Al-Mahdi Dan Misi Pasukan Muhammad Ganyang Syirik Modern
Antara Menanti Al-Mahdi dan Urgensi Ishlah Tauhid: Menghapus Syirik Modern
Banyak umat Islam terpaku pada penantian sosok Al-Mahdi, menghitung tanda-tanda zaman, namun melupakan bahwa Al-Mahdi hadir untuk menegakkan satu misi utama: Kemurnian Tauhid. Jika kita mengakui bahwa Allah menyempurnakan Al-Mahdi dalam satu malam (yushlihuhu fî lailatin wâhidah), maka pertanyaannya adalah: apa yang harus kita perbaiki dalam diri kita sembari menanti malam itu tiba?
Salah satu hambatan terbesar bagi datangnya pertolongan Allah adalah eksistensi "berhala-berhala modern" yang sering kali tidak kita sadari, yakni gambar-gambar makhluk bernyawa yang diagungkan atau dipajang secara berlebihan.
1. Ishlah Al-Mahdi: Penyatuan Kapasitas dan Amanah
Sebagaimana dijelaskan, Al-Mahdi tidak langsung menjadi pemimpin yang tangguh. Ia melewati fase "tahu tapi belum sanggup". Proses Ishlah satu malam adalah intervensi Ilahi untuk menutup celah kelemahan manusiawi.
Namun, penting untuk diingat bahwa Al-Mahdi diperbaiki untuk memimpin umat yang kembali pada kemurnian agama. Pertolongan Allah (melalui Al-Mahdi) sulit turun ke rumah-rumah atau hati-hati yang masih dipenuhi oleh simbol-simbol yang menghalangi masuknya Malaikat Rahmat.
2. Gambar Makhluk Bernyawa: Syirik Modern yang Terlupakan
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (makhluk bernyawa). Di era digital ini, gambar telah menjadi komoditas yang "biasa", namun secara esensial, ia tetap membawa risiko:
Pengagungan Figur: Foto tokoh, guru, atau pemimpin yang dipajang secara berlebihan dapat menggeser ketergantungan hati dari Khaliq ke makhluk.
Tandingan Ciptaan: Secara syariat, membuat atau memajang gambar makhluk bernyawa sering kali dipandang sebagai upaya menandingi ciptaan Allah.
Penghalang Rahmat: Bagaimana mungkin umat mengharapkan kepemimpinan Al-Mahdi yang lurus, jika di ruang-ruang privat kita masih memelihara sesuatu yang menjauhkan kehadiran malaikat?
3. Urgensi Tindakan: Menghapus Sebelum Menunggu
Menunggu Al-Mahdi adalah pasif, namun melakukan Ishlah terhadap tauhid kita adalah aktif. Menghapus gambar-gambar makhluk bernyawa—baik dalam bentuk fisik di dinding rumah maupun bentuk digital yang merusak kehormatan—adalah langkah nyata pembersihan jiwa.
"Lebih urgen bagi kita untuk melakukan 'ishlah' pada lingkungan kita sendiri dengan menyingkirkan bentuk-bentuk syirik modern, daripada sekadar berwacana tentang kapan Al-Mahdi akan muncul."
4. Menjadi "Manusia yang Cukup"
Al-Mahdi disempurnakan bukan menjadi "superman", melainkan menjadi manusia yang "cukup" untuk memimpin secara adil. Kita pun tidak perlu menjadi sempurna untuk memulai. Cukup dengan:
Membersihkan Niat: Memurnikan ibadah hanya untuk Allah.
Membersihkan Lingkungan: Menghilangkan simbol-simbol yang berpotensi menjadi kesyirikan (gambar, patung, atau jimat modern).
Membangun Kapasitas: Menyiapkan diri agar saat pemimpin yang dijanjikan itu hadir, kita bukan termasuk orang yang ragu, melainkan orang yang sudah "siap tempur" karena tauhid yang bersih.
Kesimpulan
Inti dari kemahdian adalah ketepatan waktu Allah. Namun, ketepatan itu sering kali berbanding lurus dengan kesiapan umatnya. Jangan sampai kita menantikan Al-Mahdi untuk menghancurkan berhala di akhir zaman, sementara kita sendiri sedang membangun berhala-berhala kecil di dinding rumah dan di dalam layar ponsel kita.
Ishlah-lah diri kita hari ini, maka Allah akan menyempurnakan kemenangan kita kemudian.
Kembali Ke Al-Mahdi
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
ALLOH SEMPURNAKAN ALMAHDI DENGAN ISLAH,
Kapasitas yang Disempurnakan dalam Satu Malam
Al-Mahdi mengetahui arah takdirnya. Ia menerima petunjuk melalui mubasyirāt tentang masa depan Islam dan perannya di dalamnya. Namun pengetahuan itu tidak otomatis menjadi kapasitas. Ia tahu, tetapi belum sanggup. Ia paham, tetapi belum siap. Inilah jarak paling menentukan dalam hadis-hadis tentangnya: jarak antara mengetahui takdir dan mampu memikulnya.
Karena itu Nabi ﷺ bersabda dengan sangat ringkas namun mengunci makna:
“Allah memperbaikinya dalam satu malam.”
Hadis ini tidak mengatakan Allah mengangkatnya dalam satu malam,
tidak pula mengatakan Allah memberinya mukjizat.
Yang disebut adalah perbaikan—ishlāḥ—pada kapasitas batin dan kepemimpinan.
Maknanya jelas: sebelum malam itu, kapasitas Al-Mahdi belum cukup.
Ia bukan tidak beriman.
Ia bukan tidak tahu.
Ia bukan tidak lurus.
Tetapi ia belum sanggup menanggung konsekuensi global dari amanah itu.
Kelemahannya terletak pada kapasitas:
kapasitas menahan tekanan umat,
kapasitas memutuskan tanpa ragu,
kapasitas memimpin tanpa cinta kekuasaan,
kapasitas berdiri tegak ketika takdir memaksa.
Karena itu ia takut.
Karena itu ia ingin menghindar.
Karena itu ia lambat.
Dan justru di sinilah hikmah hadis “satu malam”.
Allah tidak menunggu Al-Mahdi membangun kapasitas itu sedikit demi sedikit, karena waktu umat tidak selalu memberi ruang. Maka Allah menutup celah kegagalan dengan janji-Nya. Ketika batas kelemahan hampir membahayakan arah takdir, Allah turun tangan—bukan dengan mengubah manusia menjadi sosok lain, tetapi dengan menyempurnakan kapasitas yang sudah ada.
Dalam satu malam:
keraguan diteguhkan menjadi ketetapan,
rasa takut diarahkan menjadi kehati-hatian yang tegas,
keengganan dibingkai menjadi amanah yang tak bisa ditolak,
pengetahuan takdir disatukan dengan kemampuan menanggungnya.
Malam itu bukan malam keajaiban lahiriah,
melainkan malam penyatuan antara ilmu, niat, dan keberanian.
Sejak saat itu, Al-Mahdi tidak berubah menjadi manusia super.
Ia tetap manusia biasa.
Namun ia menjadi manusia yang cukup—cukup untuk memimpin, cukup untuk adil, cukup untuk menahan dirinya sendiri.
Inilah inti kemahdian:
bukan kesempurnaan pribadi sejak awal,
tetapi kapasitas yang disempurnakan tepat pada waktunya.
Inti satu kalimat
Hadis “diperbaiki dalam satu malam” menegaskan bahwa Al-Mahdi tahu takdirnya lebih dulu,
tetapi baru diberi kapasitas memikulnya ketika Allah menilai waktunya telah tepat.


Posting Komentar