ANAS URBANINGRUM MUNDUR DARI POSISI KETUM PARTAI PKN, GEDE PASEK KEMBALI MENYETIR PKN
ANAS URBANINGRUM MUNDUR DARI POSISI KETUM PKN, GEDE PASEK KEMBALI MENYETIR PKN
Mundurnya Anas Urbaningrum dari kursi ketua umum memaksa I Gede Pasek Suardika kembali ke pucuk pimpinan. Alasan "kesibukan domestik" AU menjadi ganjalan di tengah mesin partai yang harus mulai dipanaskan menuju 2029.
JAKARTA – Dinamika di tubuh Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) kembali bergolak, namun dengan wajah yang lama. Gede Pasek Suardika, sang arsitek awal partai berbaju putih-merah ini, resmi kembali menduduki jabatan Ketua Umum. Kepastian ini dikukuhkan setelah Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas, menandatangani dan menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepengurusan baru di kantor Kementerian Hukum, Jakarta, Senin lalu.
Pasek bukan orang baru di kursi panas itu. Dialah yang menakhodai PKN saat partai ini masih merangkak, hingga akhirnya berhasil menembus barikade verifikasi dan menjadi kontestan Pemilu 2024. Namun, posisi itu sempat ia serahkan kepada sahabat karibnya, Anas Urbaningrum (AU), setelah eks Ketua Umum Demokrat itu menghirup udara bebas.
Kini, roda nasib berputar balik. Lewat akun media sosialnya, Pasek mengonfirmasi bahwa estafet kepemimpinan ini terjadi lantaran Anas memilih mundur. Alasannya? "Kesibukan domestik yang mengharuskan memfokuskan waktunya tahun ini dan tahun-tahun kedepannya," tulis Pasek. Di saat yang sama, beban teknis partai menuju Pemilu 2029 justru kian menumpuk—sebuah ritme yang tampaknya tak lagi sejalan dengan prioritas pribadi Anas saat ini.
Panggilan Sejarah dan Wajah Bali
Kembalinya Pasek ke tampuk pimpinan bukanlah tanpa beban. Ia mengakui bahwa mengelola partai dengan struktur nasional di tengah kesibukan profesinya sebagai advokat adalah tantangan yang "sangat berat".
Ya,Paling tidak di posisi ketua umum, ada wajah Bali juga berada di partai politik yang sah berbadan hukum
Pertemuan di Kemenkum berlangsung cukup cair. Meski lewat komunikasi singkat, Supratman Andi Agtas menyempatkan diri menerima Pasek dan rombongan sebelum memproses administrasi di Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU).
Teka-Teki Langkah Anas
Mundurnya Anas Urbaningrum tentu memicu tanya. Setelah sempat digadang-gadang akan membawa PKN terbang lebih tinggi pasca-rehabilitasi politiknya, AU justru memilih menepi ke urusan domestik. Sumber di internal partai menyebutkan, beban konsolidasi akar rumput menuju 2024 kemarin memang cukup menguras energi, dan PKN butuh nakhoda yang bisa "wakaf waktu" penuh untuk lima tahun ke depan.
Bagi Pasek, ini adalah kali kedua ia harus merakit ulang mesin partai. Dengan slogan khasnya, "Dah gitu aja", ia kini bersiap menghadapi jalan terjal politik menuju 2029. Tantangannya jelas: memastikan PKN tidak sekadar menjadi partai pelengkap, tapi juga mampu bicara banyak di tengah dominasi partai-partai besar.


Posting Komentar