Di Balik Meja Makan Reuni Mantan Politisi Demokrat : Reuni dan Sinyal Politik Tridianto
Ruang itu terasa hangat, meski malam di luar sana mungkin sedang dingin-dinginnya. Di sebuah meja kayu panjang, suasana akrab menyeruak. Di sana, Tridianto—mantan politisi Partai Demokrat yang lekat dengan citra loyalitasnya kepada Anas Urbaningrum—terlihat tengah asyik berbagi meja dengan sosok yang tidak asing di panggung politik nasional: Angelina Sondakh.
Dalam unggahan di media sosialnya, Tridianto menuliskan narasi singkat yang sarat kesan reuni: "Santai bareng temen lama bos ethos yang juga owner serayu news mas mukit dan sahabat lama mba @angelinasondakh09."
Bagi mereka yang mengikuti dinamika politik era 2010-an, nama-nama ini memicu ingatan pada hiruk-pikuk internal partai berlogo bintang mercy saat itu. Angelina Sondakh, yang sempat melewati ujian badai politik, kini tampak lebih rileks. Begitu pula Tridianto, yang selama ini dikenal sebagai loyalis yang kerap pasang badan untuk mentornya, Anas.
Kehadiran sosok yang disebutnya sebagai "bos ethos" atau "mas Mukit" Iya mas mukit yang seorang pengusaha herbal dengan produknya susu etawalin, memberikan dimensi lain pada pertemuan tersebut. Dalam peta relasi yang terbangun, pertemuan ini tidak sekadar makan malam biasa. Di meja itu, ada pertautan antara masa lalu politik yang penuh intrik dengan realitas kehidupan setelah badai.
Bagi Tridianto, meja makan memang bukan sekadar tempat untuk mengisi perut. Bagi pria yang dikenal blak-blakan ini, ruang-ruang informal sering kali menjadi tempat di mana "politik" dibicarakan dengan bahasa yang lebih manusiawi, jauh dari hingar-bingar rapat paripurna atau sorot kamera televisi.
Apakah pertemuan ini sekadar silaturahmi nostalgia, atau ada benang merah politik yang sedang ditenun kembali oleh mereka yang pernah "bersekolah" di kerasnya kehidupan politik nasional?
Yang pasti, di meja itu, di bawah lampu gantung yang temaram, mereka seperti sedang membuktikan satu hal: dalam politik, musuh atau kawan mungkin bisa berganti, namun jejaring pertemanan—terutama yang ditempa oleh sejarah panjang—sering kali memiliki daya tahan yang jauh lebih kuat daripada ideologi partai itu sendiri.


Posting Komentar