Khofifah, Simbol Terbaik Eksistensi Politik Gus Dur Masa Kini
Khofifah, Simbol Terbaik Eksistensi Politik Gus Dur Masa Kini
Oleh : Abdullah Amas
(Founder The Khofifah Institute, Koordinator Jaringan Massa PKB Gus Dur-Khofifah)
Tak bisa dipungkiri Khofifah adalah Kader terbaik Gus Dur segala zaman terbaik. Termasuk daya tahannya dalam sistem Politik yang penuh permainan keras. Gaya Politik Gus Dur yang merakyat, santai, tangguh, berpendirian teguh dan lain-lain diwarisi secara ideologis ke Khofifah.
Yuk simak Ulasan The Khofifah Institute lebih dekat
Di panggung politik Indonesia yang kerap riuh oleh kalkulasi dingin dan sikut-menyikut kekuasaan, sosok Khofifah Indar Parawansa muncul layaknya sebuah anomali yang awet. Jika ada yang bertanya siapa pewaris sah api ideologi Abdurrahman Wahid—alias Gus Dur—dalam praktik bernegara yang paling ulet, maka nama Gubernur Jawa Timur periode 2019-2024 ini sulit untuk ditepikan.
Khofifah bukan sekadar murid; ia adalah personifikasi dari daya tahan politik Sang Guru Bangsa.
Resiliensi di Jalur Terjal
Tak bisa dipungkiri, Khofifah adalah kader terbaik Gus Dur sepanjang zaman. "Stamina" politiknya teruji bukan dalam satu atau dua musim, melainkan lintas dekade. Ia mewarisi keberanian Gus Dur saat bersitegang dengan tembok kekuasaan Orde Baru, hingga meniti jalan sunyi saat harus kalah berkali-kali dalam kontestasi Pilgub Jawa Timur sebelum akhirnya menang telak.
Seperti Gus Dur, Khofifah memiliki daya tahan (resiliensi) yang tak lazim dalam sistem politik yang penuh permainan keras. Ia jarang terlihat meledak-ledak, namun sikapnya yang teguh menunjukkan bahwa di balik pembawaannya yang tenang, terdapat prinsip yang "keras kepala"—sebuah ciri khas kaum Nahdliyin tulen yang dididik langsung di bawah ketiak Gus Dur.
DNA Politik: Merakyat dan Santai
Gaya politik Gus Dur yang legendaris—merakyat, santai, namun tetap tangguh—terekam jelas dalam gerak-gerik Khofifah. Baginya, politik bukanlah menara gading. Blusukan Khofifah ke pasar-pasar tradisional atau kehadirannya di tengah jamaah pengajian bukan sekadar gimik elektoral, melainkan sebuah manifestasi dari ajaran Gus Dur bahwa "di atas politik, ada kemanusiaan."
Ada beberapa nilai fundamental Gus Dur yang kini hidup dalam diri Khofifah:
Egalitarianisme: Menempatkan rakyat sebagai subjek, bukan sekadar objek suara.
Keteguhan Pendirian: Tidak mudah goyah oleh tekanan koalisi atau kepentingan sesaat jika sudah menyangkut prinsip kemaslahatan umat.
Kecerdasan Strategis: Mampu membaca arah angin tanpa harus kehilangan jati diri sebagai aktivis perempuan NU.
Benteng Eksistensi Gusdurian
Di tengah pergeseran lanskap politik nasional, Khofifah berdiri sebagai simbol eksistensi politik Gus Dur yang paling nyata. Ia membuktikan bahwa politik santri tidak hanya bisa bertahan, tapi juga mampu memimpin wilayah strategis dengan narasi yang inklusif dan progresif.
Khofifah adalah bukti bahwa "warisan" Gus Dur tidak berbentuk materi atau jabatan struktural semata, melainkan sebuah nyala api ideologis. Selama Khofifah masih berada di pusat pusaran kekuasaan, selama itu pula publik akan diingatkan bahwa cara-cara Gus Dur dalam mengelola negara—yang penuh empati namun cerdik—masih sangat relevan dan belum habis dimakan zaman.
Dalam diri Khofifah, Gus Dur tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya sedang terus bekerja untuk rakyat.


Posting Komentar