan tersebut mulai awal 2027. Pekerjaan fisik ditargetkan berjalan secara bertahap hingga kawasan tersebut mengalami perubahan secara menyeluruh pada 2028.
Penataan tidak hanya mencakup aliran kali. Pemerintah juga menyiapkan pembangunan turap di sisi kiri dan kanan kali, penataan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), serta penghijauan sepanjang kawasan yang ditangani.
“Nanti kiri-kanannya dibuat turap, kemudian MCK yang selama ini masih bersifat parsial di sini nanti akan ditata secara khusus, kemudian turapnya dibuat, dan sepanjang 2,3 kilometer saya sudah minta juga dihijaukan,” Katanya.
Menurut Pramono, pendekatan menyeluruh diperlukan agar pengerukan tidak hanya memberikan dampak sementara. Penataan kawasan diharapkan dapat memperbaiki fungsi aliran air sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih tertata bagi masyarakat.
Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta telah diminta menyiapkan konsep penataan kawasan tersebut. Pramono menargetkan rencana teknis dapat dipresentasikan kepadanya dalam waktu dekat sebelum pekerjaan fisik dimulai pada awal 2027.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kondisi permukiman warga di sekitar aliran kali. Pramono memastikan penataan kawasan tidak diarahkan untuk menggusur masyarakat yang telah lama tinggal di lokasi tersebut.
Menurutnya, banyak warga telah bermukim selama puluhan tahun dan sebagian menggantungkan mata pencaharian di sekitar kawasan Kali Kebon Melati.
“Masyarakat tinggal di sini rata-rata sudah puluhan tahun, dan tentunya hampir sebagian juga mata pencariannya di dekat ini, karena penataan kawasan, tidak kita lakukan penggusuran,” Jelasnya.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah akan menggabungkan penanganan infrastruktur sungai dengan penataan lingkungan dan fasilitas dasar masyarakat. Konsep ini diarahkan agar perbaikan kawasan tetap mempertimbangkan kondisi sosial warga yang telah lama tinggal di sekitar kali.
Pramono menargetkan perubahan kawasan Kali Kebon Melati mulai terlihat secara signifikan pada 2028. Ia berharap kawasan tersebut nantinya menjadi lingkungan yang lebih tertata sekaligus dapat menjadi contoh penanganan kawasan yang telah menghadapi persoalan selama puluhan tahun.
“Mudah-mudahan akhir tahun 2028 atau pertengahan tahun 2028 tempat ini menjadi tempat yang berbeda seperti yang menjadi harapan kita bersama,” Tuturnya.
Selain pembangunan fisik, pemerintah juga meminta masyarakat ikut menjaga hasil penataan. Pramono mengingatkan bahwa perbaikan infrastruktur tidak akan bertahan apabila kebiasaan membuang sampah ke sungai kembali terjadi.
“Percuma kita lakukan perbaikan kalau kemudian habit atau tabiat membuang sampah di sungai itu masih ada, dan itu akan membuat sungainya cepat tersumbat kembali,” Ujarnya


Posting Komentar