14 Tahun Lalu di Singapura: Obrolan Santai yang Mengubah Wajah Indonesia Hari Ini
🪴 14 Tahun Lalu di Singapura: Obrolan Santai yang Mengubah Wajah Indonesia Hari Ini
Cerita ini dimulai 24 September 2012. Di bawah teriknya matahari Singapura, Dirgayuza menemani Prabowo Subianto berjalan santai menyusuri Gardens by the Bay. Di tengah taman futuristik berharga fantastis itu, Prabowo memandangi Marina Bay dan melontarkan sebuah harapan:
"Yuza, saya ingin rakyat Indonesia segera punya taraf hidup yang tidak kalah dengan rakyat Singapura."
Bagi banyak orang, itu mungkin terdengar seperti janji politis biasa. Namun, yang membuat momen itu melekat di ingatan Dirgayuza hingga 14 tahun kemudian adalah kalimat Prabowo selanjutnya.
Menurut Prabowo, Indonesia tidak pernah kekurangan ide, studi, atau konsep yang hebat. Yang selama ini kurang adalah keberanian untuk mengeksekusi.
Beliau memegang satu prinsip kuat: "Do not let the perfect be the enemy of the good."
Jangan menunggu segala sesuatunya sempurna baru mulai bergerak. Yang terpenting adalah berani memutuskan, segera kerjakan, dan sempurnakan sambil berjalan.
Dari Meja Rapat Menjadi Kerja Nyata
Kini, melompat ke tahun 2026, ucapan di Singapura itu terbukti bukan sekadar omong kosong. Dua tahun masa kepemimpinan Prabowo seolah menjadi jawaban atas berbagai proyek dan kebijakan yang puluhan tahun cuma jadi "wacana" dari meja ke meja.
Publik kini terus disuguhkan dengan kata "Akhirnya..."
• Akhirnya, Gas Abadi Masela yang mandek 30 tahun mulai dibangun (Juli 2026).
• Akhirnya, lembaga super-holding Danantara yang diwacanakan sejak 1980-an resmi berdiri (Feb 2025).
Akhirnya, kredit macet UMKM yang mencekik rakyat puluhan tahun diputihkan di hari-hari pertama ia menjabat (Nov 2024).
• Akhirnya, program makan bergizi gratis skala nasional terlaksana (Jan 2025).
• Akhirnya, korupsi kelas kakap dan mafia SDA disikat habis dengan rekor penyitaan aset terbesar dalam sejarah.
Tidak hanya itu, rentetan rekor baru tercipta. Mulai dari swasembada 8 komoditas pangan, 1.000 jembatan desa yang rampung, kesejahteraan hakim yang naik drastis, hingga kebanggaan melihat Presiden RI kemana-mana menggunakan mobil rancangan anak bangsa. Dan dalam waktu dekat, kendaraan listrik nasional pun siap mengaspal.
Seorang ahli tentang Indonesia, Adam Schwartz, pernah menyebut bahwa Indonesia akan selamanya menjadi "A nation in waiting"—bangsa yang hanya terus menunggu.
Namun, lewat prinsip kepemimpinan yang berani mengeksekusi dan tak menunggu sempurna, kutukan itu berhasil dipatahkan. Hari ini, terbukti bahwa Indonesia is no longer in waiting.
(Diadaptasi dari catatan Dirgayuza, 18 Juli 2026. Kisah lengkap kiprah kepemimpinan ini dapat dibaca dalam buku "Presiden Solusi / Problem Solver").
#Prabowo
#Dirgayuza


Posting Komentar