JALAN SUNYI PENDIRI PKS K.H HILMI AMINUDDIN MENJEMPUT RUH MASYUMI, PKS BAGIAN DARI NEO-MASYUMI
JALAN SUNYI PENDIRI PKS K.H HILMI AMINUDDIN MENJEMPUT RUH MASYUMI
Oleh : Abdullah Amas (Pengamat Gerakan Politik Dan Dakwah)
Ada benang merah yang tak kasat mata namun kokoh, membentang dari ruang sidang parlemen era 1950-an hingga ke gedung-gedung mentereng di Jalan Simatupang. Jika Masyumi adalah "raksasa yang dipaksa tidur" oleh Orde Lama, maka K.H. Hilmi Aminuddin adalah sang arsitek yang membangunkan spirit itu dalam jubah yang berbeda: Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Ini bukan sekadar soal politik praktis, melainkan sebuah misi "penyambungan lidah" sejarah yang sempat terputus.
Darah Hijau di Pusaran Konflik
Hubungan Hilmi dengan Masyumi tidak dimulai dari bangku kuliah, melainkan dari meja makan keluarga. Hilmi adalah putra dari Danu Mohammad Hasan, tokoh kunci Darul Islam (DI/TII) di Jawa Barat.
Secara sosiologis, basis massa DI/TII dan Masyumi di Tanah Pasundan adalah dua sisi dari koin yang sama: masyarakat Muslim yang merindukan formalisme Islam dalam negara. Ketika Masyumi dibubarkan paksa oleh Soekarno pada 1960, aspirasi itu tidak mati; ia masuk ke bawah tanah, bersembunyi di ruang-ruang privat, dan mengalir ke nadi Hilmi muda.
Meja Kerja Natsir dan Estafet DDII
Titik temu paling krusial terjadi di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Pasca-Masyumi dilarang, Mohammad Natsir—sang maestro politik Islam—mengubah strategi dari "politik ke dakwah".
Di sinilah Hilmi Aminuddin muncul sebagai "anak ideologis" pilihan. Melalui jaringan DDII-lah, Hilmi dikirim belajar ke Timur Tengah. Ia menyerap metodologi pergerakan Ikhwanul Muslimin yang rapi dan militan, namun tetap membawa "ruh" demokrasi-parlementer khas Masyumi di dalam tas ranselnya.
TABEL: TRANSFORMASI GENETIKA POLITIK
Dimensi Warisan Masyumi (Era Natsir) Sentuhan Hilmi (Era PKS)
Visi Integrasi Islam-Negara via Parlemen PK/PKS sebagai kendaraan formal demokrasi
Kader Intelektual & Kelas Menengah Gerakan Tarbiyah (Kampus & Terpelajar)
Gaya Terbuka & Dialogis Disiplin Tinggi namun Pragmatis-Moderat
Arsitek di Balik Layar
Jika Masyumi dikenal dengan intelektualitasnya yang flamboyan, Hilmi membawa PKS menjadi mesin politik yang mekanis dan presisi. Ia tidak sekadar bernostalgia dengan kejayaan "Bintang Bulan". Ia melakukan modernisasi:
Dari Romantisme ke Organisasi: Hilmi mengubah simpati publik eks-Masyumi menjadi sistem sel (usrah) yang kedap air.
Rekonsiliasi Ideologi: Ia mampu mengawinkan semangat perlawanan DI/TII, intelektualitas Masyumi, dan sistematisasi Ikhwanul Muslimin dalam satu wadah.
"PKS bukan sekadar partai, ia adalah ceruk sosiologis Masyumi yang menemukan bentuk organisasi modernnya di tangan Hilmi."
Kesimpulan: Jembatan yang Selesai Dibangun
Hilmi Aminuddin telah berpulang, namun jembatan yang ia bangun tetap berdiri. Ia berhasil membuktikan bahwa aspirasi politik Islam tidak harus berakhir di pengasingan atau pemberontakan hutan. Di tangan "Sang Murabbi", politik Islam kembali ke jantung kekuasaan dengan cara yang sah, disiplin, dan terukur.
Masyumi mungkin sudah lama terkubur dalam buku sejarah, tapi di setiap helaan napas kader PKS, ada jejak genetik yang ditinggalkan oleh Hilmi—sang penyambung estafet yang tak pernah lelah menjahit sejarah.
Kita juga mengenal Tokoh-Tokoh PKS lain berasal dari Neo-MASYUMI khususnya di DDII, PII dan seterusnya seperti Mutamimul Ula', Ust Abu Ridho, Hidayat Nur Wahid dan seterusnya


Posting Komentar