Profil: Sang Penakluk Hati Cinta
Profil: Sang Penakluk Hati Cinta
Maulana Indraguna Sutowo tak sekadar mewarisi imperium bisnis keluarga. Di balik kemudi MRA Group, ia memilih jalan sunyi yang jauh dari hiruk-pikuk pamer kemewahan.
DELAPAN belas Mei, empat belas tahun silam, barangkali menjadi hari berkabung nasional bagi para pemuja Dian Sastrowardoyo. Di hari itu, sang pesohor yang memikat publik lewat karakter "Cinta" dalam Ada Apa dengan Cinta? resmi melepas masa lajangnya. Pria yang beruntung itu bukanlah sosok fiktif macam Rangga, melainkan Maulana Indraguna Sutowo.
Sejak awal, Indra—begitu ia akrab disapa—bukanlah figur sembarangan. Ia adalah pewaris trah konglomerat yang akarnya menghunjam dalam di sejarah ekonomi Indonesia. Ayahnya adalah mendiang Adiguna Sutowo, sementara kakeknya, Ibnu Sutowo, merupakan tokoh kunci yang pernah menakhodai Pertamina di era Orde Baru. Namun, menyandang nama besar Sutowo tak lantas membuat Indra hanya berpangku tangan di atas tumpukan aset keluarga.
Darah bisnis yang mengalir di nadinya ia buktikan lewat kerja nyata. Sebelum menduduki kursi Chief Executive Officer (CEO) PT Mugi Rekso Abadi (MRA) pada Januari 2017, ia telah malang melintang mengelola berbagai lini usaha, termasuk butik Paris Hilton di Grand Indonesia. Di bawah kendalinya, MRA yang membawahi berbagai unit bisnis gaya hidup, media, hingga otomotif, terus bergerak dinamis.
Menariknya, di tengah tren "pamer harta" yang menjangkiti kaum jetset tanah air, Indra justru memilih jalan berlawanan. Menelusuri galeri media sosialnya, publik tak akan menemukan etalase kemewahan yang vulgar. Meski ia tercatat sebagai anggota Ferrari Owners Club Indonesia, foto-foto kendaraan mewah tersebut hanya muncul sesekali—itu pun dalam konteks acara resmi klub.
"Ia tetap low profile dan tak mempublikasikan kekayaan yang ia punya melalui media sosial," bisik seorang kolega yang memahami keseharian sang pengusaha.
Kesederhanaan Indra juga tampak dari bagaimana ia memposisikan diri sebagai suami. Alih-alih mengekang sang istri di balik tembok rumah mewah, Indra justru menjadi pendukung utama karier Dian di industri hiburan. Ruang gerak Dian tak terbatas; ia tetap bersinar di layar lebar, sebuah kemerdekaan yang jarang didapat oleh istri-istri di lingkaran elite serupa.
Keduanya justru lebih sering terlihat memamerkan "kekayaan" dalam bentuk lain: kesehatan. Lewat hobi lari maraton yang ditekuni bersama, Indra seolah ingin mengirim pesan bahwa investasi terbaik bukanlah pada benda mati, melainkan pada raga yang bugar.
Mungkin Indra memang tak memiliki tatapan melankolis khas Rangga yang dipuja para remaja. Namun, dengan etos kerja yang kuat, sikap yang membumi, dan dukungan tanpa syarat bagi karier istrinya, ia telah membuktikan bahwa realitas terkadang jauh lebih manis ketimbang naskah film.


Posting Komentar