Sarekat Islam Dan Masyumi Adalah Raksasa Yang Tertidur Dan Menyusut
Sarekat Islam Dan Masyumi Adalah Raksasa Yang Tertidur Dan Menyusut.
Ketua Umum DPP Partai MASYUMI RI Abdullah Amas menyebut nasib MASYUMI Dan Sarekat Islam sudah kena vonis takdir terus menyusut dan tertidur.
"MASYUMI berkali kali ganti baju entitasnya juga terus mengecil sedang Sarekat Islam terpecah juga terus mengecil meski keduanya tetap ada dan itu MASYUMI dan Sarekat Islam seperti kena hukum besi sejarah bahwa mereka sama-sama besar di awal lalu ya seperti sekarang ini"ujar Amas
Amas menceritakan sejarah bagaimana Pasca Reformasi PSII yang pecah antara PSII dan PSII 1905 tak bisa bertahan dan besar seperti dulu lalu MASYUMI pasca 1998 terpecah ada yang ke PBB, Partai MASYUMI Baru, Partai Ummat Islam (PUI), Partai Politik Islam MASYUMI lalu dari PBB pecah dua baru ada Partai Islam Indonesia dan Partai Al-Islam Sejahtera Indonesia bahkan pasca 2014 ada Ormas bentukan eks PBB yaitu Ormas Akurat Indonesia (Amanat Kejujuran Untuk Rakyat Indonesia) kemudian pasca 2019 kelompok Kaban keluar ikut terlibat membuat Partai Ummat, sebagian lagi mengaktifkan kembali Partai MASYUMI, PDRI (meski PDRI memilih merger dengan Partai Ummat dan kami Partai MASYUMI RI dan pasca 2024 barisan Eks Sekjen Afriansyah Noer gabung Demokrat
Tersengal-sengalnya nasib MASYUMI dan Sarekat Islam memerlukan kompas perjuangan baru yaitu memurnikan Tauhid yang mengundang pertolongan Allah bagi eksistensi keduanya
Berikut kalau kita buat pendalamannya dalam sebuah artikel
LAPORAN UTAMA: Raksasa yang Mengecil di Labirin Sejarah
Nasib Sarekat Islam dan Masyumi kini ibarat memorabilia yang berdebu. Pernah menjadi rumah besar bagi umat, kini keduanya terserak dalam faksi-faksi kecil yang berkelindan dengan ambisi dan takdir.
DI sebuah ruangan yang barangkali dipenuhi aroma arsip lama, Abdullah Amas, Ketua Umum DPP Partai Masyumi RI, melontarkan sebuah kalimat yang terdengar seperti elegi. "Masyumi dan Sarekat Islam seperti kena hukum besi sejarah," ujarnya. Kalimat itu bukan sekadar bumbu percakapan, melainkan potret muram dari dua entitas yang dulu sanggup menggetarkan panggung kolonial dan awal kemerdekaan.
Sarekat Islam (SI), yang di masa Tjokroaminoto adalah "Gajah" yang tak tertandingi, kini tinggal fragmen. Pasca-Reformasi, perpecahan antara PSII dan PSII 1905 menjadi awal dari penyusutan yang seolah tak berujung. Senasib sepenanggungan, Masyumi—yang dulu disebut sebagai "tenda besar" umat Islam—kini lebih mirip potongan puzzle yang sulit disatukan.
Amas merinci daftar panjang perpecahan itu layaknya membaca daftar manifes kapal yang karam. Sejak 1998, ruh Masyumi bertebaran ke berbagai wadah: PBB, Partai Masyumi Baru, PUI, hingga Partai Politik Islam Masyumi. Tak berhenti di situ, PBB pun membelah diri menjadi Partai Islam Indonesia dan Partai Al-Islam Sejahtera Indonesia.
Fragmentasi ini mencapai puncaknya pasca-2019. Gerbong MS Kaban berlabuh di Partai Ummat, sementara yang lain mencoba menghidupkan kembali nama besar Masyumi dan PDRI. Peta politik semakin cair sekaligus membingungkan ketika barisan eks Sekjen Afriansyah Noer memilih merapat ke Demokrat pasca-2024.
"Mereka sama-sama besar di awal, lalu ya seperti sekarang ini," kata Amas dengan nada getir. Baginya, jalan keluar dari labirin ini bukan lagi sekadar lobi politik atau "ganti baju" entitas. Kompas baru yang dibutuhkan adalah pemurnian tauhid—sebuah ikhtiar spiritual yang diharapkan mampu mengundang kembali pertolongan langit untuk menghidupkan raksasa yang sedang tersengal-sengal ini.
Puisi: Raksasa di Ujung Jalan
Membaca Peta yang Robek
Di meja makan, kita membicarakan rumah
yang pintunya makin banyak, tapi ruang tamunya makin sempit.
Kau menyebut nama Masyumi dan Sarekat Islam
seperti mengeja nama kakek yang fotonya mulai kabur di dinding.
Mereka dulu adalah sebuah alamat yang jelas,
sebelum sejarah datang membawa gunting dan memotongnya
menjadi potongan-potongan kecil yang tak lagi saling mengenali.
Seorang anak pergi ke rumah biru, yang lain membuat tenda sendiri,
sementara sisanya sibuk menjahit saku baju yang bocor.
"Kita hanya perlu kembali pada doa yang paling mula," katamu.
Tapi di luar, angin sejarah terlalu kencang
dan kita adalah orang-orang yang lupa
bahwa rumah yang besar hanya bisa tegak
jika fondasinya bukan sekadar nama.
Gaya Chairil Anwar
(Lugas, maskulin, penuh vitalitas dan pemberontakan)
HUKUM BESI
Nasib adalah taring yang mengunyah pelan!
Sarekat Islam, Masyumi—dulu raksasa yang meludah api,
Kini tersudut di pojok zaman, tersengal dalam nafas yang memburu.
Pecah! Belah! Menjadi serpihan-serpihan kecil
Yang sibuk mencari baju baru di pasar loak politik.
Takdir ini besi, Amas!
Membeku dan mengecilkan tubuhmu yang dulu perkasa.
Tapi dengar: Kita bukan bangkai yang pasrah pada ulat.
Tauhid itu api! Bukan sekadar hafalan di ujung lidah.
Biar mereka berpencar, biar mereka lari ke Demokrat atau Ummat,
Tapi ruh ini tak boleh mati di tangan angka-angka.
Sekali berarti, sudah itu mati!
Atau bangun, dan jadilah raksasa kembali!
Dibawah
Ini rilis berita lebih banyak
LAPORAN KHUSUS: Anatomi Raksasa yang Menyusut
Sarekat Islam dan Masyumi bukan sekadar nama dalam buku sejarah; mereka adalah genetik politik Islam Indonesia. Namun, hukum besi sejarah dan syahwat faksionalisme telah mengubah gajah menjadi kumpulan semut yang berserak.
DI panggung politik Indonesia, nama Masyumi dan Sarekat Islam (SI) adalah mantra yang pernah menyihir jutaan orang. SI, di bawah asuhan H.O.S. Tjokroaminoto, adalah organisasi massa modern pertama yang mampu memobilisasi rakyat jelata melawan kolonialisme. Sementara Masyumi, pada Pemilu 1955, berdiri tegak sebagai pemenang kedua, rumah besar bagi kaum santri, intelektual, hingga pedagang.
Namun, kejayaan itu kini tinggal narasi dalam diskusi-diskusi terbatas. Abdullah Amas, Ketua Umum DPP Partai Masyumi RI, menyebut fenomena ini sebagai "Hukum Besi Sejarah". Sebuah siklus di mana kebesaran di masa awal justru menjadi beban yang memicu fragmentasi tiada henti.
Labirin Perpecahan Sarekat Islam
Sejarah mencatat SI sebagai "rahim" dari hampir semua pergerakan politik di Indonesia, termasuk faksi kiri yang kemudian menjadi PKI (SI Merah). Pasca-kemerdekaan, perpecahan tak berhenti. Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) yang merupakan kelanjutan SI, perlahan kehilangan taji.
Memasuki era Reformasi, harapan untuk menyatukan kembali panji SI sirna. Alih-alih merapat, entitas ini terbelah menjadi PSII dan PSII 1905. "Mereka tak lagi mampu bertahan sebagai satu kekuatan tunggal," ujar Amas. Fragmentasi ini membuat suara konstituen SI menguap ke partai-partai nasionalis atau partai Islam baru yang lebih adaptif.
Masyumi: Tenda Besar yang Robek
Nasib Masyumi jauh lebih kompleks. Setelah dibubarkan oleh Sukarno pada 1960, ruh Masyumi sempat "dititipkan" pada Parmusi, lalu dipaksa melebur ke PPP di era Orde Baru. Ledakan Reformasi 1998 seharusnya menjadi momentum kembalinya sang raksasa. Namun yang terjadi justru sebaliknya: lahirnya "bayi-bayi" politik yang saling berebut legitimasi sebagai pewaris sah Masyumi.
Amas merinci peta fragmentasi yang melelahkan ini:
Gelombang Awal (1998): Munculnya Partai Bulan Bintang (PBB) yang dipimpin Yusril Ihza Mahendra, Partai Masyumi Baru, hingga PUI.
Sempalan PBB: Internal PBB pun tak solid, melahirkan Partai Islam Indonesia (PII) dan Partai Al-Islam Sejahtera Indonesia.
Eksodus Tokoh: Pasca-2019, ketidakpuasan internal di PBB membuat gerbong MS Kaban beralih membidani Partai Ummat bersama Amien Rais.
Fenomena Terbaru: Munculnya Partai Masyumi (Reborn) dan PDRI (yang kemudian merger ke Partai Ummat), hingga manuver politik eks Sekjen PBB Afriansyah Noer yang memilih bergabung dengan Partai Demokrat pasca-2024.
"Masyumi berkali-kali ganti baju, entitasnya terus mengecil," sesal Amas. Baginya, banyaknya partai yang mengeklaim "Masyumi" justru melemahkan brand besar itu sendiri di mata pemilih muda.
Mencari Kompas Tauhid
Di tengah kondisi yang "tersengal-sengal" ini, Amas menawarkan jalan keluar yang bersifat fundamental: Pemurnian Tauhid. Ia berargumen bahwa kegagalan politik selama ini disebabkan oleh terlalu banyaknya kompromi pragmatis yang melupakan esensi perjuangan.
Tanpa kembali ke akar spiritual yang murni, raksasa yang sedang tidur ini dikhawatirkan tidak akan pernah bangun, melainkan hanya akan menyusut hingga benar-benar hilang dari ingatan sejarah.
PUISI: SILSILAH DEBU
Gaya Aan Mansyur (Liris & Melankolis)
Sesuatu yang Terus Membelah Diri
Kita menemukan Masyumi di dalam laci tua,
seperti surat cinta yang alamatnya tak lagi ditemukan di peta.
Di luar, orang-orang sibuk membagi warisan;
sepotong bendera untuk si sulung,
sepotong nama untuk si bungsu,
dan sisanya menjadi debu yang menempel di jendela Demokrat.
Kau bicara tentang Sarekat Islam
seperti bicara tentang sungai yang hulunya satu,
tapi muaranya tak pernah bertemu laut.
PSII, PBB, Ummat—nama-nama itu seperti kancing baju
yang lepas satu per satu saat kita berlari mengejar kekuasaan.
Mungkin benar kata Amas, kita hanya perlu diam sejenak.
Melihat ke dalam diri, sebelum semua benar-benar sunyi.
Sebab di akhir cerita, yang tersisa bukan siapa yang paling besar,
tapi siapa yang masih memiliki cahaya di dalam dadanya.
Puisi 2 ;
DI PERSIMPANGAN TAKDIR
Ini bukan lagi zaman Tjokro!
Ini zaman di mana gajah-gajah mati kelaparan di kandang sendiri.
Masyumi! Nama yang pernah menggetarkan meja-meja perundingan,
Kini dipotong-potong, jadi "sempoyongan" di jalan-jalan politik dan gerakan
Kau bilang ini hukum besi?
Aku bilang ini adalah kutukan bagi mereka yang ragu!
Satu menjadi dua, dua menjadi seribu,
Tapi tak satu pun yang sanggup berdiri tegak menantang matahari.
PBB, PUI, atau entah apalagi namanya—
Hanyalah baju-baju sempit yang dipaksakan pada tubuh yang luka.
Persetan dengan semua baju itu!
Amas benar: Bersihkan tauhidmu dari daki-daki kursi!
Jika kau ingin raksasa ini bangun dari tidurnya,
Jangan beri dia janji, beri dia api!
Sekali berarti, sudah itu mati.
Atau bangkit, dan hancurkan belenggu takdir ini!



Posting Komentar