Masyumi: Raksasa di Hulu, Gurem di Hilir
LAPORAN UTAMA: WAWANCARA KHUSUS
Masyumi: Raksasa di Hulu, Gurem di Hilir
Oleh: Abdullah Amas
Pengamat Gerakan Politik dan Dakwah
Di masa lalu, Masyumi adalah matahari. Partai ini merangkul hampir seluruh spektrum Islam—dari modernis Muhammadiyah hingga tradisionalis Nahdlatul Ulama—sebelum perpecahan 1952. Namun, setelah dekade demi dekade dilarang dan mencoba bangkit di era Reformasi, Masyumi seolah kehilangan "mantra" saktinya. Di tingkat gagasan (hulu), ia tetap menjadi raksasa yang disegani; namun di kotak suara (hilir), ia kerap berakhir sebagai partai gurem.
Pekan lalu, di sebuah kantor lawas yang sarat aroma buku dan sejarah, kami menemui tokoh yang gigih mengupayakan "Reborn" Masyumi. Berikut petikan wawancara tajam mengenai nasib sang raksasa yang sedang berusaha bangun dari tidurnya.
Gagasan Besar, Suara Kecil
Masyumi dulu adalah pemenang kedua Pemilu 1955. Mengapa sekarang seolah sulit sekali sekadar menembus ambang batas parlemen?
Begini, kita harus jujur. Masyumi itu kuat di "hulu" karena ia adalah pemikiran. Ideologi Islam-Demokrat yang dibawa Natsir itu abadi. Tapi di "hilir", kita menghadapi realitas politik yang sudah sangat transaksional. Kita ini raksasa ideologi, tapi kurus dalam logistik dan penetrasi lapangan.
Artinya Anda mengakui bahwa politik hari ini tidak lagi butuh ideologi, melainkan "isi tas"?
Bukan tidak butuh, tapi masyarakat kita sedang mengalami pragmatisme akut. Masyumi datang menawarkan integritas ala Mohammad Natsir yang bahkan jasnya saja bertambal. Masalahnya, pemilih hari ini lebih melihat siapa yang memberi bantuan sosial daripada siapa yang menawarkan konsep kenegaraan yang bersih.
Tapi bukankah partai-partai Islam lain juga mengambil ceruk yang sama? Kenapa harus ada Masyumi lagi?
Itu dia masalahnya. Terjadi fragmentasi. Partai Islam sekarang lebih mirip faksi-faksi kecil. Masyumi yang asli adalah tenda besar. Sekarang, tenda itu sudah robek-robek. Kita sedang mencoba menjahitnya kembali, meski banyak yang lebih nyaman dengan "rumah-rumah kecil" mereka sendiri.
Bayang-Bayang Sejarah dan Romantisme
Kritik menyebut Masyumi hanya menjual romantisme masa lalu. Apa relevansinya untuk pemilih Gen Z yang bahkan tidak kenal siapa itu Sjafruddin Prawiranegara?
Itu pekerjaan rumah kami. Kami tidak bisa hanya jualan "kami dulu hebat". Kita harus menerjemahkan nilai Masyumi ke dalam bahasa ekonomi digital, keadilan iklim, dan lapangan kerja. Kalau kami gagal di situ, ya kami akan tetap jadi artefak sejarah di museum politik.
Soal radikalisme. Masyumi sering dikaitkan dengan narasi Islam politik yang keras. Bagaimana Anda menjawab kekhawatiran publik?
Itu pelabelan sisa-sisa Orde Lama dan Orde Baru. Masyumi itu partai yang paling demokratis. Lihat sejarah: Natsir menentang Bung Karno bukan dengan senjata, tapi dengan mosi di parlemen. Kami ini korban narasi. Justru Masyumi adalah jangkar agar umat Islam tetap berada dalam koridor konstitusi, bukan di luar sistem.
Peta Jalan Menuju Hilir
Jika di Pemilu mendatang Masyumi tetap "gurem", apakah ini akhir dari jalan panjang ini?
Politik itu bukan soal menang-kalah dalam satu putaran. Masyumi adalah sebuah movement. Kalaupun secara elektoral kita belum "pecah telur", pemikiran kita harus tetap mewarnai kebijakan nasional. Tapi tentu saja, kita tidak mau selamanya jadi raksasa yang lumpuh di hilir.
Langkah konkretnya?
Konsolidasi. Kami tidak bisa jalan sendiri. Harus ada titik temu dengan ormas-ormas besar. Kita harus kembali ke basis dakwah yang nyata, bukan sekadar baliho di pinggir jalan.
"Masyumi itu kuat di hulu karena ia adalah pemikiran. Ideologi Natsir itu abadi. Tapi di hilir, kita menghadapi realitas politik yang sangat transaksional."
Analisis Penutup:
Masyumi tetaplah sebuah nama besar dengan beban sejarah yang juga besar. Tantangannya bukan lagi pada musuh politik dari luar, melainkan pada kemampuan mereka sendiri untuk relevan di tengah pemilih yang lebih peduli pada harga beras daripada debat ideologi tentang hubungan agama dan negara.
HISTORIA: MASYUMI
Raksasa di Hulu: Menelusuri Jejak Kejayaan Sang Matahari
Oleh: Abdullah Amas
Pengamat Gerakan Politik dan Dakwah
Jika sejarah politik Indonesia adalah sebuah aliran sungai, maka Masyumi adalah mata air yang paling meluap di hulunya. Di masa awal kemerdekaan, tak ada kekuatan sipil yang mampu menandingi wibawa dan cakupan massa partai ini. Ia bukan sekadar partai; ia adalah federasi pemikiran, tempat bernaungnya kaum intelektual modernis dan ulama tradisionalis di bawah satu panji hijau bulan bintang.
Rumah Besar Umat
Lahir di Yogyakarta pada November 1945, Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) adalah jawaban atas kerinduan akan persatuan. Di masa itu, sekat antara Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Persis, hingga PUI lebur. Nama-nama besar seperti Mohammad Natsir, Sukiman Wirjosandjojo, hingga K.H. Hasyim Asy'ari berada dalam satu barisan.
Inilah fase di mana Masyumi menjadi "Raksasa di Hulu". Mereka menguasai wacana intelektual di parlemen dan birokrasi. Kekuatannya bukan pada mobilisasi massa jalanan, melainkan pada kedalaman gagasan tentang bagaimana Islam dan Demokrasi bisa bersetubuh dengan harmonis dalam bingkai Republik yang baru seumur jagung.
Mosi Natsir: Puncak Hegemoni Intelektual
Puncak kejayaan "Hulu" Masyumi tercermin dalam Mosi Integral Natsir pada 1950. Saat Indonesia terpecah dalam bentuk negara serikat (RIS) hasil bentukan Belanda, Mohammad Natsir—sang arsitek Masyumi—mampu meyakinkan seluruh faksi politik untuk kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Masyumi saat itu adalah navigasi moral bangsa. Mereka memiliki teknokrat seperti Sjafruddin Prawiranegara yang menjaga denyut ekonomi, dan diplomat tangguh yang disegani dunia internasional."
Kemenangan Masyumi di Pemilu 1955 dengan meraih 20,9% suara (57 kursi parlemen) sebenarnya hanyalah konfirmasi formal dari kebesaran mereka yang sudah mengakar sejak revolusi fisik. Mereka adalah raksasa yang menentukan arah angin politik nasional.
Retaknya Bendungan: Awal Mula Surut ke Hilir
Namun, raksasa ini mulai goyah justru ketika air mulai mengalir ke hilir kekuasaan. Perbedaan tajam antara faksi modernis (Natsir-an) dan tradisionalis (NU) mengenai pembagian kursi kabinet dan pendekatan politik menyebabkan NU keluar dari Masyumi pada 1952.
Inilah retakan pertama yang membuat debit air Masyumi mengecil. Kehilangan NU berarti kehilangan basis massa pedesaan yang masif di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Masyumi perlahan berubah dari "Rumah Besar Umat" menjadi "Rumah Kaum Intelektual Modernis".
Benturan dengan Bung Karno
Di hulu, Masyumi tetap teguh pada prinsip demokrasi parlementer. Namun, arus sejarah di hilir bergerak menuju otoritarianisme "Demokrasi Terpimpin" Soekarno. Penolakan keras Masyumi terhadap konsep Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) membuat mereka berhadapan langsung dengan kekuasaan.
Keterlibatan beberapa tokohnya dalam PRRI menjadi alasan bagi Soekarno untuk membubarkan partai ini pada 1960. Sang Raksasa dipaksa tidur panjang.
Warisan yang Tak Kunjung Padam
Meskipun secara institusi dilarang selama puluhan tahun, "genetik" Masyumi tidak pernah mati. Ia bermutasi menjadi gerakan dakwah (DDII) dan melahirkan tunas-tunas partai Islam di era Reformasi. Namun, ironinya, meski gagasannya tetap menjadi referensi (hulu), kekuatan elektoralnya di hilir (pemilu modern) tak pernah lagi mencapai angka 20%.
Masyumi di masa awal adalah bukti bahwa Islam bisa menjadi motor persatuan dan rasionalitas bernegara. Kini, tantangan bagi para penerusnya adalah: mampukah mereka membawa air jernih dari hulu tersebut sampai ke hilir, tanpa tersumbat oleh pragmatisme politik zaman sekarang?


Posting Komentar