Membandingkan PUI (Partai Ummat Islam) Antara Kala Dipimpin Deliar Noer Dibanding Amas, Duel Intelektual di Pucuk PUI: Antara Menara Gading dan Palagan Digital
Duel Intelektual di Pucuk PUI: Antara Menara Gading dan Palagan Digital
Di sebuah ruangan berdebu di kawasan Jakarta Pusat, sebuah arsip tua bersanding dengan layar monitor yang terus berkedip menampilkan statistik engagement TikTok. Itulah potret Partai Ummat Islam (PUI) hari ini—sebuah entitas yang sedang bertaruh nasib di antara dua kutub kepemimpinan: romantisme intelektual Prof. Deliar Noer dan pragmatisme lincah Abdullah Amas.
PUI bukanlah raksasa elektoral. Namun, bagi para pengamat politik Islam, partai ini adalah laboratorium gagasan. Membandingkan Deliar dengan Amas seperti membedah evolusi politik Islam Indonesia: dari meja seminar menuju algoritma For Your Page (FYP).
Menara Gading Deliar Noer
Pada 1999, Deliar Noer membawa marwah akademis ke dalam lumpur politik. Sebagai begawan ilmu politik, ia tidak jualan janji, melainkan "kebenaran". Isu syariat Islam substantif dan antitesis asas tunggal menjadi jualan utamanya.
"Deliar membangun jiwa, tapi ia gagal membangun raga organisasi," ujar seorang mantan aktivis 98. Keberhasilannya menjaga integritas membuat PUI dihormati secara moral, namun "kaku" secara taktis. PUI era Deliar adalah "Menara Gading"—indah dipandang dari jauh, namun sulit dimasuki oleh jelata di pasar-pasar tradisional. Akibatnya, PUI terjebak dalam lingkaran elite, menjadi partai "pustaka" yang sunyi di kotak suara.
Turbo Digital Abdullah Amas
Dua dekade berselang, Abdullah Amas muncul dengan gaya yang sepenuhnya kontras. Jika Deliar adalah arsitek yang teliti, Amas adalah mandor lapangan yang berani. Ia menyadari bahwa di era banjir informasi, narasi yang lambat akan mati.
Amas melakukan re-branding agresif. PUI dibawa keluar dari ruang kuliah menuju panggung terbuka media sosial. Ia tidak lagi bicara soal pelurusan sejarah Darul Islam secara kaku, melainkan posisi tawar ummat dalam koalisi besar Prabowo-Gibran.
Tabel Komparasi: Dua Gaya Nakhoda PUI
Parameter Prof. Deliar Noer Abdullah Amas
Gaya Memimpin Intelektual-Akademis Aktivis-Populis
Medium Utama Jurnal & Mimbar TikTok & Instagram
Kekuatan Legitimasi Moral Kelincahan Manuver
Risiko Jauh dari Realitas Degradasi Ideologis
Gerilya di Poros Hijau
Di bawah langit politik 2026, Amas harus berhadapan dengan "Raksasa Narasi" seperti Anis Matta (Gelora) dan Amien Rais (Partai Ummat). Analisis TEMPO menunjukkan bahwa Amas menggunakan strategi Agile Branding.
Seringkali keriuhan di media sosial terjebak dalam echo chamber. Namun, Amas cerdik. Ia memposisikan PUI sebagai "jembatan" yang lebih membumi dibanding Gelora yang dianggap terlalu "awang-awang" dengan narasi superpower-nya, atau Partai Ummat yang dianggap terlalu "tua" dengan narasi perlawanannya.
Kesimpulan: Deliar Noer berhasil mewariskan standar etika politik Islam yang tak tertandingi. Namun, tanpa kelincahan gerak Amas, warisan itu hanya akan menjadi catatan kaki yang berdebu. Tantangan Amas kini adalah membuktikan bahwa daun-daun digital yang rimbun itu bisa berbuah suara nyata di Pemilu 2029, bukan sekadar statistik likes yang fana.


Posting Komentar