Perpisahan Jalan Guru Dan Murid, Pendiri PKS VS Pendiri Partai Gelora, Anis Matta: Menjadi "Hilmi" di Jalan Sunyi
Oleh: Abdullah Amas
(Pengamat Gerakan Dakwah dan Politik)
DI lereng perbukitan sejuk Cibubur, Hilmi Aminuddin membangun imperium spiritual yang kemudian menjelma menjadi mesin politik paling solid di republik ini: PKS. Di sana, politik bukan sekadar angka, melainkan derivasi dari sujud dan strategi. Kini, bertahun-tahun setelah sang Murabbi berpulang, aroma "manajemen langit" itu tercium kembali, namun dari arah yang berbeda. Anis Matta, sang murid kesayangan, sedang mencoba mereplikasi tuah sang guru melalui Partai Gelora.
Persoalannya: mampukah sang "peluru" menjadi sang "pemilik busur"?
Warisan yang Terbelah
Anis Matta sejatinya adalah DNA murni Hilmi Aminuddin. Sebagai Sekretaris Jenderal abadi di masa keemasan PKS, Anis adalah dirigen yang menerjemahkan visi sunyi Hilmi menjadi gerakan kolosal di lapangan. Jika Hilmi adalah kedalaman samudera yang tenang, Anis adalah gelombang yang menghantam karang. Namun, sejarah mencatat noktah hitam: murid terbaik seringkali bukan murid yang paling setia pada agenda sang guru.
Lahirnya Partai Gelora adalah proklamasi kemandirian sekaligus pengakuan atas keterbelahan "amal jariyah" politik Hilmi. Di bawah panji Gelora, Anis mencoba menarik otot-otot lama—gerbong KA-KAMMI hingga loyalis Fahri Hamzah. Namun, realitas politik praktis tak seramah nostalgia aktivis.
Jika dahulu PK (sekarang PKS) mampu merangsek ambang batas parlemen di awal kemunculannya, Gelora hari ini masih tertatih di angka 0,7 persen. Sebuah pencapaian yang, meski disebut "lumayan" oleh sebagian kalangan, sebenarnya menunjukkan betapa beratnya membangun "Madani" baru tanpa restu struktur yang utuh.
Dentuman Salju dan Jenderal yang Tumbang
Secara spiritual, Anis adalah magnet. Mereka yang berada di dekatnya kerap merasa terhantam "dentuman salju"—dingin namun menggetarkan ruh. Kedalaman literasi dan retorika puitisnya bahkan disebut-sebut melampaui sang guru. Dalam urusan membasuh jiwa kader dengan narasi "Kerja Cinta", Anis tak punya tandingan di antara mantan Presiden PKS lainnya. Luthfi Hasan Ishaaq, Hidayat Nur Wahid, hingga Tifatul Sembiring tak ada yang memiliki keberanian (atau kenekatan) serupa: mendirikan rumah baru di atas tanah yang masih basah.
Namun, politik memerlukan lebih dari sekadar "ruh". Ia memerlukan napas logistik dan ketahanan pasukan. Di sinilah letak ujian berat sang murid. Satu per satu "jenderal tempur" Anis mulai rontok atau memilih menepi. Nama-nama seperti Slamet Nurdin di Jakarta yang tumbang, hingga Andi Rahmat yang tampak enggan turun gelanggang di level "partai mini", menjadi sinyal merah.
Ada kesan bahwa kekuatan Anis saat ini hanyalah sisa-sisa energi dari matahari yang pernah ia kelola bersama Hilmi.
Murid Terbaik di Arena Sempit
Tak bisa dimungkiri, Anis Matta adalah kader nomor wahid yang pernah dilahirkan rahim Tarbiyah. Jika Hilmi Aminuddin dahulu membuat SBY segan dengan posisi tawar Majelis Syuro-nya, Anis kini masih berjuang mencari celah di meja makan kekuasaan. Suara partai yang mini membuatnya lebih banyak menjadi pemikir di balik layar daripada penentu kebijakan di panggung depan.
Anis memang berhasil membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar bayang-bayang. Ia adalah entitas mandiri. Namun, ia juga membuktikan tesis pahit dalam gerakan dakwah: bahwa kemandirian seringkali harus dibayar dengan suara yang mengecil.
Ia tetaplah "Hilmi Aminuddin" bagi Partai Gelora—pusat gravitasi dan pemberi arah. Namun tanpa struktur masif dan loyalis yang tak lekang oleh zaman seperti yang dibangun sang guru di Cibubur, Anis Matta mungkin akan tercatat dalam sejarah bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai seorang pemikir besar yang terjebak di dalam partai kecil


Posting Komentar