Catatan di Bawah Terik Aspal Pondok Gede: Ketika Dokter Ali Mahsun Menyapa Denyut Nadi Rakyat Kecil
Catatan di Bawah Terik Aspal Pondok Gede: Ketika Dokter Ali Mahsun Menyapa Denyut Nadi Rakyat Kecil
Di bawah terik matahari yang membakar aspal kawasan Pasar Pondok Gede, Kota Bekasi, Jawa Barat, deru kendaraan berpadu dengan riuh rendah pasar tradisional. Rabu, 30 September 2026, sebuah pemandangan kontras namun sarat makna tertangkap kamera. Seorang lelaki bertubuh tegap berbalut kemeja abu-abu berdiri akrab di samping sebuah gerobak sederhana. Ia adalah dr. Ali Mahsun M.Biomed, Ketua Umum Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Merah Putih.
Hari itu, Ali Mahsun tidak sedang duduk di ruang pendingin berbalut marmer kekuasaan. Ia memilih turun ke jalan, menyambangi gerobak Ketupat Tahu Bandung milik Bu Diana, seorang pedagang kecil yang setiap hari bertaruh nasib demi menyambung hidup keluarganya.
"Berapa Bu, 3 porsi?" tanya Ali Mahsun ramah, mencairkan suasana di lapak sederhana tersebut.
"Empat puluh lima ribu, Pak. Satu porsi Rp15.000," jawab Bu Diana dengan senyum semringah, melayani pesanan sang ketua umum. Kepada Ali Mahsun, Bu Diana bertutur ihwal dapur usahanya yang terus mengepul di tengah himpitan ekonomi. Setiap hari, rata-rata seratus porsi ketupat tahu ludes terjual. Di hari biasa, dagangannya ludes pukul 11.00 WIB, sementara pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu, jam 09.00 WIB gerobaknya sudah bersih dari sajian.
Momen sederhana ini dibagikan oleh Ali Mahsun ke ruang publik, menyedot perhatian banyak kalangan, termasuk Koordinator Pimpinan Nasional Jaringan Alumni Muda HMI (JAM-HMI), Abdullah Amas.
Bagi Abdullah Amas, apa yang dilakukan Ali Mahsun bukanlah sekadar pencitraan sesaat atau agenda seremonial belaka. Perjuangan kaum kaki lima dan wong cilik sudah mendarah daging, menjelma menjadi doktrin keseharian dalam napas perjuangan dokter berkumis tebal tersebut.
"Perjuangan keras mereka melawan terik matahari memang sudah menyatu dengan karakter Dokter Ali Mahsun yang juga pekerja keras dan senang melewati lorong-lorong kehidupan rakyat setiap saat," ujar Abdullah Amas dengan nada penegasan.
Bagi Amas dan banyak pengamat sosial, perjumpaan dengan pedagang kecil di sudut-sudut pasar selalu menyisakan refleksi mendalam. Hidup penuh berkah, menurut mereka, adalah ketika seseorang mampu melihat dan membersamai para "Mujahid-Mujahid Kehidupan"—sebutan bagi jutaan rakyat jelata yang membanting tulang mencari rezeki halal demi masa depan anak-anak di rumah.
Di tengah gelombang ketidakpastian ekonomi global dan nasional, gerobak-gerobak pinggir jalan seperti milik Bu Diana adalah benteng pertahanan terakhir ekonomi kerakyatan. Dan di sanalah, di atas keringat para pedagang kaki lima, Ali Mahsun dan denyut nadi rakyat kecil terus berdenyut dalam satu irama: bertahan, berjuang, dan melawan susah dengan ketulusan.


Posting Komentar