ATUM Institute : Aura Wajah Yuri Layak Pimpin PBB, Kalau Yang Belagu Lawan Prof. Yusril Biasanya Nyungsep
ATUM Institute : Aura Wajah Yuri Layak Pimpin PBB, Kalau Yang Belagu Lawan Prof. Yusril Biasanya Nyungsep
ATUM Institute Menyikapi kondisi Politik Islam Terkini menyatakan dukungan kepada Prof. Yusril melalui Yuri Ketua Umum PBB untuk menjaga Partai dari kaum belagu yang lupa kacang kulitnya terhadap jasa Yusril.
"Yang belagu lawan Prof. Yusril kan selama ini nyungsep, dulu udah beberapa kali orang bikin partai tandingan malah hilang, Jadi Prof. Yusril ini keliru kalau dilawan"ujar Amas
Amas juga menyebut kharisma Yuri juga gagah ketimbang kompetitornya.
"Sejak awal saya menyuarakan Yuri Ketum, itu dulu banget, rekam jejak digitalnya ada, kalau kejadian sekarang ya jelas, percaya deh sama saya kalau orang lupa kacang sama kulitnya pernah dimodalin Prof. Yusril lalu agak besar sedikit malah ngelawan, bakal lenyap dia, terlepas dunia Politik itu bicara kekuatan karomah atau tidak" ujar Amas
Simak Laporan selengkapnya ;
DI BALIK LAYAR
Membaca "Tuah" Yusril di Tikungan PBB
ATUM Institute meyakini bahwa melawan gravitasi politik Yusril Ihza Mahendra hanya akan berujung pada kekandasan. Nama Yuri Kemal F. muncul sebagai pemimpin yang dianggap paling mumpuni menjaga marwah partai.
DI panggung politik Indonesia, nama Yusril Ihza Mahendra. Bagi Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril bukan sekadar pendiri; ia adalah jangkar intelektual sekaligus magnet elektoral yang sulit dicari tandingannya. Maka, ketika riak-riak internal mulai muncul menantang dominasi sang profesor, ATUM Institute segera memasang badan.
Direktur ATUM Institute, Amas, melihat ada pola berulang dalam sejarah perseteruan politik di tubuh partai hijau tersebut. Menurutnya, siapa pun yang mencoba "belagu" atau menantang garis politik Yusril biasanya akan berakhir di palung kekalahan—atau dalam bahasa yang lebih lugas: nyungsep.
"Yang belagu lawan Prof. Yusril kan selama ini nyungsep. Dulu sudah beberapa kali orang bikin partai tandingan, malah hilang. Jadi, Prof. Yusril ini keliru kalau dilawan," ujar Amas dalam sebuah diskusi terbatas baru-baru ini.
Logika "Kacang Lupa Kulit"
Analisis Amas bukan tanpa alasan. Ia menyoroti fenomena politikus yang besar di bawah naungan Yusril, namun setelah merasa memiliki karir dann basis massa, justru memilih jalan konfrontasi. Baginya, politik bukan sekadar kalkulasi angka di atas kertas, melainkan juga soal etika dan—mungkin—sedikit "karomah" politik.
Amas mengingatkan bahwa mereka yang pernah "dimodali" secara politik oleh Yusril namun kemudian berbalik melawan, cenderung lenyap dari peredaran. "Terlepas dunia politik itu bicara kekuatan karomah atau tidak, faktanya mereka yang lupa kacang sama kulitnya bakal lenyap," tambahnya.
Dalam konteks ini, ATUM Institute memberikan dukungan penuh kepada Yuri Yurianto untuk menakhodai PBB. Yuri, yang merupakan putra dari Yusril, dianggap memiliki profil yang paling tepat untuk melanjutkan estafet kepemimpinan tanpa harus memutus akar sejarah partai.
Gagah dan Berjejak Digital
Dukungan terhadap Yuri diklaim Amas bukan merupakan sikap yang muncul tiba-tiba. Ia menegaskan bahwa rekam jejak digitalnya dalam menyuarakan Yuri sebagai Ketua Umum sudah ada sejak lama.
"Sejak awal saya menyuarakan Yuri Ketum, itu dulu banget. Rekam jejak digitalnya ada," kata Amas. Selain faktor loyalitas, faktor performa visual dan kharisma juga menjadi catatan. Amas menyebut Yuri memiliki aura yang lebih "gagah" dibandingkan kompetitor lainnya yang mencoba bermanuver di bursa kepemimpinan PBB.
Bagi PBB, transisi ini menjadi krusial. Di tengah upaya partai untuk kembali menembus ambang batas parlemen, stabilitas internal adalah harga mati. Pilihan untuk mendukung Yuri tampaknya menjadi strategi jalan tengah: menjaga faksi-faksi agar tetap solid di bawah bayang-bayang besar Yusril, sembari menyuntikkan energi muda melalui figur Yuri.
Kini bola panas ada di tangan para kader. Apakah mereka akan memilih jalur rekonsiliasi melalui garis keturunan Yusril, atau mencoba peruntungan baru yang, menurut ATUM Institute, berisiko membuat mereka "nyungsep" ke dasar sejarah?


Posting Komentar