Ketum Partai Gelora Anis Matta Menjadi Paus di Kolam Sempit atau Teri di Samudra Gelora?
PULANG KE RUMAH TUA
Anis Matta di Persimpangan Jalan: Menjadi Paus di Kolam Sempit atau Teri di Samudra Gelora?
OBAH-amah politik seringkali tak seramah orasi di podium. Di atas panggung, Anis Matta adalah dirigen yang mampu menyihir ribuan orang dengan narasi peradaban, membedah sejarah Yarmuk seolah ia hadir di sana saat Khalid bin Walid membelah barisan Bizantium. Namun, di atas kertas suara, realitas bicara lain. Partai Gelora, "bayi ajaib" yang ia bidani dengan mimpi-mimpi besar tentang kekuatan kelima dunia, kini terengah-engah di bibir jurang elektoral.
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi soal teknis perolehan suara, melainkan sebuah dilema eksistensial: Haruskah sang "Arsitek" pulang ke rumah yang pernah ia bangun lalu ia tinggalkan, PKS?
Ikan Lele yang Rindu Lumpur
Ada anekdot yang beredar di kalangan akar rumput: Anis Matta itu ibarat ikan lele yang mencoba berenang di samudra lepas. Lele adalah penguasa air tawar—ia butuh lumpur militansi dan ekosistem yang spesifik untuk bernapas. PKS adalah kolam itu. Sebuah habitat di mana setiap diksi "gelombang", "peradaban", dan "manhaj" tidak perlu diterjemahkan lagi. Di sana, bahasa Anis adalah bahasa ibu.
Di luar PKS, Anis harus menjadi guru bagi massa yang lebih heterogen. Masalahnya, pasar politik Indonesia 2029 bukanlah ruang kelas yang sabar menyimak kuliah geopolitik. Di luar sana, politik adalah industri padat modal yang bising, di mana narasi adiluhung seringkali layu dihantam pragmatisme sembako.
"Mengajari Anis soal Yarmuk itu ibarat menggarami laut," tulis Abdullah Amas dalam catatannya. Memang benar. Anis tidak kekurangan teori perang. Ia hanya kekurangan pasukan yang "gila" dan logistik yang tebal untuk menggerakkan mesin partai di luar zona nyaman kader ideologis.
Antara Narasi dan Isi Tas
Kejatuhan atau stagnasi Gelora bukan karena Anis kehilangan magisnya. Namun, ia terjebak dalam paradoks yang ia tulis sendiri. Dalam berbagai risalahnya, Anis selalu menekankan pentingnya kapital (uang) sebagai bensin politik. Ironisnya, di Gelora, "Uang" yang ia agungkan itu tak kunjung datang dalam jumlah yang cukup untuk menandingi raksasa oligarki.
Tanpa dukungan logistik yang masif, militansi kader Gelora perlahan menguap, berganti menjadi keletihan prematur. Mereka punya otak, tapi kehilangan taring di lapangan. Sementara itu, di seberang sana, PKS tetap berdiri kokoh sebagai mesin politik paling stabil dengan kader-kader yang "sam'an wa tha'atan" (mendengar dan taat)—sebuah kemewahan yang kini tak dimiliki Anis.
Opsi Yarmuk: Mundur untuk Melompat?
Sejarah Islam yang digemari Anis mengenal istilah Inhiyaz—mundur untuk mengatur barisan kembali. Jika Khalid bin Walid bisa menarik pasukan demi kemenangan yang lebih besar, mungkinkah Anis melakukan hal yang sama?
Kembali ke PKS bukan berarti mengakui kekalahan. Itu bisa dibaca sebagai upaya menyelamatkan "otak terbaik" gerakan Islam agar tidak habis menjadi sekadar catatan kaki di lembaran sejarah pemilu yang kejam. PKS butuh otak global Anis, dan Anis butuh militansi kolosal PKS.
Namun, rekonsiliasi tak pernah sederhana. Ada luka lama yang mengering, ada ego yang mematu, dan ada faksi yang mungkin merasa terancam dengan kembalinya sang pengonsep ulung.
Epilog: Menunggu Momentum
Politik Indonesia hari ini adalah rimba yang tak mempan hanya dengan orasi. Anis Matta tahu itu. Jika Gelora tetap dipaksakan berlayar tanpa bahan bakar dan kompas yang dipahami pasar luas, ia hanya akan menjadi monumen intelek yang sepi pengunjung.
Mungkin benar, lebih baik menjadi ikan lele yang menghidupkan kolam lama, daripada menjadi paus yang terdampar dan mati kekeringan di pantai yang asing. Pilihan ada di tangan Anis: tetap menjadi "catatan kaki" yang intelek di Gelora, atau kembali menjadi "bab utama" di rumah lama.
Duri dalam Daging: Rekonsiliasi atau Luka yang Menganga?
Di balik wacana "pulang ke rumah", ada tembok tinggi yang dibangun dari tumpukan memori pahit tahun 2013 hingga drama pemecatan massal 2018. Bagi sebagian elit di MD (Majelis Syuro), Anis Matta bukanlah sekadar mantan Presiden Partai; ia adalah personifikasi dari "faksi pembaru" yang pernah dianggap terlalu sekuler, terlalu flamboyan, dan terlalu berisiko bagi kemurnian dakwah.
Fragmen "Darah" dan "Air Mata"
Kembalinya Anis ke PKS tidak akan disambut dengan karpet merah di semua lini. Di lantai atas gedung MD, jejak-jejak ketegangan saat faksi "Keadilan" (yang konservatif) berbenturan dengan faksi "Sejahtera" (yang moderat-ekspansif) masih terasa dingin. Bagi kelompok konservatif, Anis adalah arsitek "Open Party" yang dianggap hampir saja menghanyutkan identitas partai ke muara pragmatisme.
"Luka itu belum kering benar," bisik seorang sumber di lingkaran dalam partai. "Meminta Anis kembali sama saja dengan mengundang matahari kembar ke dalam satu ruangan kecil. Ada trauma kolektif tentang bagaimana faksi-faksi dulu saling kunci."
Antara Takzim dan Curiga
Kader-kader muda mungkin merindukan orasi Anis yang membakar, namun para "sepuh" di Dewan Syuro punya kalkulasi berbeda. Ada ketakutan laten: jika Anis kembali, apakah ia akan menjadi king maker yang patuh, atau justru kembali membangun faksi di dalam faksi?
Bagi Anis, kembali ke PKS adalah sebuah perjudian martabat. Di satu sisi, ia butuh mesin militan PKS yang tak tertandingi; di sisi lain, ia harus siap menanggalkan mahkota "Ketua Umum" dan mungkin harus kembali duduk sebagai santri yang takzim di hadapan para kiai partai yang dulu ia tantang secara intelektual.
Epilog: Perdamaian yang Mahal
Sejarah Yarmuk yang sering ia ceritakan mengajarkan tentang pengorbanan Khalid bin Walid yang rela dicopot dari panglima menjadi prajurit biasa demi persatuan. Pertanyaannya: Apakah Anis Matta siap menjadi "prajurit biasa" di rumah yang pernah ia pimpin? Ataukah PKS cukup besar hati untuk melapangkan dada bagi "anak hilang" yang membawa visi global namun tak punya tanah pijakan?
Tanpa rekonsiliasi yang tuntas dari hati ke hati—bukan sekadar transaksi elektoral—kepulangan Anis hanya akan menjadi duri dalam daging bagi PKS. Sebuah reuni yang manis di depan kamera, namun penuh sikut di balik meja.
ADALAH Syafaq Ahmar yang mencoba menyodorkan cermin sejarah ke wajah Anis Matta. Lewat "Perang Yarmuk", Syafaq seolah ingin mengajari sang ideolog Partai Gelora itu tentang bagaimana pasukan kecil Khalid bin Walid melumat raksasa Bizantium. Pesannya terang benderang: jangan jadi pelengkap, ciptakan momentum, dan berhentilah menunggu situasi ideal.
Namun, di sinilah letak kekeliruan fatal dalam membaca peta. Mengajari Anis Matta soal sejarah Islam—terutama detail manuver militer sahabat—ibarat menggarami lautan. Jika kita menyelami tumpukan buku dan ceramah Anis, sejarah bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan DNA pemikirannya. Ia sudah khatam soal Yarmuk jauh sebelum narasi "threshold nol persen" menjadi komoditas obrolan politik.
Logika dan Logistik
Masalahnya, politik Indonesia 2029 bukan padang pasir yang luas tanpa pembatas. Anis Matta bukannya tidak paham cara membaca celah atau bergerak cepat ala mobile guard Khalid bin Walid. Langkah Gelora selama ini, secara teoritis, sudah berada di rel yang benar: narasi peradaban, posisi geopolitik, dan tawaran Indonesia sebagai kekuatan global.
Namun, ada satu variabel yang sering dilupakan para penganjur "keberanian" yang hanya bermodalkan semangat: Uang.
Ironis memang. Anis Matta adalah salah satu politikus yang paling lantang menggembor-gemborkan urgensi kapital dalam politik. Dalam berbagai tulisannya, ia mengakui bahwa tanpa sokongan dana yang kuat, gagasan secanggih apa pun akan layu sebelum berkembang. Politik hari ini adalah industri yang mahal, dan mesin partai butuh bahan bakar bernama logistik untuk bergerak di luar ruang siber.
Antara Narasi dan Militansi
Jika Yarmuk gagal direplikasi oleh Gelora, penyebabnya bukan karena Anis kehilangan kompas strategi. Kegagalan itu muncul dari dua titik lemah yang kasatmata:
Defisit Logistik: Tanpa dukungan finansial yang setara dengan partai mapan, Gelora terengah-engah mengejar ambisinya sendiri.
Militansi yang Memudar: Kader-kader yang diharapkan menjadi "pasukan berkuda" di lapangan seringkali kalah militansi dibanding para pengikut fanatik partai lama.
Syafaq menyarankan Gelora untuk tidak menjadi "catatan kaki". Namun, sejarah juga mencatat bahwa keberanian tanpa dukungan logistik dan militansi kader yang solid hanya akan berakhir menjadi martir yang terlupakan, bukan pemenang.
Pilihan Pahit
Membangun identitas tegas di tengah kepungan oligarki mapan bukanlah soal berani atau takut. Ini soal daya tahan. Meminta Gelora langsung "unjuk gigi" dengan mengabaikan realitas kekuatan mesin adalah saran yang romantis namun ahistoris.
Anis Matta tahu betul bahwa di Yarmuk, Khalid bin Walid menang karena kualitas manusia dan ketepatan momentum. Di Indonesia, momentum seringkali bisa dibeli, dan kualitas manusia seringkali tergusur oleh kuantitas suara yang digerakkan oleh sembako.
Maka, ketimbang mengajari Anis tentang cara berperang, barangkali yang lebih relevan adalah bertanya: kapan "Uang" yang ia tuliskan itu akan benar-benar hadir untuk menggerakkan narasi peradaban yang ia janjikan? Tanpa itu, Gelora akan terus terjebak dalam dilema: menjadi bab utama yang mahal, atau tetap menjadi catatan kaki yang intelek namun tak punya taring.


Posting Komentar