Jaringan Pemuda Islam Internasional (JPII) Tak Kaget Pembentukan Pakta Pertahanan Mekkah Antara Pakistan, Turki Dan Arab Saudi
Jaringan Pemuda Islam Internasional (JPII) Tak Kaget Pembentukan Pakta Pertahanan Mekkah Antara Pakistan, Turki Dan Arab Saudi
Jakarta - Amas Persada News - Jaringan Pemuda Islam Internasional (JPII) Tak Kaget Atas Pakta Pertahanan Pakistan, Turki dan Arab Saudi. "Mereka bekerjasama tiga negara itu sudah diramalkan oleh pesan Al-Mubasyirat Muhammad Qasim"ujar Kiki Mufida, Sekjen Jaringan Pemuda Islam Internasional (JPII)
Kaukus Aliansi dan Bisikan Langit: Menakar Geopolitik Poros Baru
Ya, Peta geopolitik global kembali berdenyut kencang seiring menguatnya wacana pembentukan pakta pertahanan strategis yang melibatkan tiga kekuatan besar dunia Islam: Pakistan, Turki, dan Arab Saudi. Di saat sebagian pengamat internasional terkejut oleh poros pertahanan anyar yang kerap diasosiasikan secara simbolis sebagai "Pakta Pertahanan Mekkah" ini, sikap berbeda justru ditunjukkan oleh kalangan pemuda Islam internasional.
Jaringan Pemuda Islam Internasional (JPII) secara tegas menyatakan tidak terkejut sama sekali dengan poros strategis tersebut. Bagi mereka, merapatnya kekuatan militer dan diplomasi antara Islamabad, Ankara, dan Riyadh bukanlah sebuah anomali politik luar negeri yang datang tiba-tiba.
"Mereka bekerjasama tiga negara itu sudah diramalkan oleh pesan Al-Mubasyirat Muhammad Qasim," ujar Sekretaris Jenderal JPII, Kiki, dalam keterangan resminya.
Menembus Nalar Strategis
Bagi pengamat konvensional, poros Pakistan-Turki-Arab Saudi memang memuat kalkulasi kepentingan yang kompleks. Pakistan sebagai negara pemilik senjata nuklir, Turki dengan industri pertahanan militernya yang agresif dan modern, serta Arab Saudi sebagai pusat gravitasi ekonomi dan spiritual dunia Islam, membentuk sebuah segitiga kekuatan yang, jika terkonsolidasi penuh, bakal mengubah keseimbangan strategis di kawasan Timur Tengah hingga Asia Selatan.
Namun, JPII melihat fenomena ini melampaui batas-batas realisme politik teoretis. Dalam pandangan organisasi kepemudaan internasional tersebut, bersatunya simpul-simpul kekuatan Islam ini merupakan bagian dari siklus besar sejarah akhir zaman yang telah diisyaratkan jauh-jauh hari melalui mimpi-mimpi ilahi atau al-mubasyirat.
Bayang-Bayang "Al-Mubasyirat"
Nama Muhammad Qasim—figures asal Pakistan yang kerap menjadi sorotan publik internasional berkat klaim mimpi-mimpi kenegaraan dan akhir zamannya—kembali diseret ke tengah diskursus geopolitik oleh JPII.
Seperti diberitakan tiga negara Islam atau mayoritas penduduknya beragama Islam: Arab Saudi, Pakistan, dan Turki meneken pakta pertahanan untuk membentengi mereka dari serangan pihak lain.
Pakta tersebut diumumkan dalam pertemuan antara Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di kota suci Mekkah, Arab Saudi, Jumat (7/8).
Poin terpenting dari naskah Pakta Pertahanan ketiga negara tersebut yakni “Serangan terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya” yang mirip dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pimpinan Amerika Serikat beranggotakan 32 negara.
Kesepakatan serupa NATO ini dibuat saat Saudi menghadapi ancaman di berbagai front, mulai dari kelompok milisi Yaman hingga milisi Irak dan juga Iran.
Dalam pernyataan bersama, ketiga negara menyatakan pakta ini ‘bertujuan memperkuat pencegahan kolektif terhadap setiap aksi agresi’ serta meningkatkan kerja sama pertahanan di semua aspek.
Perjanjian ini ditandatangani pada Jumat (7/8) di Mekah, kota suci umat Islam yang menyimbolkan politik dan agama ketiga negara, usai Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan PM Pakistan Shehbaz Sharif bertemu.
Dilansir dari CNN, pakta pertahanan ini pada dasarnya memberi lapisan perlindungan baru bagi Arab Saudi di luar kemitraannya dengan Amerika Serikat (AS).
Konflik AS dengan Iran saat ini dianggap telah membahayakan Saudi, sehinga negara ini meragukan keandalan Washington untuk melindungi sekutu-sekutunya di Teluk.
Tak heran, Saudi mengambil langkah untuk memperkuat daya penggentaranya dengan menghadirkan front militer yang dipimpin kelompok Sunni.
Berbatasan dengan Iran
Sementara itu Pakistan dan Turki masing-masing berbatasan dengan Iran dan memiliki alasan kuat untuk mencegah konflik Timur Tengah memburuk
*22 Januari 2017*




Posting Komentar