Para Penjaga Akar dan Para Pemburu Panggung: Sebuah Refleksi tentang KAMMI
Foto Amar Ar-Risalah.
Dikutip dari sebuah media online
Saya mengenal KAMMI bukan hanya sebagai sebuah organisasi. Saya mengenalnya sebagai rumah. Rumah yang di dalamnya saya pernah belajar tentang iman, perjuangan, kepemimpinan, persahabatan, dan pengorbanan. Saya pernah duduk di ruang-ruang kecil bersama kader lain, berdiskusi hingga larut malam, merasakan semangat para pengkader yang mengajarkan bahwa perubahan tidak lahir dari slogan, tetapi dari manusia-manusia yang ditempa dengan kesabaran.
Karena itu, melihat dinamika KAMMI hari ini membuat hati saya sebagai alumni tidak mudah untuk bersikap biasa saja. Ada kegelisahan, ada kesedihan, sekaligus ada pertanyaan besar: ke mana arah perjalanan kader-kader yang dahulu sama-sama berjanji menjaga rumah ini?
Saya memahami bahwa organisasi adalah kumpulan manusia. Ia tidak pernah steril dari perbedaan kepentingan, perbedaan cara pandang, bahkan konflik. Setiap generasi pasti memiliki ujian masing-masing. Tetapi bagi saya, yang paling penting bukan hanya konflik itu sendiri, melainkan bagaimana seseorang memilih bersikap ketika diuji.
Sebab dalam organisasi kader, karakter seseorang sering kali tidak terlihat ketika semuanya berjalan sesuai harapan. Karakter justru terlihat ketika ia kecewa.
Belakangan ini, KAMMI menghadapi salah satu dinamika terbesar dalam sejarahnya. Amri Akbar, yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat KAMMI, mengalami kekecewaan terhadap kepemimpinan Ahmad Jundi Khalifatullah. Kekecewaan itu kemudian berkembang menjadi langkah politik organisasi dengan membentuk struktur tandingan di tingkat pusat hingga beberapa wilayah dan daerah. Dengan berbagai dukungan, baik dari sebagian internal maupun pihak eksternal yang memiliki kepentingan tertentu, akhirnya lahirlah KAMMI versi lain yang melaksanakan muktamar dan "menetapkan" Amri sebagai Ketua Umum.
Saya tidak ingin menulis untuk menghakimi seseorang. Saya tidak berada dalam seluruh ruang percakapan, dinamika, dan keputusan yang melatarbelakangi semuanya. Tetapi sebagai alumni yang mencintai organisasi ini, saya merasa perlu mengambil pelajaran dari sebuah pertanyaan sederhana:
Ketika seseorang kecewa kepada rumahnya, apakah ia memperbaiki rumah itu, atau membangun rumah baru karena merasa dirinya lebih pantas menjadi pemiliknya?
Pertanyaan itu membawa ingatan saya kepada seseorang yang saya kenal dekat. Seseorang yang bagi saya memberikan contoh lain dalam merespons kekecewaan.
Namanya Amar Ar-Risalah.
Saya biasa memanggilnya Bang Amar.
Bagi sebagian orang, mungkin Bang Amar hanya dikenal sebagai seorang aktivis, penulis, atau pembicara. Tetapi bagi saya dan banyak kader yang pernah berinteraksi langsung dengannya, Bang Amar adalah contoh terbaik dari seorang kader.
Saya melihat sendiri bagaimana ia menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk membangun manusia. Sekitar tahun 2017-2022, hampir tidak ada jeda baginya untuk berkeliling mengisi ruang-ruang kaderisasi KAMMI di berbagai penjuru Indonesia. Ia bukan hanya datang ke kota-kota besar yang mudah dijangkau. Ia hadir di daerah-daerah yang mungkin jarang dilihat banyak orang. Dengan ongkos yang berasal dari kantong sendiri.
Saya masih ingat bagaimana Bang Amar sering kali berpindah dari satu pulau ke pulau lain. Dalam satu bulan, bukan sesuatu yang aneh apabila ia berada di Aceh, kemudian terbang ke Palangka Raya, lalu melanjutkan perjalanan menuju Ambon. Ia datang bukan membawa ambisi jabatan. Ia datang membawa ilmu, pengalaman, dan semangat untuk menyalakan ruh perjuangan para kader.
Ada banyak orang yang mampu berbicara tentang kaderisasi. Tetapi tidak semua orang bersedia menghabiskan waktunya untuk mengkader.
Di situlah saya melihat perbedaan besar.
Bang Amar sebenarnya memiliki semua modal jika ingin mengejar jabatan tertinggi di KAMMI. Jaringan yang luas, pengalaman nasional, kedekatan dengan banyak kader, dan rekam jejak panjang dalam pembinaan. Jika ia ingin menjadi Ketua Umum PP KAMMI, bukan sesuatu yang sulit untuk diperjuangkan.
Namun perjalanan hidupnya menunjukkan pilihan yang berbeda.
Jabatan tertinggi yang pernah ia emban di KAMMI adalah "hanya" sebagai Presiden Korps Instruktur Nasional periode 2019–2020. Bukan Ketua Umum. Bukan posisi yang menjadi pusat perhatian banyak orang.
Tetapi mungkin justru di situlah letak pelajarannya.
Tidak semua orang yang mampu memimpin harus mengejar kepemimpinan formal. Tidak semua orang yang memiliki pengaruh harus mengubah pengaruh itu menjadi kekuasaan.
Ada orang yang memilih menjadi akar. Tidak terlihat, tetapi membuat pohon tetap berdiri.
Bang Amar pun bukan manusia tanpa kecewa. Saya tahu ia pernah kecewa terhadap dinamika KAMMI. Saya tahu ia pernah memiliki pandangan berbeda terhadap keputusan dan arah organisasi. Ia bukan seseorang yang selalu setuju terhadap semua hal.
Tetapi saya melihat satu hal: Bang Amar tidak menjadikan kekecewaan sebagai alasan untuk menghancurkan sesuatu yang pernah ia bangun bersama.
Ia memilih jalan yang lebih sunyi. Ia tetap bekerja. Ia tetap berdakwah. Ia tetap berkarya.
Hari ini, ketika sebagian orang sibuk memperebutkan struktur dan legitimasi organisasi, Bang Amar justru terus memperluas medan perjuangan. Ia aktif dalam isu Palestina, menulis buku, menjadi pembicara, dan bergerak dalam berbagai agenda kemanusiaan yang ia inisiasi. Aktivitasnya tidak lagi hanya berada dalam ruang internal organisasi. Ia hadir di tingkat nasional bahkan internasional.
Kadang saya berpikir, mungkin inilah perbedaan antara orang yang mengejar posisi dengan orang yang memiliki misi.
Orang yang mengejar posisi akan merasa kehilangan ketika kursi tidak berada di tangannya.
Tetapi orang yang memiliki misi akan tetap berjalan, karena ia sadar bahwa medan perjuangan jauh lebih luas daripada sebuah jabatan.
Dalam sejarah gerakan, banyak tokoh besar diuji bukan ketika mereka mendapatkan kekuasaan, tetapi ketika mereka tidak mendapatkannya. Sebab kekuasaan sering kali menunjukkan kemampuan seseorang memimpin orang lain, tetapi kehilangan kekuasaan menunjukkan kemampuan seseorang memimpin dirinya sendiri.
KAMMI hari ini perlu merenungkan hal ini. Organisasi kader tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pintar berbicara. Tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mampu membangun jaringan. Tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai memenangkan pertarungan politik.
Organisasi kader membutuhkan manusia yang mampu menahan dirinya.
Sebab musuh terbesar sebuah gerakan terkadang bukan datang dari luar. Ia datang ketika ego pribadi mulai lebih besar daripada cita-cita yang diperjuangkan bersama.
Saya teringat pesan para guru dalam gerakan: bahwa dakwah bukan tentang siapa yang berdiri paling depan, tetapi tentang siapa yang paling lama bertahan ketika tidak ada yang melihat.
Bang Amar mengajarkan satu hal kepada saya: bahwa seseorang tidak kehilangan kehormatan hanya karena tidak memegang jabatan. Kadang justru kehormatan seseorang terlihat ketika ia memiliki kesempatan untuk merebut, tetapi memilih untuk tetap mengabdi.
Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah menjadi ketua. Sejarah akan lebih lama mengingat siapa yang menumbuhkan manusia.
Karena organisasi boleh berganti kepengurusan. Struktur boleh berubah. Nama dan jabatan boleh berpindah tangan.
Tetapi nilai seorang kader akan selalu diuji oleh satu pertanyaan:
Ketika kecewa datang, apakah ia tetap menjadi pembangun, atau berubah menjadi penghancur?
Dan dari sanalah kita belajar bahwa ukuran seorang pejuang bukan hanya bagaimana ia menang dalam pertarungan, tetapi bagaimana ia menjaga adab ketika mengalami kekalahan.


Posting Komentar