JAM-HMI (Jaringan Alumni Muda HMI) Sebut Ketua Komisi XIII DPR-RI Gelombang Nurani di Senayan: Kala Willy Aditya Menghadang Kursi Kosong Ombudsman dan Menyalakan Fajar Peradaban di Balik Tembok Lapas
JAM-HMI (Jaringan Alumni Muda HMI) Sebut Ketua Komisi XIII DPR-RI Gelombang Nurani di Senayan: Kala Willy Aditya Menghadang Kursi Kosong Ombudsman dan Menyalakan Fajar Peradaban di Balik Tembok Lapas
Di bawah kubah megah Nusantara, ruang sidang Komisi XIII DPR RI mendadak senyap ketika palu kepemimpinan diketuk. Ada ketegangan yang merambat di udara, bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan pertarungan nurani. Di hadapan meja pimpinan, sebuah kursi kosong milik Ombudsman terpampang telanjang—absen tanpa kabar di tengah badai persoalan lembaga pemasyarakatan yang kian meruncing.
Bagi sebagian orang, kekosongan itu bisa disikapi dengan tawa kecut atau penundaan administratif yang membosankan. Namun, tidak bagi Willy Aditya.
Dengan gaya bertutur yang lugas dan tatapan tajam, Ketua Komisi XIII DPR RI itu memilih jalan lain. Tanpa ragu, ia menoleh ke arah fraksi-fraksi yang hadir, menggalang mufakat kilat, dan memutuskan satu hal: roda pengawasan tidak boleh berhenti hanya karena sebelah pihak mangkir.
"Sekarang arena Ombudsman tidak bisa datang atau tidak datang tepatnya, maka kemudian kita langsung ke mitra kita Dirjen PAS untuk memberikan penjelasan," ujar Willy di tengah ruang sidang yang bergeming.
Sikap tegas tanpa kompromi inilah yang menggetarkan nurani publik, termasuk Jaringan Alumni Muda HMI (JAM-HMI). Bagi mereka, langkah tersebut bukan sekadar manuver politik, melainkan wujud nyata keberanian moral seorang legislator yang menolak tunduk pada birokrasi yang lelet.
Menghapus Stigma, Merawat Kemanusiaan
Ketegasan di ruang sidang rupanya hanyalah mukaddimah. Di luar panggung debat parlemen, Willy melangkah lebih jauh, membongkar akar persoalan yang selama ini dianggap tabu: wajah lembaga pemasyarakatan (Lapas) di Indonesia.
Selama puluhan tahun, penjara kerap diidentikkan dengan lorong-lorong kelam tempat menghukum raga, melupakan bahwa di baliknya terdapat manusia yang tengah mencari jalan pulang. Willy datang membawa gagasan radikal: memerdekakan Lapas dari jerat bilik penderitaan dan menyulapnya menjadi ruang hidup serta ruang tumbuh yang manusiawi.
Di sinilah letak aksi tepat kedua yang mendapat jempol dari JAM-HMI. Willy menempatkan literasi, edukasi, dan kesehatan preventif sebagai jangkar utama pemasyarakatan. Ia tidak ingin dokter di dalam lapas hanya duduk menunggu orang sakit; ia menuntut mereka menjadi agen perubahan yang memproduksi kesadaran pola hidup sehat. Lebih jauh lagi, wacana penyediaan bilik keluarga (visiting room) digulirkan bukan sebagai fasilitas mewah, melainkan sebagai pengakuan atas hak-hak dasar kemanusiaan yang paling fundamental.
"Konsepnya bukan pemenjaraan, tapi warga binaan di dalam lembaga pemasyarakatan. Kita sudah menggunakan konsep pemasyarakatan yang menjadi ruang hidup, ruang tumbuh yang kemudian memanusiakan secara normal kembali," tutur politisi berakal tajam itu.
Kerja Peradaban Sang Pembaca
Bagi kalangan muda, apa yang diperjuangkan Willy Aditya bukanlah tetesan air di atas batu panas. Jaringan Alumni Muda HMI (JAM-HMI) melihat rekam jejak ini sebagai sebuah kesinambungan—sebuah "kerja peradaban" yang telah ditekuni Willy jauh sebelum ia menduduki kursi pimpinan komisi.
Koordinator Pimpinan Nasional JAM-HMI, Abdullah Amas, menegaskan bahwa kepedulian Willy terhadap dunia literasi bukanlah gimik musiman. Di mata Amas, Willy adalah sedikit dari politisi di Senayan yang masih gelisah melihat tumpulnya daya baca dan matinya tradisi berpikir kritis di tengah masyarakat.
"Pak Willy sosok yang ingin akal-akal raksasa terbangun di manapun dengan memperkuat budaya literasi, ini patut diapresiasi," tegas Amas penuh keyakinan.
apa yang dipertontonkan Willy Aditya menyalakan secercah harapan. Ia membuktikan bahwa kekuasaan, di tangan orang yang tepat, bisa menjelma menjadi alat pembebasan—menghadang birokrasi yang mangkir, sekaligus merawat asa mereka yang terasing di balik jeruji besi.
Sementara itu Plh Ketua Umum Aliansi Madura Asli (AMAS) Kiki Mufida mengapresiasi kiprah Willy Aditya dalam mengharumkan nama Madura Dapil Willy. "Madura telah memberikan yang terbaik dengan menghadirkan sosok DPR-RI berkualitas, terimakasih kepada Warga Madura dan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh telah memberikan Putra Terbaik bangsa yang peduli akan dunia literasi di Senayan yang itu menandakan Surya Paloh dan Warga Madura turut membangun peradaban Bangsa dengan hadirkan DPR-RI pro dunia literasi"tegas Kiki


Posting Komentar