Soeharto, Wiranto Dan Prabowo
Guys, ada satu chapter dalam hidup Prabowo Subianto yang hampir tidak pernah dibahas secara mendalam dan menurut gue ini adalah salah satu kisah paling dramatis dalam sejarah politik Indonesia.
Bukan tentang karir militernya.
Bukan tentang penculikan aktivis.
Bukan tentang Pilpres yang dia ikuti berkali-kali.
Tapi tentang malam ketika jari telunjuk anak bungsu Soeharto menunjuk tepat satu inci dari hidungnya — dan kata "pengkhianat" meluncur tanpa ampun.
Konteks yang perlu dipahami dulu:
Prabowo bukan sekadar menantu Soeharto.
Dia adalah orang yang punya akses langsung ke Soeharto kapan saja sehingga orang menyebutnya "The Man Who Knows Too Much" orang yang terlalu banyak tahu.
Karirnya melesat luar biasa cepat.
Dalam 11 tahun dia mendahului rekan-rekan seangkatan.
Dari perwira biasa sampai Panglima Kostrad salah satu jabatan paling strategis di militer Indonesia.
Habibi bahkan menjanjikan bintang empat dan jabatan Panglima ABRI untuknya.
Tapi itu semua runtuh dalam hitungan hari di Mei 1998.
Malam yang mengubah segalanya 20 Mei 1998:
Jakarta sedang dalam kekacauan.
Mahasiswa menduduki DPR.
Kerusuhan pecah di mana-mana.
Soeharto di ujung kekuasaannya.
Malam itu Prabowo masih mengenakan pakaian tempur loreng datang menemui Habibi di Patra Kuningan.
"Pak, kemungkinan besar Pak Tua akan turun," katanya.
Dari sana dia melanjutkan perjalanan ke rumah Cendana.
Prabowo mengira akan mendapat penghargaan karena dia sudah berhasil menggagalkan rencana demonstrasi besar-besaran di Monas yang bisa memperburuk situasi.
Yang dia temukan di sana adalah sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan.
Momen yang paling membekas dan ini yang paling berat untuk dibayangkan:
Di ruang keluarga Soeharto duduk bersama Wiranto dan seluruh putra-putri Cendana.
Yang pertama berdiri adalah Mami putri bungsu Soeharto.
Dia berjalan mendekati Prabowo. Menudingkan jari telunjuknya satu inci dari hidung Prabowo.
Dan berkata:
Kamu pengkhianat.
Jangan injak kakimu di rumah saya lagi.
Prabowo keluar.
Menunggu di luar.
Ingin masuk lagi untuk meminta penjelasan.
Tapi pintunya tidak terbuka.
Istrinya Siti Hediati atau Titiek, putri Soeharto sekaligus istri Prabowo menangis di dalam.
Prabowo pulang sendirian.
Kenapa keluarga Cendana menganggap Prabowo pengkhianat dan ini yang kompleks:
Ada beberapa laporan yang sampai ke telinga Soeharto dan keluarganya.
Pertama — Prabowo disebut mengadakan pertemuan berkali-kali dengan Habibi sebelum Soeharto jatuh. Ini ditafsirkan sebagai upaya terencana untuk menyingkirkan Soeharto.
Kedua — ada laporan tentang pertemuan Prabowo dengan Adnan Buyung Nasution dan sejumlah tokoh lain pada 14 Mei yang dianggap sebagai konsolidasi untuk mendorong perubahan kekuasaan.
Ketiga — dan ini yang paling menyakitkan bagi keluarga Cendana beberapa hari sebelum Soeharto mundur, ketika mahasiswa menduduki DPR dan salah satu anak Soeharto bertanya apa yang harus dilakukan terhadap para demonstran, Prabowo menjawab bahwa tidak bisa menembaki mereka harus ada kompromi, harus ada reformasi.
Bagi keluarga Cendana itu adalah pengkhianatan.
Tapi versi Prabowo sangat berbeda dan ini yang perlu didengar:
"Saya adalah bagian dari rezim Soeharto.
Seandainya Soeharto bertahan 3 tahun lagi saja, saya sangat mungkin berpangkat Jenderal berbintang empat. Mengapa saya harus menyulut kerusuhan?"
Dia merasa terperangkap dalam situasi yang tidak adil.
Wiranto sebagai Panglima ABRI justru tidak berada di Jakarta di hari paling kritis itu.
Dia ngotot memberangkatkan semua jenderal penting ke Malang untuk acara upacara peralihan pasukan padahal sudah ada informasi akan terjadi kerusuhan besar.
Prabowo bahkan sudah mengingatkan untuk menunda acara itu.
Tapi tidak didengar.
Ketika Jakarta kacau Prabowo dan Pangdam Jaya yang ada di kota dan dianggap bertanggung jawab. Sementara Wiranto yang membiarkan Jakarta kosong dari pimpinan justru selamat dari tuduhan.
Prabowo merasa ini adalah jebakan sistematis.
Rivalitas Prabowo-Wiranto dan ini bukan sekadar gosip:
Dari buku yang menjadi sumber video ini hubungan keduanya memang tidak pernah harmonis.
"Antara kami tidak ada kesesuaian.
Kami tidak pernah bertugas di bagian yang sama. Kami berasal dari latar belakang yang berbeda,"
kata Prabowo.
Wiranto dibesarkan dalam suasana tradisional Jawa Tengah.
Prabowo dibesarkan di kota-kota Eropa dan Asia. Ketika Prabowo bertugas di lapangan dan pertempuran Wiranto menghabiskan waktu dalam pekerjaan staf dan jabatan sebagai ajudan Soeharto selama 4 tahun.
Tapi karir Wiranto naik sangat cepat setelah menjadi ajudan Soeharto dari Pangdam Jaya, Panglima Kostrad, KSAD, sampai akhirnya Panglima ABRI dan Menteri Pertahanan.
Sementara Prabowo meski karirnya juga cepat — akhirnya dicopot oleh Wiranto.
Dan yang ironis: pencopotan itu dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Soeharto sendiri.
Mertuanya sendiri yang menyetujui pemecatannya.
Copot saja Prabowo dari Kostrat
kata Soeharto.
Lalu dengan sarkasme yang sangat menyakitkan mengomentari keluarga Sumitro ayah Prabowo:
"Tak usah, kasih saja pendidikan.
Bukankah keluarganya intelektual?"
Bagaimana Prabowo memaknai semua ini:
Dia pernah bercerita kepada wartawan bahwa dia merasa seperti karakter dalam film Kurosawa — Ran sebuah adaptasi drama King Lear karya Shakespeare.
Seorang anak yang paling loyal tapi justru dianggap punya niat menjatuhkan pemimpinnya.
"Saya monster di balik segalanya," kata Prabowo dengan pahit.
Dan dari pertanyaan bercanda seorang teman lama Hasyim Wahid yang bertanya: "Kamu mau jadi siapa, Jaka Tingkir yang membunuh mertuanya dan mendirikan kerajaan atau Ageng Mangir yang akhirnya tewas?"
Jawaban Prabowo:
dia membanting pintu dan tidak mau berbicara dengan Hasyim selama 12 tahun.
Aftermath yang paling menyedihkan:
Prabowo akhirnya pergi ke luar negeri ke Yordania. Tinggal di pengasingan.
Ketika Soeharto jatuh sakit pada pertengahan 1999 konflik antara Prabowo dan keluarga Cendana sudah sedemikian dalam sehingga kemungkinan dia menjenguk sangat kecil.
Seorang teman dekat Prabowo menyebutkan: "Bayangkan betapa sakitnya.
Yang selama ini merasa menolong Soeharto malah dituduh sebagai pengkhianat.
Apa yang dilakukannya selama ini untuk menyelamatkan Soeharto tidak dihargai sama sekali."
Dan pernikahan Prabowo dengan Titiek Soeharto — yang sudah retak akibat situasi politik ini akhirnya berakhir.
Dia kehilangan segalanya dalam waktu yang sangat singkat: jabatan militer, hubungan dengan mertua, dan pernikahan.
Yang paling menarik dari seluruh kisah ini dan ini yang perlu direnungkan:
Kaum reformis memandang Prabowo sebagai perpanjangan tangan Soeharto orang yang harus dimintai pertanggungjawaban atas pelanggaran HAM di era Orde Baru.
Tapi keluarga Cendana justru memandang Prabowo sebagai pengkhianat orang yang tidak melakukan cukup untuk mempertahankan Soeharto.
Dua kubu yang berlawanan sama-sama membencinya dengan alasan yang berlawanan.
Itulah yang Prabowo maksud ketika dia berkata dia adalah karakter dalam drama King Lear terjebak di tengah, tidak diterima oleh siapapun, dan menanggung semua dosa dari dua sisi yang berseberangan.
Apapun pandangan lo tentang Prabowo baik tentang karir militernya, tentang penculikan aktivis, atau tentang perjalanannya menjadi presiden kisah malam ketika dia diusir dari Cendana adalah salah satu momen paling manusiawi dan paling tragis dalam sejarah politik Indonesia.
Seorang menantu yang merasa sudah melakukan segalanya untuk keluarga istrinya berdiri di luar pintu rumah mertua, menunggu penjelasan yang tidak pernah datang, sementara istrinya menangis di dalam.
Dan akhirnya pulang sendirian.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan konten channel Pega Jalanan yang mengutip buku "Dari Cijantung Bergerak ke Istana" karya Fifi Aleyda Yahya, cetakan 2009. Ini adalah narasi sejarah dari satu sumber — versi lain dari peristiwa yang sama mungkin berbeda. Semua klaim tentang motivasi dan peristiwa yang belum terbukti secara hukum harus diperlakukan sebagai narasi sejarah, bukan fakta yang telah diverifikasi.


Posting Komentar