BAMUS BETAWI ADAKAN HALAL BIHALAL DAN SILATURAHMI KEBANGSAAN
BAMUS BETAWI ADAKAN HALAL BIHALAL DAN SILATURAHMI KEBANGSAAN Jakarta – Semangat menjaga budaya, persatuan, dan identitas masyarakat Betawi mengemuka dalam kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III Dewan Adat Bamus Betawi Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan Halal Bihalal dan Silaturahmi Kebangsaan. Acara tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat peran masyarakat Betawi sebagai perekat sosial Kota Jakarta sekaligus penjaga keutuhan bangsa Indonesia.
Dalam wawancara bersama awak media, Eki Pitung menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan Rakernas III yang berlangsung penuh kekeluargaan dan semangat kebangsaan.
"Alhamdulillah tadi kita membuka halal bihalal dan juga silaturahmi kebangsaan. Kita meluncurkan semangat bahwa Betawi adalah perekat Jakarta, perekat bangsa Indonesia sejak lama, sejak masa pra kemerdekaan hingga hari ini,” ujar Eki Pitung.
Ia menjelaskan, Rakernas III merupakan amanah organisasi sebagaimana tertuang dalam AD/ART Dewan Adat Bamus Betawi yang harus dilaksanakan secara berkala guna menyusun program dan langkah strategis organisasi ke depan.
Menurutnya, Rakernas tahun 2026 memiliki makna penting karena Jakarta akan memasuki usia 500 tahun atau lima abad pada tahun 2027 mendatang. Momentum tersebut dinilai harus menjadi perhatian serius seluruh elemen masyarakat, khususnya masyarakat Betawi sebagai penduduk asli Jakarta.
“Dewan Adat Bamus Betawi sebagai wadah berhimpunnya ormas-ormas kebetawian, yayasan, sanggar, dan perguruan mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga Jakarta, menjaga Betawi, dan menjaga NKRI agar tetap rukun, damai, dan sejuk,” katanya.
Salah satu program unggulan yang disampaikan dalam Rakernas III adalah usulan pelestarian kampung-kampung Betawi di Jakarta. Eki Pitung mengungkapkan kekhawatiran bahwa modernisasi dan status Jakarta sebagai kota global dapat menggerus identitas budaya Betawi apabila tidak dijaga sejak sekarang.
“Kami mengusulkan kepada pemerintah daerah agar kampung-kampung Betawi seperti Kemayoran, Tanah Abang, Rawa Belong, Kampung Melayu, hingga Warung Buncit ditetapkan dan dilestarikan sebagai kawasan budaya Betawi,” ungkapnya.
Ia menilai saat ini banyak ornamen dan bangunan khas Betawi yang mulai hilang akibat perkembangan zaman dan pembangunan kota. Karena itu, pelestarian kawasan budaya menjadi langkah penting agar tradisi dan identitas Betawi tidak punah.
Eki Pitung juga mencontohkan sejumlah kota global di dunia yang kehilangan identitas masyarakat aslinya akibat arus modernisasi yang tidak terkendali. Menurutnya, Jakarta harus belajar dari pengalaman tersebut agar masyarakat Betawi tetap memiliki ruang dan peran strategis di tanah kelahirannya sendiri.
“Kalau kota global tanpa pelestarian budaya, masyarakat aslinya bisa hilang. Kita belajar dari berbagai negara. Karena itu Betawi harus tetap eksis dan menjadi bagian penting dalam pembangunan Jakarta,” tegasnya.
Berdasarkan data kependudukan tahun 2025 yang disampaikan dalam Rakernas, masyarakat Betawi saat ini tercatat sekitar 2,7 juta jiwa dari total 10 hingga 11 juta penduduk Jakarta, sekaligus menjadi kelompok penduduk terbesar ketiga setelah Jawa dan Sunda.
Dengan jumlah tersebut, Eki Pitung berharap masyarakat Betawi dapat terus menjadi perekat sosial dan simbol persatuan di tengah keberagaman masyarakat Jakarta.
“Mudah-mudahan Betawi tetap menjadi perekat Jakarta dan perekat bangsa Indonesia sebagai masyarakat asli yang terus menjaga persatuan dan kebhinekaan,” pungkasnya.


Posting Komentar