Oase Ekonomi Rakyat: Jejak Adi Sasono dalam Bayang-Bayang Teguh Anantawikrama
Oase Ekonomi Rakyat: Jejak Adi Sasono dalam Bayang-Bayang Teguh Anantawikrama
JAKARTA – Di sela keriuhan konsolidasi politik jelang momentum besar, sebuah refleksi muncul dari meja Abdullah Amas. Ketua Umum DPP Partai Masyumi RI sekaligus Direktur Eksekutif ATUM Institute ini mendadak terlempar ke masa silam, tepatnya ke era penghujung 90-an, saat aroma reformasi masih menyengat dan ekonomi rakyat menjadi jualan paling laku di panggung kekuasaan.
Amas melihat ada semacam "reinkarnasi" semangat. Nama mendiang Adi Sasono, sang "Menteri Koperasi dan UKM" yang fenomenal di era transisi 1998-1999, kembali mencuat. Namun kali ini, ia disandingkan dengan sosok yang tengah bergerak di jalur serupa: Teguh Anantawikrama.
Genetika Perlawanan: Dari Ekonomi Konstitusi ke Partai Politik
Bagi Amas, kemiripan keduanya bukanlah perkara fisik yang sama-sama ramping, melainkan pada tarikan garis ideologis. Adi Sasono bukan sekadar birokrat; ia adalah simbol perlawanan terhadap konglomerasi melalui konsep "Ekonomi Kerakyatan".
"Bukan soal sama-sama kurusnya, tapi sama-sama konsen pada UKM, dekat dengan kalangan elit, dan punya akar kuat di lingkaran cendikiawan muslim," ujar Amas kepada media, Sabtu, 18 Maret 2023.
Jejak Adi Sasono memang sulit dihapus dari memori politik Indonesia. Di masa jayanya, ia adalah motor bagi Presiden B.J. Habibie. Tak tanggung-tanggung, ia mendirikan Partai Daulat Rakyat untuk menyokong sang teknokrat, lalu berlanjut dengan Partai Merdeka pada 2004. Baginya, politik adalah instrumen untuk memindahkan kue ekonomi dari gedung-gedung tinggi di Sudirman ke lapak-lapak pedagang pasar.
Kini, pola itu seolah terbaca kembali pada Teguh Anantawikrama. Melalui jejaringnya, Teguh tengah merajut barisan melalui Partai UKM Bangkit. Sebuah upaya yang, menurut Amas, adalah usaha mencari figur pelindung bagi sektor yang sering kali hanya jadi komoditas saat kampanye, namun terabaikan saat kebijakan diketuk.
Setiap Zaman Ada Orangnya
Adi Sasono wafat pada 13 Agustus 2016 dalam usia 73 tahun, meninggalkan lubang besar dalam narasi keberpihakan pada wong cilik. Namun, sejarah tak pernah membiarkan kursi kosong terlalu lama.
"Adi Sasono dan Teguh Anantawikrama adalah oase pada zamannya masing-masing dalam mencari simbol atau figur yang peduli kejayaan UKM," tutur Amas yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum F.KSI-KSPSI ini. Ia menambahkan bahwa karakter keduanya beririsan secara tajam: kerakyatan, nasionalis, dan religius.
Analisis Amas ini seperti sebuah peringatan—atau mungkin harapan—bahwa regenerasi politik di Indonesia tidak melulu soal wajah baru, melainkan soal kembalinya substansi yang sempat hilang. Ia mengaku kembali mendalami sejarah bagaimana Adi mengkader orang-orang di sekelilingnya.
"Adi Sasono telah tiada, tapi zaman selalu punya cara sendiri, dan demikian halus, untuk mengganti sosok yang telah tiada," pungkasnya dengan nada puitis namun penuh penekanan politik.
Analisis Singkat:
Langkah Teguh Anantawikrama dengan Partai UKM Bangkit seakan menjadi ujian bagi tesis Amas. Apakah ia mampu melampaui capaian Adi Sasono yang sempat mengguncang tatanan ekonomi mapan, ataukah ini sekadar romantisme sejarah yang berulang di tengah kerasnya belantara politik modern?


Posting Komentar