Organisasi Alumni Muda HMI Dan Lintas Organisasi Mahasiswa Cipayung Gaungkan Khofifah Dan Ning Lia Sebagai Dua Ibu Persatuan Daerah
Alumni Muda HMI Dan Lintas Organisasi Mahasiswa Cipayung Gaungkan Khofifah Dan Ning Lia Sebagai Dua Ibu Persatuan Daerah
Jakarta - Jaringan Alumni Muda Himpunan Mahasiswa Islam (JAM-HMI) Dan Jaringan Alumni Muda Lintas Organisasi Mahasiswa Islam (JAMLISMA) memberi gelar Khofifah dan Ning Lia Istifhama sebagai Dua Ibu Persatuan Daerah.
"Keduanya dikenal bukan saja menjayakan Jawa Timur tapi juga menjayakan seluruh daerah di Indonesia dengan konstribusi lintas daerah, Keduanya perhatian pada daerah-daerah, Khofifah kerap melakukan misi dagang secara masif diluar Jatim, menjaga anak-anak daerah seperti Papua yang mengadu nasib atau juga menimba ilmu di Jatim, rajin turun ke daerah selaku Ketua Umum Pembina Muslimat NU dan Ketua IKA UNAIR"tegas Abdullah Amas, perwakilan dua organisasi tersebut 22 April 2026
Ning Lia juga dikenal rajin memperhatikan daerah-daerah misal kiprahnya selaku Bendahara Umum IKA-PMII yang mengkolaborasikan alumni-alumni lintas daerah dengan jejaring IKA-PMII dalam memajukan perkaderan di daerah-daerah
Simak Ulasan Lengkapnya!
DUET "IBU" DARI TIMUR: MISI DAGANG HINGGA REKAT SOSIAL
SURABAYA – Di sebuah sudut kota yang riuh oleh diskusi aktivisme, sebuah narasi baru sedang dipintal. Bukan sekadar soal elektoral, melainkan tentang simbolisme kepemimpinan perempuan yang melampaui batas administratif Jawa Timur. Jaringan Alumni Muda Himpunan Mahasiswa Islam (JAM-HMI) bersama Jaringan Alumni Muda Lintas Organisasi Mahasiswa Islam (JAMLISMA) baru saja menyematkan sebuah titel ambisius: Khofifah Indar Parawansa dan Lia Istifhama adalah "Dua Ibu Persatuan Daerah."
Penyematan ini bukan tanpa alasan. Di mata para aktivis Cipayung ini, kedua tokoh tersebut dianggap berhasil menjahit retakan sosial dan ekonomi antarwilayah dengan gaya kepemimpinan yang "keibuan" namun taktis.
Diplomasi Dagang dan Pelukan Papua
Khofifah Indar Parawansa, sang petahana yang juga nakhoda Muslimat NU serta IKA UNAIR, dinilai konsisten menjadikan Jawa Timur sebagai "hub" nasional. Abdullah Amas, perwakilan dari kedua organisasi tersebut, menegaskan bahwa kontribusi Khofifah telah meluber ke luar batas provinsi.
"Khofifah bukan sekadar memimpin Jatim. Lewat misi dagang yang masif ke berbagai pelosok nusantara, ia menghidupkan nadi ekonomi antar-daerah," ujar Amas.
Namun, lebih dari sekadar angka neraca perdagangan, Khofifah disorot karena perannya sebagai "penjaga" anak-anak daerah di tanah rantau. Saat isu sensitif mengenai mahasiswa Papua mencuat beberapa waktu lalu, Khofifah hadir bukan sebagai birokrat kaku, melainkan sebagai sosok ibu yang merangkul mereka yang sedang menimba ilmu di Jawa Timur. Inilah yang disebut para alumni muda sebagai politik afeksi—menjaga persatuan melalui pendekatan kemanusiaan.
Ning Lia: Menjahit Kader di Arus Bawah
Di sisi lain, Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, melengkapi dwitunggal ini melalui jalur organisasi dan kaderisasi. Sebagai Bendahara Umum IKA-PMII, Lia dianggap piawai memainkan peran sebagai jembatan komunikasi antar-alumni di berbagai daerah.
Jejaring yang dibangun Lia tidak berhenti di tingkat elit. Fokusnya pada penguatan kaderisasi di daerah-daerah dianggap menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan intelektual muda Islam di seluruh Indonesia. Kolaborasi lintas daerah yang ia inisiasi melalui IKA-PMII dinilai sebagai langkah nyata dalam memajukan daerah dari aspek sumber daya manusia.


Posting Komentar