Satukan Lintas Ormas Madura, Majelis Kaum Madura (MKM) Didorong Dibentuk, Duet Said Abdullah-Haji Her Layak Memimpin
Satukan Lintas Ormas Madura, Majelis Kaum Madura (MKM) Didorong Dibentuk, Duet Said Abdullah-Haji Her Layak Memimpin
Mencari Nakhoda di Tengah Arus: Ikhtiar Menyatukan ‘Pulau’ Madura yang Terserak
JAKARTA – Di sebuah sudut pertemuan yang hangat, Mardiyanto, Ketua Umum Komite Suku Madura - Aliansi Madura, Jawa, dan Batak Se-Indonesia (KSM-AMAS), melempar sebuah wacana yang cukup provokatif sekaligus ambisius. Ia tidak sedang bicara soal politik praktis jangka pendek, melainkan tentang sebuah "Rumah Besar" bagi warga Madura di seluruh penjuru tanah air.
Gagasannya lugas: warga Madura memerlukan sebuah lembaga adat atau forum komunikasi nasional yang mampu menjembatani fragmentasi ormas yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. "Sepertinya wajib dibentuk, entah namanya Majelis Kaum Madura Indonesia atau apalah," cetus Mardiyanto.
Duet Maut: Sang Politisi dan Sang Filantrop
Yang menarik dari usulan ini bukan sekadar wadahnya, melainkan sosok yang dijagokan untuk memegang kemudi. Nama Said Abdullah dan Haji Her (H. Khairul Umam) mencuat sebagai dwitunggal yang dianggap ideal.
Said Abdullah: Sebagai Ketua Banggar DPR-RI, ia adalah personifikasi kekuatan lobi di pusat kekuasaan. Jaringannya di Jakarta dianggap sebagai modal strategis untuk mengangkat martabat warga Madura secara struktural.
Haji Her: Pengusaha tembakau asal Pamekasan ini adalah simbol kekuatan ekonomi akar rumput. Dikenal dengan kedermawanannya, Haji Her dipandang memiliki legitimasi moral yang kuat di mata warga Madura, terutama di daerah asalnya.
Mardiyanto mengusulkan komposisi yang taktis: Haji Her sebagai Ketua Umum yang mengakar di bawah, dan Said Abdullah sebagai Dewan Pembina yang menjaga arah di level kebijakan nasional. Untuk urusan operasional, muncul nama Bung Amas, tokoh muda berdarah Madura-Batak, yang diproyeksikan sebagai Sekretaris Jenderal berkat rekam jejaknya di jejaring nasional.
Visi Transformasi: Antara Persatuan dan "Mimpi Qasim"
Wacana pembentukan forum ini bukan tanpa alasan fundamental. Ada dua misi besar yang dititipkan:
Konsolidasi Identitas: Menghapus ego sektoral antar-ormas Madura agar memiliki satu suara kolektif dalam menentukan masa depan etnis mereka di kancah nasional.
Kebangkitan Spiritual dan Sosial: Menariknya, forum ini juga didorong untuk menjadi wadah pengkajian terhadap fenomena "Mimpi Qasim" yang tengah viral. Mardiyanto meyakini bahwa pesan-pesan dalam mimpi tersebut mengandung kunci kebangkitan bagi suatu kaum jika diikuti dengan sungguh-sungguh.
"Wadah ini penting untuk menjaga kesatuan warga Madura lintas ormas. Madura harus cepat bangkit," tegas Mardiyanto.
Tantangan di Depan Mata
Namun, menyatukan watak Madura yang egaliter dan keras tentu bukan perkara mudah. Sejarah mencatat, organisasi primordial seringkali terjebak dalam pusaran kepentingan politik sesaat. Pertanyaannya kemudian: mampukah Said Abdullah dan Haji Her berdiri di atas semua golongan tanpa terkooptasi kepentingan faksi tertentu?
Jika benar Majelis ini terbentuk, ia tidak boleh sekadar menjadi pajangan di atas kertas. Ia harus menjadi motor penggerak ekonomi, pelindung adat, sekaligus kompas moral bagi jutaan warga Madura yang merantau maupun yang menetap di pulau garam.
Dunia kini menanti, apakah "Mimpi Qasim" dan dorongan dari KSM-AMAS ini akan menjadi kenyataan, atau sekadar menjadi wacana yang hilang ditelan hiruk-pikuk isu nasional lainnya.


Posting Komentar