Dulu Mundur Dari Ketum Demokrat, sekarang Mundur Dari Ketum PKN, Apa Halaman Selanjutnya Anas? Langkah Sunyi Anas di Tikungan PKN
Dulu Mundur Dari Ketum Demokrat, sekarang Mundur Dari Ketum PKN, Apa Halaman Selanjutnya Anas? Langkah Sunyi Anas di Tikungan PKN
Founder Lembaga Abdullah Amas Strategic Abdullah Amas menyebut bisa saja pasca lolos verifikasi KPU Anas Urbaningrum kembali turun gunung pimpin PKN. "Sekarang Anas selow karena PKN juga tak di momen urgen seperti Pilkada dan lainnya"ujar Amas
Langkah Sunyi Anas di Tikungan PKN
Dua kali ia meletakkan jabatan nakhoda partai. Setelah Demokrat, kini giliran Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) yang ditinggalkannya dalam posisi "low gear". Apakah ini strategi jeda, ataukah akhir dari sebuah ambisi politik?
DI kalangan loyalisnya, Anas Urbaningrum adalah seorang "maratoner". Ia tidak mengejar sprint, melainkan ketahanan. Namun, langkah terbaru Anas yang memilih mundur dari kursi Ketua Umum PKN memicu tanya: ke mana arah angin akan membawanya? Ini adalah kali kedua bagi mantan Ketua Umum HMI itu menanggalkan jabatan tertinggi di partai politik, setelah drama pengunduran dirinya dari Partai Demokrat satu dekade silam akibat badai hukum.
Langkah mundur kali ini memang terasa lebih sepi dari riuh rendah 2013. Tanpa pidato "halaman pertama", Anas tampak ingin memberikan ruang bagi konsolidasi internal PKN di tengah masa transisi politik nasional.
Strategi "Turun Gunung"
Meski kursi Ketum sedang kosong, bukan berarti pengaruh Anas menguap. Menurut Abdullah Amas, Founder Abdullah Amas Strategic, langkah mundur ini bukanlah pensiun dini, melainkan sebuah taktik "slow motion" di tengah absennya agenda politik mendesak.
"Sekarang Anas selow karena PKN juga tak di momen urgen seperti Pilkada dan lainnya," ujar Amas kepada Tempo.
Amas menilai, ada probabilitas besar bagi sang orator untuk kembali mengambil kendali penuh jika momentumnya tepat. Pasca lolos verifikasi KPU atau menjelang perhelatan besar berikutnya, skenario "turun gunung" tetap terbuka lebar. "Bisa saja setelah verifikasi, Anas kembali memimpin PKN dengan energi baru," tambahnya.
Halaman Selanjutnya?
Bagi pengamat, posisi "selow" Anas saat ini adalah cara untuk membaca peta koalisi yang terus bergeser. Berbeda dengan saat di Demokrat di mana ia menjadi target utama, di PKN ia berperan sebagai mentor sekaligus simbol perlawanan.
Beberapa poin krusial yang diprediksi menjadi "Halaman Selanjutnya" bagi Anas meliputi:
Konsolidasi Akar Rumput: Memperkuat basis massa loyalis yang masih tersebar di berbagai daerah.
Rebranding Politik: Membersihkan sisa-sisa residu masa lalu melalui narasi-narasi kebangsaan yang lebih inklusif.
Posisi Kingmaker: Jika tidak kembali sebagai Ketum, Anas diprediksi akan bermain di balik layar sebagai pemikir strategi partai.
Saat ini, kediaman Anas mungkin tampak tenang. Namun, dalam politik Indonesia, ketenangan sering kali merupakan pertanda bahwa sebuah langkah besar sedang disiapkan di balik pintu yang tertutup rapat.
ANAS URBANINGRUM MUNDUR DARI POSISI KETUM PKN, GEDE PASEK KEMBALI MENYETIR PKN
Mundurnya Anas Urbaningrum dari kursi ketua umum memaksa I Gede Pasek Suardika kembali ke pucuk pimpinan. Alasan "kesibukan domestik" AU menjadi ganjalan di tengah mesin partai yang harus mulai dipanaskan menuju 2029.
JAKARTA – Dinamika di tubuh Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) kembali bergolak, namun dengan wajah yang lama. Gede Pasek Suardika, sang arsitek awal partai berbaju putih-merah ini, resmi kembali menduduki jabatan Ketua Umum. Kepastian ini dikukuhkan setelah Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas, menandatangani dan menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepengurusan baru di kantor Kementerian Hukum, Jakarta, Senin lalu.
Pasek bukan orang baru di kursi panas itu. Dialah yang menakhodai PKN saat partai ini masih merangkak, hingga akhirnya berhasil menembus barikade verifikasi dan menjadi kontestan Pemilu 2024. Namun, posisi itu sempat ia serahkan kepada sahabat karibnya, Anas Urbaningrum (AU), setelah eks Ketua Umum Demokrat itu menghirup udara bebas.
Kini, roda nasib berputar balik. Lewat akun media sosialnya, Pasek mengonfirmasi bahwa estafet kepemimpinan ini terjadi lantaran Anas memilih mundur. Alasannya? "Kesibukan domestik yang mengharuskan memfokuskan waktunya tahun ini dan tahun-tahun kedepannya," tulis Pasek. Di saat yang sama, beban teknis partai menuju Pemilu 2029 justru kian menumpuk—sebuah ritme yang tampaknya tak lagi sejalan dengan prioritas pribadi Anas saat ini.
Panggilan Sejarah dan Wajah Bali
Kembalinya Pasek ke tampuk pimpinan bukanlah tanpa beban. Ia mengakui bahwa mengelola partai dengan struktur nasional di tengah kesibukan profesinya sebagai advokat adalah tantangan yang "sangat berat".
Ya,Paling tidak di posisi ketua umum, ada wajah Bali juga berada di partai politik yang sah berbadan hukum
Pertemuan di Kemenkum berlangsung cukup cair. Meski lewat komunikasi singkat, Supratman Andi Agtas menyempatkan diri menerima Pasek dan rombongan sebelum memproses administrasi di Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU).
Teka-Teki Langkah Anas
Mundurnya Anas Urbaningrum tentu memicu tanya. Setelah sempat digadang-gadang akan membawa PKN terbang lebih tinggi pasca-rehabilitasi politiknya, AU justru memilih menepi ke urusan domestik. Sumber di internal partai menyebutkan, beban konsolidasi akar rumput menuju 2024 kemarin memang cukup menguras energi, dan PKN butuh nakhoda yang bisa "wakaf waktu" penuh untuk lima tahun ke depan.
Bagi Pasek, ini adalah kali kedua ia harus merakit ulang mesin partai. Dengan slogan khasnya, "Dah gitu aja", ia kini bersiap menghadapi jalan terjal politik menuju 2029. Tantangannya jelas: memastikan PKN tidak sekadar menjadi partai pelengkap, tapi juga mampu bicara banyak di tengah dominasi partai-partai besar.


Posting Komentar