Wawancara Bung Amas: Menakar Langkah Catur Anas Urbaningrum Pasca Mundur Dari Posisi Ketum Partai PKN
Wawancara Bung Amas: Menakar Langkah Catur Anas Urbaningrum Pasca Mundur Dari Posisi Ketum PKN
SETELAH secara mengejutkan menanggalkan jabatan Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), teka-teki mengenai arah politik Anas Urbaningrum (AU) kembali memanas. Di tengah spekulasi yang beredar, pengamat sekaligus loyalis pemikiran Anas, Bung Amas, membedah daya tahan sang "Meteor dari Blitar" ini dan bagaimana PKN harus berakrobat demi bertahan di papan catur politik 2029.
Berikut petikan wawancaranya dengan redaksi:
Anas Urbaningrum baru saja mundur dari kursi Ketua Umum PKN. Menurut Anda, apa langkah strategis yang harus diambilnya sekarang?
Anas adalah cendekiawan HMI yang sejak dulu diprediksi bakal melesat bak meteor. Kita harus akui, AU adalah politisi dengan daya tahan yang luar biasa—a true survivor. Dari memimpin HMI, nyaris memegang KNPI, hingga berkarier di KPU, Demokrat, dan terakhir PKN. Meski saat ini ia mundur, saya yakin napas politik barisannya sangat panjang.
Langkah ke depan? Saya melihat AU akan bermain cantik. Jika PKN lolos verifikasi KPU kembali, ada peluang besar ia akan kembali memimpin partai mendekati Pemilu 2029. Namun, jangan lupa, AU punya kedekatan emosional dengan NasDem—mengingat hubungan eratnya dengan Saan Mustopa (Waketum NasDem). Opsinya sangat terbuka lebar.
Banyak loyalis Anas yang justru tersebar di partai lain seperti Hanura atau NasDem. Apakah ini melemahkan posisinya?
Justru sebaliknya. Ini menunjukkan jejaringnya lintas partai. Meski gerbong utamanya di PKN, simpul-simpul kekuatannya ada di mana-mana. Tugas besar AU dan PKN sekarang adalah melakukan reunifikasi. Banyak generasi muda yang simpati pada pemikiran Anas tapi belum masuk ke politik praktis. Itu ceruk yang belum digarap.
Bicara soal PKN, bagaimana Anda melihat peluang partai ini di masa depan agar tidak sekadar menjadi penggembira?
PKN perlu melakukan gebrakan "pengayaan isu". Jangan hanya jualan partai, tapi jualan tokoh yang punya basis massa konkret. Saya usul PKN mulai berani mengapungkan nama-nama potensial untuk bursa 2029 sejak dini.
"PKN perlu melakukan branding sebagai partai dengan stok kepemimpinan yang melimpah. Jangan hanya bertumpu pada satu nama."
Siapa saja sosok yang Anda maksud bisa mendongkrak elektabilitas PKN?
Ada beberapa nama yang bisa jadi alternatif:
Gede Pasek Suardika: Untuk mendongkrak suara signifikan di Bali dan Indonesia Timur.
Anas Urbaningrum: Jelas untuk pemilih Jawa dan basis Islam, khususnya jaringan alumni HMI yang sangat solid.
Gerry (Waketum): Representasi generasi muda untuk menggaet pemilih pemula.
Artinya, kunci keberhasilan PKN ada pada figuritas?
Figuritas dan narasi. PKN harus dicitrakan sebagai wadah berkumpulnya para pemikir dan aktivis. Jika mereka mampu mengonsolidasikan semua simpul kekuatan Anas yang masih tercecer, PKN bukan tidak mungkin akan menjadi kuda hitam yang diperhitungkan di 2029. Anas mungkin mundur selangkah hari ini, tapi itu hanya untuk melompat lebih jauh besok.


Posting Komentar