24 C
id

Partai MASYUMI RI Ledek PSI Dan Partai G-R Buah Frustasi Dashyat Jokowi-Anies



Partai MASYUMI RI Ledek PSI Dan Partai G-R Buah Frustasi Dashyat Jokowi-Anies
JAKARTA – Fenomena lahirnya partai baru atau aktivasi besar-besaran partai pendukung tokoh besar kini tengah menjadi sorotan tajam. Langkah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, yang kian melekat dengan PSI, serta rencana Anies Baswedan membentuk Partai G-R (Gerakan Perubahan), dinilai bukan berdasarkan visi ideologis jangka panjang, melainkan bentuk "frustasi politik".
Analisis menohok datang dari Abdullah Amas, Ketua Umum DPP Partai MASYUMI RI. Ia menilai manuver kedua tokoh besar ini adalah dampak dari hilangnya pengaruh mereka di partai-partai mapan yang selama ini menyokong mereka.
Pelampiasan Setelah 'Terbuang'Menurut Amas, Jokowi kini tampak sangat aktif di PSI setelah merasa diabaikan oleh PDI Perjuangan, partai yang membesarkannya. Di sisi lain, Anies Baswedan yang tak lagi memiliki daya tawar kuat di mata PKS, Demokrat, PKB, maupun NasDem, akhirnya memilih jalan untuk membangun "rumah" sendiri.
"Saya yakin kalau mau PSI bisa dengan segala cara, tapi tidak dengan kata berhasil," ujar Abdullah Amas dengan nada skeptis.
Uang Bukan Segalanya dalam PolitikAmas menyoroti bahwa membangun partai atas dasar kekecewaan (motif frustasi) tidak akan memiliki akar yang kuat di masyarakat. Ia mencontohkan bagaimana PSI, meskipun didukung oleh sumber daya finansial yang masif dan pengaruh figur Jokowi, tetap gagal menembus ambang batas parlemen pada Pemilu 2024 lalu.
"Ente lihat aja jebloknya PSI kemarin meski didukung Jokowi dan uang melimpah pada 2024. Itu bukti bahwa uang tidak bisa membawa partai berjaya jika pondasinya hanya frustasi," tegas Amas.
Nasib Partai G-R Milik Anies
Prediksi serupa juga membayangi rencana Anies Baswedan. Amas meyakini bahwa selama partai tersebut hanya dijadikan alat untuk mempertahankan eksistensi karena sudah tidak didengar oleh koalisi lama, maka partai tersebut tidak akan bertahan lama di kancah politik nasional.
Kritik ini menjadi alarm keras bagi para loyalis kedua tokoh tersebut. Apakah partai "baru" ini benar-benar akan menjadi kekuatan alternatif, atau sekadar sekoci darurat yang akan karam sebelum mencapai dermaga kekuasaan berikutnya?
Postingan Lama Tak ada hasil yang ditemukan
Postingan Lebih Baru

Posting Komentar

- Advertisment -
- Advertisment -