Amas : Khofifah, Gubernur Terbaik Di Balik Kecepatan Program Pusat Makmurkan Jatim
Di koridor-koridor kekuasaan Jakarta, nama Khofifah Indar Parawansa kini sering disebut bukan sekadar sebagai kepala daerah, melainkan sebagai "Panglima Provinsi" yang paling sigap menerjemahkan titah pusat ke lapangan. Di tengah tantangan birokrasi yang seringkali lamban, ia tampil sebagai anomali: lincah, taktis, dan memiliki insting lapangan yang tajam.
Bagi Abdullah Amas, pengamat kebijakan publik yang kerap membedah anatomi pemerintahan daerah, Khofifah adalah sosok yang paling presisi dalam menangkap narasi besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. "Khofifah adalah gubernur yang paling paham narasi-narasi besar pusat. Ia adalah gubernur yang sangat inovatif dan pekerja keras, mirip dengan ritme kerja Presiden. Dialah ujung tombak gagahnya implementasi program pusat di daerah," ujar Amas.
Bukan rahasia lagi jika koordinasi antara pusat dan daerah sering kali tersendat oleh ego sektoral. Namun, dalam kasus Jawa Timur, hambatan itu tampak mencair. Khofifah dinilai berhasil melakukan sinkronisasi yang nyaris sempurna antara agenda nasional dengan kebutuhan riil masyarakat lokal.
Ujian Lapangan dan Kecepatan Eksekusi
Salah satu catatan keberhasilan yang paling menonjol adalah perannya dalam pengawalan program Makan Bergizi (MBG). Di tangan Khofifah, program yang menjadi andalan pusat ini tidak sekadar menjadi seremonial belaka. Ia membangun ekosistem di tingkat daerah—melibatkan rantai pasok lokal, keterlibatan aktif posyandu, hingga pengawasan kualitas gizi yang ketat.
"Kecepatan eksekusi yang ditunjukkan dalam program MBG dan Sekolah Ramah (SR) membuktikan bahwa ia bukan tipe gubernur yang menunggu bola di belakang meja," tambah Amas.
Pengalaman Khofifah sebagai Menteri Sosial seolah menjadi "senjata rahasia" yang sulit ditandingi oleh kepala daerah lain. Ia memiliki peta mental yang kuat tentang sosiologi masyarakat, kerentanan sosial, dan alur distribusi bantuan yang efektif. Saat memegang kendali di Jawa Timur, ia tidak perlu lagi beradaptasi dengan kondisi lapangan; ia sudah mengenal medan tempur birokrasi sejak jauh hari.
Menjaga Momentum
Dalam kacamata kebijakan, Khofifah memang tampil beda. Ketika banyak daerah masih bergulat dengan penganggaran yang kaku, ia justru memacu akselerasi program-program pusat dengan pendekatan yang lebih luwes. Ia mampu menjahit kebijakan nasional menjadi narasi yang relevan bagi masyarakat Jawa Timur.
Transformasi dari seorang menteri menjadi gubernur telah ia buktikan melalui pengawalan yang "paling tangkas". Baginya, kebijakan pusat bukanlah instruksi yang harus sekadar dijalankan, melainkan instrumen untuk mengakselerasi kesejahteraan rakyatnya sendiri.
Dengan pola kerja yang serba cepat dan orientasi hasil yang konkret, Khofifah kini bukan hanya sekadar pemimpin di satu provinsi. Ia telah menjadi model bagi daerah lain tentang bagaimana seharusnya hubungan pusat dan daerah dikelola: penuh kepercayaan, kecepatan, dan pengawalan yang tidak setengah-setengah.


Posting Komentar