Jago Harmoni Suasana Dapur, Naniek S Deyang Ungkap Tantangan Dari Dapur MBG
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang meradang di Solo. Dari urusan kasur lipat hingga "bendera putih" ahli gizi di Aceh, program Makan Bergizi Gratis (MBG) terganjal realitas lapangan dan lonjakan harga Ramadhan.
SUASANA Rapat Koordinasi di jantung Solo Raya itu mendadak kehilangan formalitasnya. Di depan puluhan Kepala Satuan Pelayanan Pembangunan Gizi (SPPG), Nanik Sudaryati Deyang melontarkan pertanyaan yang terdengar sepele namun krusial: "Bagaimana fasilitas ruang istirahat di dapur kalian?"
Hening sejenak, sebelum kemudian pecah oleh riuh protes. "Saya, Bu! Saya!" teriak seorang Kepala SPPG berjilbab hitam asal Boyolali sembari mengangkat tangan tinggi-tinggi. Gelombang pengakuan menyusul dari perwakilan Sragen hingga Karanganyar. Puncaknya, seorang pengawas gizi berteriak getir, "Kami beli kasur sendiri, Bu!"
Pemandangan itu bak tamparan bagi birokrasi program ambisius ini. Nanik, yang menjabat Wakil Kepala BGN bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, langsung meminta mereka yang tak punya ruang istirahat layak untuk berdiri. Serentak, lebih dari 30 orang bangkit. Bagi Nanik, ini bukan sekadar soal kenyamanan, tapi urusan nyawa operasional. Pengelola dapur MBG wajib berjaga tiap malam demi memastikan ribuan porsi siap saat fajar.
"Catat semua, dan segera laporkan ke saya!" perintah Nanik tajam kepada para Koordinator Wilayah. Ultimatum pun meluncur: para mitra penyedia fasilitas yang abai terhadap hak dasar ini diancam suspend.
Dilema Anggaran Delapan Ribu
Di balik hiruk-pikuk fasilitas, sebuah "bom waktu" lain meledak di media sosial: kualitas menu MBG selama bulan Ramadhan yang dinilai merosot. Melalui unggahan di laman Facebook-nya, Nanik tak menampik adanya riuh rendah kritik tersebut. Ia justru berterima kasih, menyebut unggahan warga—baik yang tulus mengkritik maupun yang sekadar mencari monetisasi—sebagai "mata tambahan" bagi BGN yang hanya memiliki 100 pengawas untuk mengawal 24.000 dapur.
Namun, Nanik juga membuka tabir dapur yang selama ini jarang diketahui publik: hitung-hitungan angka yang menyesakkan dada.
Anatomi Anggaran MBG per Porsi:
Total Anggaran: Rp15.000
Operasional: Rp3.000 (Gaji relawan, BBM, gas, listrik, wifi, sampah).
Investasi/Sewa: Rp2.000 (Sewa gedung, alat masak, ompreng, pengembalian investasi mitra Rp3-6 miliar).
Bahan Baku: Rp8.000 (Balita - Kelas 3 SD) atau Rp10.000 (Kelas 4 SD ke atas, Bumil, Busui).
"Jujur, saya kasihan melihat pengawas gizi yang harus berjibaku menyusun menu dengan budget itu," tulis Nanik. Di kota kecil sekalipun, nasi telur sudah menyentuh angka Rp12.000. Sementara di Aceh, seorang pengawas gizi dikabarkan "mengibarkan bendera putih" karena harga pangan melonjak tak terkendali selama bulan puasa.
Lubang di Rekening Bersama
Mengapa menu di beberapa daerah tampak "memprihatinkan"? Nanik memetakan tiga kemungkinan. Pertama, adanya mitra yang masih mengambil untung terlalu besar dari penyuplai bahan baku. Kedua, faktor teknis di mana para pengawas keuangan dan ahli gizi—yang mayoritas masih berusia muda—terlalu berhati-hati dalam membelanjakan anggaran sehingga tidak terserap maksimal.
"Jangan buru-buru menuduh korupsi," tegas Nanik. Ia menjelaskan bahwa sisa uang di rekening bersama (Virtual Account) antara KaSPP dan mitra tidak bisa diutak-atik. Tahun lalu saja, sisa belanja sebesar Rp11 triliun dari 22.000 SPPG seluruh Indonesia ditarik kembali oleh Kemenkeu.
Ketiga, murni karena hantaman inflasi musiman. Anggaran Rp8.000 hingga Rp10.000 dipaksa untuk menghasilkan 3 sampai 5 jenis menu di tengah harga pasar yang "menggila".
Kini, di tengah aroma masakan dapur yang terus mengepul dari Sabang sampai Merauke, BGN dihadapkan pada ujian berat: menjaga piring anak bangsa tetap penuh bergizi, sembari memastikan mereka yang memasaknya tidak tidur beralaskan lantai dingin.


Posting Komentar