Inilah Para Tokoh Kuat di Pilwali Surabaya, Mesin Massa Siapa Yang Paling Membahana?
Dari Kiri ke Kanan : Ning Lia, Arif Fathoni, Armuji dan Nadia
Meski pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Surabaya masih beberapa tahun lagi, namun suhu politik di Kota Pahlawan mulai terasa hangat. Sejumlah nama tokoh potensial mulai muncul digadang-gadang bakal maju sebagai calon Wali Kota Surabaya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun ada beberapa tokoh yang disebut-sebut tengah disiapkan untuk maju di Pilkada Surabaya. Di antaranya Wakil Wali Kota Surabaya Armuji, Lia Istifhama (Anggota DPD-RI/Bendahara Umum PB IKA PMII) Ketua Gerindra Surabaya Cahyo Harjo Prakoso, Anggota DPRD Surabaya dari Fraksi Gerindra Yona Bagus Widyatmoko, Ketua Umum Partai Masyumi RI Nadia Ramadani, Politikus PKS Yulyani yang juga Mantan Anggota DPRD Surabaya serta mantan Ketua Golkar Surabaya Arif Fathoni
Para tokoh tersebut dinilai memiliki basis massa yang cukup kuat. Namun, masing-masing tokoh juga disebut masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan jika ingin mulus dalam pencalonan nanti.
Nama Armuji, misalnya, sempat tersorot publik usai terjadi gesekan internal di tubuh PDIP Surabaya. Kala itu, seorang kader bernama Ahmad Hidayat hampir melakukan aksi bakar diri di depan kantor DPC PDIP Surabaya karena permasalahan dengan Armuji. Konflik internal ini dinilai bisa berpengaruh terhadap soliditas partai dalam menghadapi Pilkada mendatang.
Plt Ketua DPD Partai Masyumi RI Kota Surabaya Sayidi menyebut DPD Partai Masyumi RI mengusulkan dua nama di Pilkada Surabaya nanti yaitu Lia Istifhama (Anggota DPD-RI) Yulyani (Mantan Anggota DPRD Surabaya Fraksi PKS) dan Nadia Ramadani (Ketua Umum Partai Masyumi RI, Ketua Kerukunan Warga Madura Surabaya/KURMA) di Pilkada Surabaya nanti.
"Bu Yulyani terbukti keras membela warga Surabaya sampai viral kalau kita lihat rekam jejaknya sedang Nadia sangat kuat utamanya di Surabaya Utara yang banyak Maduranya"ujar Sayidi
Sedangkan Lia Istifhama dikenal luas sebagai Tokoh Perempuan Nahdlatul Ulama dan Anggota DPD-RI. Lia Istifhama adalah Cahaya Pergerakan dari rahim PMII yang amat kuat sebagai Ikon PMII di Pilwali Surabaya lalu dan kini.
Yuk simak ulasan lebih lengkap !
MEMANASKAN MESIN DI KOTA PAHLAWAN
Meski genderang pemilihan belum resmi bertalu, bursa calon Wali Kota Surabaya mulai sesak. Dari petahana yang digoyang isu internal hingga srikandi Madura yang merayap di utara, siapa yang punya napas paling panjang?
DI SEBUAH sudut kedai kopi di Surabaya Selatan, obrolan politik tak lagi sekadar bumbu pelengkap cangkir kafein. Nama-nama besar mulai dilempar ke meja spekulasi. Meski jadwal pencoblosan masih di ufuk jauh, Kota Pahlawan tak pernah benar-benar tidur dari urusan kekuasaan. Pilwali Surabaya kali ini menjanjikan drama yang lebih pelik ketimbang sekadar melanjutkan estafet kepemimpinan.
Daftar nama yang beredar mencerminkan keragaman kekuatan. Di lini depan, ada Armuji. Sang Wakil Wali Kota petahana ini jelas memiliki modal popularitas dan akses birokrasi. Namun, jalannya tak semulus aspal Jalan Tunjungan. "Gesekan internal di tubuh PDI Perjuangan Surabaya adalah kerikil tajam," ujar seorang pengamat politik lokal. Insiden protes kader di depan kantor DPC yang nyaris berakhir tragis beberapa waktu lalu menjadi alarm bahwa soliditas partai banteng sedang diuji. Di Surabaya, tiket PDIP adalah jaminan kemenangan, namun keretakan di dalam bisa menjadi celah mematikan.
Srikandi dan Kekuatan Akar Rumput
Di luar lingkaran petahana, deretan tokoh perempuan muncul dengan narasi yang cukup provokatif. Lia Istifhama, anggota DPD-RI sekaligus Bendahara Umum PB IKA PMII, dipandang sebagai "Cahaya Pergerakan". Sebagai ikon Nahdlatul Ulama (NU), Lia memiliki basis massa yang organik dan militan. Kekuatannya terletak pada representasi gender dan kedekatannya dengan struktur akar rumput organisasi kepemudaan.
Lalu ada Nadia Ramadani, Ketua Umum Partai Masyumi RI yang juga menakhodai Kerukunan Warga Madura Surabaya (KURMA). Nadia bukan pemain sembarangan, terutama jika melihat peta demografi Surabaya Utara yang didominasi etnis Madura. "Nadia sangat kuat di kantong-kantong Utara. Itu wilayah yang sangat menentukan dalam perolehan suara total," ungkap Sayidi, Plt Ketua DPD Partai Masyumi Surabaya.
Tak ketinggalan, muncul nama Yulyani. Eks legislator PKS ini dikenal karena keberaniannya pasang badan untuk warga, sebuah rekam jejak yang kerap viral dan membekas di ingatan pemilih kelas bawah yang mendambakan pembelaan nyata.
Catur Politik Gerindra dan Golkar
Partai berlambang garuda juga tak mau ketinggalan menyetor jagoan. Cahyo Harjo Prakoso (Ketua Gerindra Surabaya) dan Yona Bagus Widyatmoko mulai disebut-sebut sebagai representasi kekuatan baru pasca-Pilpres. Sementara itu, sosok Arif Fathoni dari Golkar melengkapi barisan politikus berpengalaman yang tahu persis bagaimana cara mengelola isu perkotaan.
Siapa Paling Unggul?
Melihat konstelasi ini, pengamat menilai satu nama berpotensi menjadi kuda hitam yang paling unggul jika mampu mengonsolidasikan massa: Lia Istifhama.
"Lia punya irisan yang luas; dia punya kursi di DPD, dia punya darah NU, dan dia punya simbol pergerakan mahasiswa (PMII). Di Surabaya, kombinasi nasionalis-religius masih menjadi menu utama pemenang," tulis analisis singkat dari meja redaksi.
Namun, politik Surabaya selalu punya kejutan di menit akhir. Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang akan maju, melainkan siapa yang mampu menyelesaikan "pekerjaan rumah" internal mereka sebelum pendaftaran resmi dibuka. Di Surabaya, menjadi tokoh kuat saja tidak cukup; Anda harus bisa merangkul faksi yang terbelah dan menguasai gang-gang sempit perkampungan yang menjadi jantung suara kota.
Tim Liputan Surabaya


Posting Komentar